Pangkalan Jual Elpiji di Atas HET, Disperdagin Lakukan Sidak

Kabid Perdagangan, Disperdagin Kota Tanjungpinang, Desy Afriyanti. (ricobarino/haluankepri.com)

Kabid Perdagangan, Disperdagin Kota Tanjungpinang, Desy Afriyanti. (ricobarino/haluankepri.com)

TANJUNGPINANG (HK) – Pasca lebaran, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kota Tanjungpinang melakukan sidak ke delapan pangkalan elpiji, yang dilaporkan menjual elpiji subsidi atau tabung gas 3 Kg di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai ditetapkan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang.

“Hari ini kita sidak ke-8 pangkalan atas laporan masyarakat. Mereka diduga menjual gas 3 Kg diatas HET. Sidak ini untuk memastikan laporan tersebut, karena mengambil kesempatan pada saat masyarakat membutuhkan itu kita imbau bukan prilaku yang baik,” ungkap Kepala Bidang Perdagangan, Disperdagin Kota Tanjungpinang, Desy Afriyanti, dijumpai di Pasar Bintan Centre, Selasa (11/6/2019).

Dikatakannya, laporan tersebut diterima sebelum Idul Fitri kemarin. Dikatakannya, ada yang menjual Rp22.000 hingga Rp27.000. Sedangkan HET Rp18.000, untuk Pulau Penyengat Rp20.000.

“Masyarakat melaporkan ke kami, kini kita tindaklanjuti laporan tersebut. Apabila kedapatan dan benar laporan tersebut, tentunya sanksi yang diberikan kepada panggakalan berupa merekomendasikan kepada agen untuk pengurangan kuota gas elpiji. Hingga sanksi seberat-beratnya pencabutan izin,” ujar Desy.

Diakui Desy, pada H-1 lebaran memang terjadi gejolak peningkatan kebutuhan masyarakat untuk gas elpiji tersebut. Namun kini, kata Desy sudah kembali normal, kebutuhan masyarakat sudah terpenuhi dan pengkalan juga sudah di suplay secara normal.

“Jauh hari sebelum puasa dan jelang lebaran kemarin kita sudah menyurati Pertamina untuk menjamin pendistribusian pasokan gas elpiji dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Serta Tanjungpinang juga mendapatkan tambahan 3 LO, yakni sebanyak 1.680 tabung dari Pertamina,” jelas Desy.

Namun tetap terjadi gejolak, itu karena ada keterlambatan pendistribusian dari SPBE Tanjung Uban (Bintan) ke Tanjungpinang. Diketahui, lanjut Desy selain Tanjungpinang SPBE Tanjung Uban juga melayani Kabupaten Bintan dan Kabupaten Karimun sehingga terjadi antrian panjang terhadap transportir yang mengisi ulang gas elpiji 3 kg. Dan terjadi keterlambatan ke Tanjungpinang untuk didistribusikan.

“Namun saat itu kita tetap berkoordinasi ke setiap pangkalan untuk di suplay terus hingga tengah malam. Sehingga masyarakat yang membutuhkan bisa mendatangi SPBU-SPBU. Selain itu kita juga berharap kedepannya untuk pengaktifan SPBE di Sei Carang, Kota Tanjungpinang itu merupakan salah satu solusi pada saat peningkatan kebutuhan tersebut,” ujar Desy.

Sementara itu, Desy juga menjelaskan terkait sempat beredar informasi tentang praktik yang diduga bentuk kecurangan penjualan tabung gas elpiji 3 kg, dengan modus menambahkan lempengan besi untuk menambah berat.

“Sekedar informasi saja, kalau menemukan tabung gas dan ada lempengan besi itu resmi dari Pertamina. Namun tabung yang diberi plat besi itu merupakan tabung gas yang sudah lama atau sudah ‘haus’. Sehingga berat aslinya 5kg berkurang. Jadi untuk takaran teranya tepat maka dikasih plat supaya ukurannya tetap 5kg untuk ukuran tabung kosong,” jelas Desy.

Dikatakan Desy, apabila masyarakat ragu atas berat gas elpiji juga bisa melakukan timbangan langsung di pangkalan-pangkalan yang wajib menyediakan timbangan. Agar masyaralat mendapatkan gas sesuai dengan ukuran yang tepat.

“Tapi kalau ada temuan tabung baru yang berplat, segera laporkan disetiap pangkalan ada call center Pertamina dan pemko silahkan hubungi atau lapor langsung ke Disperindag. Dan akan kami tindak lanjuti,” pungkasnya. (rco)

(Visited 15 times, 1 visits today)