by

Istri Presiden Pertama Singapura Akui Suami Keturunan Minangkabau

SINGAPURA (HK)- Kendati usianya sudah memasuki 86 tahun, Toh Puan Noor Aishah yang merupakan isteri dari Yusof bin Ishak, yaitu presiden pertama Singapura, masih kelihatan sehat dan kuat.

Intonasi bicaranya yang kental dengan logat Melayu itu, juga masih terdengar jelas. Begitu juga dengan pendengarannya, masih bisa berkomunikasi dan mencerna pertanyaaan lawan bicaranya dengan baik.

“Alhamdulilah, kite mesti bersyukur masih diberi nikmat kesehatan oleh Allah SWT. Anugerah yang diberikan Allah SWT sangat tak terkire,” ujar Toh Puan Noor Aishah, menjawab pertanyaan perihal kesehatannya saat dijumpai haluankepri.com di Singapura belum lama ini.

Pada kesempatan itu, perempuan yang telah dikarunia tiga orang anak, buah perkawinannya dengan Yusof bin Ishak itu, mengakui bahwa almarhum suaminya memiliki darah Indonesia dari kedua orangtuanya.

“Ye, almarhum memiliki darah Indonesia, tepatnya Minangkabau, tapi lahir dan besak kat sini,” terangnya.

Perempuan kelahiran Pulau Pinang, Malaysia ini menuturkan, sejak bersuamikan Yusof bin Ishak, dirinya pernah satu kali pergi ke tanah leluhur sang suami, tepatnya Kota Bukittinggi. Namun dia sudah tidak ingat lagi tahun berapa mengunjungi bumi Minang tersebut.

“Pernah satu kali ke Minangkabau, kalau tak silap ke Bukittinggi. Kapannye, dah tak ingat lagi. Satu kali pernah juge ke Jakarta,” Ujar Toh Puan Noor Aishah bernostalgia.

Sebagai warga Indonesia, tentunya kita bangga, bahwa putra berdarah Indonesia memiliki peran besar di negara lain, seperti Yusof bin Ishak. Yusof bin Ishak adalah pria kelahiran 12 Agustus 1910 Padang Gajah, Trong, Perak, Singapura. Ia adalah Presiden pertama di Singapura semenjak Negeri Singa itu berubah menjadi republik, pada 9 Agustus 1965.

Ia berhasil menjabat sebagai kepala negara setelah People’s Action Party (PAP) memenangkan pemilihan umum pertama pada 30 Mei 1959. Dia menggantikan Yang di Pertuan Negara pertama dan Gubernur Singapura, William Goode.

Leluhurnya adalah seorang bangsawan Minangkabau, Datok Jonathan.
Namun kemudian pada 1789, leluhurnya bersama dengan adik laki-lakinya, Datok Setia dan 80 orang pengikutnya bermigrasi ke Kedah.

Yusof adalah anak tertua dari sembilan anak dan ayahnya adalah Ishak bin Ahmad. Sebagai orang terdidik, Ishak menemukan pekerjaan di Malayan Administrative Service dan menjabat sebagai pegawai di kantor Kecamatan di Taiping dan kemudian di Departemen Perikanan.

Pada 1923, Yusof kemudian dipindahkan ke Singapura untuk menjabat posisi asisten inspektur perikanan. Dia adalah orang pertama non-Eropa yang menjadi Direktur Departemen Perikanan.

Beliau meninggal saat masih berstatus sebagai Presiden Singapura periode ketiganya pada 23 November 1970. Ia meninggal akibat gagal jantung. Jasadnya dikebumikan di pemakaman wilayah Kranji.

Untuk menghargai jasa-jasa Yousuf, Singapura pun mengabadikan namanya dalam tiga tempat. Pertama, sebuah masjid baru di Woodlands akan dinamai Masjid Yusof Ishak. Kedua, Institut Kajian Asia Tenggara di National University of Singapore (NUS) saat ini dikenal dengan nama Iseas (the Yusuf Ishak Institute).

Ketiga, NUS mencanangkan program pendanaan dan penganugerahan gelar profesor dalam bidang ilmu sosial dengan nama Yusof Ishak Professorship. Peneliti yang berhak mendapatkan faedah dari program ini adalah mereka yang seperti, Ishak, memiliki minat penelitian dalam kajian multi-etnis dan multi-kulturalisme.

Sebagai presiden pertama, wajahnya juga tak asing lagi. Muncul di uang kertas Dolar Singapura dalam berbagai nilai. Pernah dalam pecahan 2, 5, 10, 20, 50, 1.000 dan 10.000 dolar Singapura.(san/net)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed