Diduga Langgar UU Pelayaran, Nakhoda MT Bliss Disidang

JPU lagi menerangkan kepada terdakwa Min Zaw Oo, nakhoda kapal MT Bliss didampingi penasehat hukumnya tentang proses persidangan perkara tersebut, Rabu (12/6). (asfanel/haluankepri.com)

JPU lagi menerangkan kepada terdakwa Min Zaw Oo, nakhoda kapal MT Bliss didampingi penasehat hukumnya tentang proses persidangan perkara tersebut, Rabu (12/6). (asfanel/haluankepri.com)

TANJUNGPINANG (HK)- Min Zaw Oo, Warga Negara (WN) Myanmar, Nakhoda kapal MT Bliss berbendera Singapura disidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Rabu (12/6) atas dugaan tindak pidana pelanggaran UU tentang Pelayaran,

Sidang perkara tersebut dipimpin majelis hakim Admiral SH MH, didampingi dua hakim anggota, Santonius Tambunan, SH, MH dan Acep Sopian Sauri, SH MH, sedianya mendegarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Rasab Lubis SH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri.

Namun, hal itu batal dilakukan, setelah JPU tidak bisa menghadirkan juru penerjemah bahasa yang dikuasai terdakwa Min Zaw Oo dalam persidangan. Akibatnya, sidang terpaksa ditunda pada, Kamis 20 Juni 2019 mendatang.

“Sidang kali ini sedianya pembacaan dakwaan. Namun JPU belum siap menghadirkan juru penerjemah bahasa yang telah disiapkan dari Kota Batam, sehingga sidang terpaksa ditunda pada Kamis depan,” ucap Santonius Tambunan, SH, MH, Humas PN Tanjungpinang yang juga salah seorang anggota majelis hakim yang menyidangkan perkara ini, ditemui usai sidang.

Disinggung tentang keberadaan kapal MT Bliss sebagai barang bukti yang sebelumnya diamankan TNI Angkatan Laut di perairan utara Tanjung Berakit, Pulau Bintan pada posisi 01º 25,54’ U -104º 35,72’ T, wilayah perairan Indonesia, Santonius menyebutkan, bahwa barang bukti tersebut saat ini masih berada di kawasan pelabuhan TNI AL di Tanjung Uban, Bintan.

“Barang bukti kapal MT Bliss tersebut masih berada di kawasan Pelabuhan TNI AL di Bintan. Ada kemungkinan kita akan melakukan sidang Pemeriksaan Setempat (PS) untuk melihat kondisi kapal itu nantinya,” ujar Santonius.

Disinggung tentang warga negara terdakwa Min Zaw Oo sendiri, Santonius menuturkan, bahwa terdakwa merupakan WN Myanmar sebagai nakhoda kapal MT Bliss, berbendera Singapura tersebut berangkat dari pelabuhan Singapura dengan tujuan High Seas.

Kemudian pada 2 Februarui 2019, sebelum kembali lagi Singapura utuk memuat cargo di Singapura, kapal yang dinahkodai terdakwa Min Zaw Oo melakukan lego jangkar selama 7 hari pada posisi 01º 25,54’ U -104º 35,72’ T di perairan timur Tanjung Berakit Pulau Bintan Kepri.

Lego jangkar kapal berbendera Singapura tersebut atas perintah dari pemilik kapal MT Bliss yakni perusahaan Asia Pasific Oil Pte. Ltd yang beralamat di 96 Robinson Road 11-01 di Singapura kepada terdakwa Min Zaw Oo.Pada hal kapal dalam kondisi atau keadaan baik dan laik Laut. Semestinya kapal tersebut berlayar dilintas damai dan melintas harus terus menerus, langsung serta secepat mungkin.

Selanjutnya, Sabtu 9 Februari 2019 saat kapal MT Bliss tersebut lego jangkar, didapati oleh anggota TNI AL saat patroli jaga siang di KRI Bung Tomo-357, sedang melaksanakan lego jangkar di perairan teritorial Indonesia di posisi 01º 25,54’ U -104º 35,72’ T.

Mendapati hal itu, dua anggota TNI AL yang bertugas, melaporkan kepada komandan KRI Bung Tomo-357 melalui perwira jaga, dan Komandan KRI Bung Tomo-357 memerintahkan peran pemeriksaan dan penggeledahan terhadap kapal yang terlihat tersebut.

Selanjutnya kapal KRI Bung Tomo-357 mendekati dan mengindentifikasi serta mengkontak kapal dengan menggunakan radar. Pada saat didekati diketahui bahwa kapal tersebut bernama MT Bliss berbendera Singapura yang sedang lego jangkar, kemudian kapal KRI Bung Tomo-357 mendekati dan merapat dilambung kapal ini.

Kemudian dilakukan pemeriksaan baik muatan maupun dokumen pada posisi 01º 25,54’ U -104º 35,72’ T, berada di perairan laut teritorial Indonesia posisi kapal pada 1,0 Mill ke dalam dari batas teritorial di ukur dari pangkal Tanjung Berakit Pulau Bintan ke Laut berada pada 11,0 Mill posisi tersebut masih dalam wilayah laut Perairan Teritorial Indonesia
Hal itu sesuai peta laut nomor 352 yang dikeluarkan oleh Dinas Hidrografi TNI AL tidak memliki Surat Peretujuan Berlayar (SPB) dari pihak yang berhak yaitu syahbandar tanjung uban.

Perbuatan terdakwa diduga telah melanggar sebagaimana ketentuan pidana dalam Pasal 323 ayat (1) Jo Pasal 219 ayat (1) Jo Pasal 317 Jo Pasal 193 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. (nel)