Melawan Kecanduan Gadget dengan APE

Zaid, ST

Zaid, ST

Oleh: Zaid, ST, Pranata Humas Kantor Kemenag Lingga

Teknologi informasi terus berkembang seiring berjalannya waktu. Kemajuan teknologi itu juga beriringan dengan hadirnya perangkat multimedia yang super canggih. Smartphone alias gadget salah satunya. Produk ini sangat digandrungi semua kalangan. Berbagai fitur disuguhkan untuk pengguna dengan harga yang bervariasi. Berbagai produk gadget ternama dikeluarkan oleh pabrikannya untuk meraih dan memikat hati calon konsumen.

Kondisi hari ini, semua ruang dan waktu diisi dan dikuasai oleh teknologi. Hampir tak ada ruang hampa di bumi ini. Keriuhan jagat raya yang dipenuhi dan disesaki dengan pelbagai aplikasi yang siap digunakan, sebut saja aplikasi medsos IG,FB,WA, game online yang disenangi semua kalangan.

Kemudahan dalam penggunaan aplikasi media sosial ditambah dengan adanya fitur pencarian pertemanan menambah keasikan mengutak-atik layar HP. Itu baru di aplikasi media sosial, belum lagi munculnya game online dengan berbagai jenis kategori permainan.

Game online membuat para penikmatnya seakan merasa waktu yang dilewati terlalu singkat. Ada perasaan ingin menambah waktu karena kekurangan waktu bermainnya. Adrenalinnya terus terstimulan untuk bersaing dengan lawan main.

Saat ini, sangat banyak anak yang kecanduan gadget. Berbagai sumber menyebutkan, anak yang sudah mengalami kecanduan terhadap gadget memiliki ciri-ciri seperti berikut, diantaranya, sulit merespon panggilan, suka menyendiri di dalam ruangan, malas bermain dan melakukan aktifitas fisik, sulit untuk makan dan minum, makan dan minum minta selalu disediakan (tidak mandiri) di dalam ruangan, lupa waktu, hilang semangat belajar. Dan yang paling berat adalah tingkat ego naik drastis.

Dalam kondisi seperti ini, peran orang tua dan orang-orang terdekat sangatlah penting. Perhatian dan kasih sayang dari lingkungan juga sangat menentukan.

Ketika berada pada fase ketergantungan, anak-anak akan sulit diajak berkomunikasi. Hal ini dikarenakan mereka sudah menganggap gadget adalah sahabatnya yang paling akrab dan dekat. Gadget adalah pengisi waktu, gadget adalah tempat meluahkan hobi mereka.

Apalagi kalau HP, TV disediakan di kamar mereka masing-masing. Sebagian orang tua cenderung ingin anaknya selalu bermain dengan pakaian yang selalu bersih dari pagi hingga sore, tidak diizinkan bergaul dengan teman sebaya di lingkungan sekitar.

Akhirnya makan di kamar, semua aktivitasnya dilakukan di kamar. Emosi mereka masuk ke dalam game online yang mereka mainkan. Pilihan game yang menjadi favorit mereka adalah perang-perangan. Tentu kondisi kejiwaan dan emosi mereka terbawa dalam kondisi kekerasan dan tak mau kalah. Ini menyebabkan anak-anak bahkan remaja menjadi generasi egoistik.

Konten disajikan oleh media yang menjadi penghibur tentunya sulit dikendalikan. Para penyedia dan produsen game online terus berkembang dan bersaing. Karena ini memang ladang bisnis yang renyah. Segmennya jelas dan untung yang mereka raih juga jelas.

Melihat hal itu, sangat wajar jika game online adalah bisnis yang paling menggiurkan di era milenial. Infrastruktur jaringan internet sudah semakin hebat.

Hampir setiap detik muncul game-game baru. Mereka yang hobi berpetualang game selalu haus mencari petualangan baru. Sejatinya mereka sudah terjebak pada petualangan semu tanpa ada setetes keringat pun yang keluar dari tubuh. Karena mereka berperualang dengan jari jemari yang lentik.

Memang banyak tulisan tentang tips dan trik mengendalikan konten media bagi anak. Namun tetap perlu pengawasan dari orang tua maupun orang terdekat untuk terlibat secara langsung.

Benar apa yang disampaikan oleh Raja Ali Haji dalam Gurindam Dua Belasnya: //”Apabila anak tidak dilatih
Sudah besar Bapaknya letih”//

Maksud Gurindam di atas adalah anak harus kita ajak untuk paham dan tanggap terhadap lingkungan sekitar. Kita pupuk sejak dari kecil tentang pentingnya hidup bermasyarakat. Menjawab persoalan dimasyarakat secara bergotong royong.

Keterkaitan dan keterikatan jaringan teknologi akan semakin menambah laju arus penetrasi informasi.

Disinilah peran orang tua dimulai. Diawali dengan mengatur jam bermain, lalu memfilter konten yang ada di gadget. Kemudian memberikan pemahaman kepada anak dengan pendekatan kasih sayang.

Perhatian yang lebih kepada anak dalam bentuk keluasan waktu untuk selalu main bersama. Melakukan aktifitas di luar rumah. Meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebaya, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-abak untuk bergaul di lingkungan sekitar rumah, namun tetap dalam pengawasan.

Orang tua harus cerdas merekayasa keadaan. Selama ini, mereka sudah tersandera dan terpasung oleh kecanduan gadget harus disergah untuk dialihkan perhatiannya secara perlahan-lahan. Perlu terapi ruhani untuk memutuskan ketergantungan dan kecanduan si anak.

Salah satunya adalah dengan memanfaatkan Alat Permainan Edukatif (APE). Orang tua bisa membelikan mainan yang ramah lingkungan dan tidak membahayakan si anak. Si anak bisa bermain bersama dengan teman sebayanya. Ada aktifitas fisik di situ. Sehingga keluar keringat dan akan menjadi sehat.

Saat ini, banyak beredar di pasaran Alat Permainan Edukatif yang bisa merangsang tumbuh kembang neuron sensorik dan motorik anak. Selain dengan cara membeli di pasaran, APE juga bisa didapat dengan cara membuat sendiri memanfaatkan bahan dari alam, seperti batu, pasir, daun kering, kayu, biji-bijian, serta bambu.

Melalui sentuhan kreatif dari bahan-bahan murah dan mudah didapatkan tadi bisa dibuatkan kapal, congklak, penghitung, aneka bentuk hewan,dsb.

Orang tua harus mengarahkan si anak dengan memberikan contoh-contoh bentuk ragam aneka APE yang ingin dibuat. Sudah banyak tersedia tutorial pembuatan APE di internet, tinggal orangtua saja lagi, mau atau tidak.

Dampak positifnya jika menggunakan bahan alam respon anak terhadap lingkungan akan semakin baik. Biarkan anak bereksplorasi dengan bahan-bahan alam tersebut. Akhirnya, ayah bunda akan mudah untuk membangun komunikasi dengan anak. Keresahan dan kerisauan yang dialami selama ini akan dapat diatasi.

Memang tidak mudah menjawab hal ini, terpenting adalah orang tua berani memulai dan komit dengan semangat awal kita, yaitu mengatasi kecanduan anak terhadap gadget.

Tidak bijak kalau kita mengetatkan aturan bahwa anak-anak tidak boleh main gadget sama sekali. Nanti dikhawatirkan mereka akan gagap teknologi (gaptek).

Tinggal orang tua saja mengatur dan membagikan waktu dengan bijak. Memberikan jadwal bermain dan selalu memberikan pujian sebagai bentuk reward atas kepatuhannya menjalankan jadwal bermain yang sudah disepakati antara orangtua dan anak.

Karena terbiasa menggunakan APE, jiwa anak-anak akan terlatih, jaringan sarafnya akan terbangun sempurna. Sehingga dapat dipastikan anak akan mudah untuk diajak berkomunikasi.

Orang tua harus memberikan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari biasanya. Orang tua tidak boleh ego dengan kebiasaannya bermain gadget dan menghabiskan waktu senggangnya hanya duduk di kedai kopi.

Meskipun lelah bekerja mencari penghidupan, tetaplah berikan waktu untuk bermain bersama anak dan berikan alat permainan yang tepat sesuai usia si anak. Wallahu a’lam bish-shawabi. ***

(Visited 136 times, 1 visits today)