PT TAB Diduga Langgar Aturan Ekspor Bauksit ke Cina

INILAH aktifitas salah satu tambang bouksit di Pulau Belat Karimun yang diduga lokasi dari PT TAB.Foto:Hengky Jaipong/Haluan Kepri

KARIMUN (HK) – PT Tanjung Air Berani (PT TAB) pemilik izin ekspor produk pertambangan dengan kriteria tertentu jenis bouksit di Kabupaten Karimun bermasalah karena diduga melanggar peraturan.

Pemilik Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) Khusus Pengangkutan dan Penjualan bouksit ke Cina sesuai SK Gubernur Kepulauan Riau No.834/KPTS-IV/2017 tanggal 20 April 2017 itu diduga telah melakukan pelanggaran ekspor hasil produksi dari luar wilayah IUP OP mereka sendiri.

“Sesuai aturan PT TAB hanya diperbolehkan untuk eskpor hanya berasal dari penambangan PT TAB dan tidak dapat dialihkan ke pihak lain. Diduga kuat mereka telah melakukan pelanggaran penting ini,” beber Jhon Saputra, Ketua LSM Kiprah di Hotel Aston Karimun, Kamis (20/6).

Jhon Saputra yang telah mengantongi sejumlah bukti berupa dokumen PT TAB dengan tegas menyampaikan, seharusnya PT TAB tidak boleh ada melakukan kegiatan ekspor selain dari hasil produksi milik mereka sendiri sesuai dengan izin persetujuan eskpor yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri No.03.PE-08.18.0027 tanggal 30 Oktober 2018 yang ditandatangani Oke Nurwan, selaku Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri.

Hal itu juga sesuai dengan rekomendasi dari Direktorat Jenderal Minerba dan Batubara Kementrian ESDM RI kepada Menteri Perdagangan No.1773/30.01/DJB/2018 tanggal 26 Oktober 2018 yang ditandatangani Ir.Bambang Gator Iriono selaku Dirjen Minerba Kementrian ESDM RI.

“Ironisnya lagi yang jadi masalah dari data yang kami himpun PT TAB belum ada produksi sama sekali bahkan belum ada pembelian lahan produksi. Disinyalir mereka telah melakuan ekspor diluar dari hasil produksi milik mereka sendiri dan pastinya telah terjadi konspirasi pihak terkait yang melibatkan pihak tertentu,” ucap Jhon.

Jhon juga menyampaikan pemberian izin ekspor ini berdasarkan sejumlah dokumen yang menegaskan kalau PT TAB sudah produksi dan dalam proses pembuatan smelter tetapi pada realitanya itu sama sekali tidak ada alias nihil.

“Silahkan sama-sama di chek perihal ini. Diduga kuat telah terjadi pelanggaran administrasi dan terstruktur serta melibatkan lintas instansi dan aparat berwenang dan penegak hukum. Aturan mestinya harus ditegakan dan aparat jangan tutup mata,” jelas Jhon.
Sementara dari informasi dihimpun dari dari rekomendasi persetujuan ekspor produk pertambangan dengan kriteria tertentu PT TAB menyebutkan ada 7 point penting yang mesti dipatuhi oleh PT RAB untuk ekport bouksit ke Cina yakni diantaranya persetujuan ekport berlaku satu tahun sejak tanggall diterbitkan sampai dengan tanggal 26 Oktober 2019, dan ekspor hanya diperbolehkan berasal dari penambangan PT TAB

PT TAB hanya disetujui untuk melakukan ekspor bouksit ke Cina berupa Washed Bouxite dengan kadar >= 42 % AL203 dengan pos tarif ex 2606.00.00 dengan jumlah 460.000 (empat ratus enam puluh ribu) wet ton tujuan Cina dari pelabuhan Tanjung Balai Karimun Provinsi Kepri.
Selanjutnya pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Mentri Perdagangan No01/M-DAG/PER/1/2017 tanggal 16 Januari 2017 tentang ketentuan Ekspor Produk Pertambangan Hasil Pengolahan dan Pemurnian dapat dikenakan sanksi pembekuan dan/atau pencabutan persetujuan ekspor.

Selanjutnya PT TAB bertanggung jawab terhadap segala akibat hukum yang timbul disebabkan oleh perbuatan, tindakan, pelanggaran baik yang disengaja atau tidak disengaja, dan kelalaian yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku atas esport produk pertambangan denga kriteria tertentu yang dilakukan.(hhp)

(Visited 530 times, 1 visits today)