Biaya Pengobatan Penderita Tumor Otak Ditanggung RSUD Karimun

KABID Dokkes Polda Kepri Kombes C Susilo bersama Kapolres dan Direktur RSUD M Sani, dr Zulhadi mengunjungi pasien tumor otak yang dirawat di ruangan 510 RSUD M Sani, Ahad (30/6). foto:Ilham/Haluan Kepri

KARIMUN (HK)-Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Sani membebaskan seluruh biaya pengobatan tumor otak bagi pasien Elandra Dwiguna (23).
Selama perawatan di RSUD M Sani, biaya pasien ditanggung melalui Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Saat ini, Elandra masih dirawat
di ruang 510 lantai 5 RSUD M Sani.

“Pasien dirawat satu bulan untuk perbaikan kondisi umum. Untuk operasi tumor otaknya tersebut harus dilaksanakan di Rumah Sakit
Otorita Batam. Jadi sekarang kita perbaiki kembali kondisi umumnya, karena kemaren pasien minta pulang dulu seminggu untuk
mempersiapkan diri untuk dirujuk ke Batam,” ungkap Direktur RSUD M Sani, dr Zulhadi, Ahad (30/6).

Kata Zulhadi, pasien dirawat sebalam sebulan dengan status pasien umum. Dia pertama kali masuk pada 24 Mai dan pulang pada 23 Juni
2019. Keluarga pasien kemudian menunggu selama satu minggu sebeluk dirujuk ke Batam. Saat selama di rumah itulah tiba-tiba beredar
informasi kalau orang tuanya hendak menjual ginjal untuk biaya pengobatan anaknya.

“Saat awal masuk ke rumah sakit, pasien masuk dengan status umum. Namun, karena pasien berasal dari keluarga kurang mampu, maka kami
segera meminta keluarga untuk mengurus surat keterangan tidak mampu. Jadi tidak ada biaya yang timbul sampai beliau pulang saat
dirawat selama satu bulan itu,” terangnya.

Zulhadi menyebut, dirinya tidak mengetahui inisiatif dari orang tua pasien sampai harus berniat menjual ginjal. Padahal, seluruh
biaya berobat sudah ditanggung pihak rumah sakit. Dia memprediksi, kemungkinan orang tua pasien membayangkan biaya operasi yang sangat
besar, sehingga muncul fikiran untuk menjual ginjal.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun Rachmadi yang turut hadir dalam kesempatan itu menjelaskan, pasien memang samsuk
ke RSUD M Sani terdaftar sebagai pasien umum. Kemudian, setelah melihat pasien berasal dari keluarga kurang mampu, maka diminta segera
mengurus surat keterangan tidak mampu.

“Awalnya, pasien status umum, sekarang dalam pengurusan BPJS oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun. Begitu juga biaya akomodasi,
transportasi bahkan sampai makan satu orang pendamping pasien dalam hal ini pihak keluarga juga ditanggung oleh pemerintah yang
dialokasikan melalui APBD Karimun,” ungkap Rachmadi.

Kata Rachmadi, pemerintah juga menjamin biaya selama pasien menjalani perawatan di rumah sakit rujukan. Biaya yang ditanggung itu
mulai transportasi, biaya makan dan biaya makan ditanggung pemerintah. Biaya itu masuk dalam APBD Karimun yang dialokasikan melalui
pembiayaan masyarakat tidak mampu.

Orang tua Elandra, Eli Kristianto sebelumnya tidak mengetahui kalau biaya pengobatan pengobatan anaknya itu sudah ditanggung oleh
pihak rumah sakit. Dia mengira, biaya pengobatan anaknya selama satu bulan sebesar Rp14 juta itu harus ditebus. Karena tak ada uang,
dia kemudian berencana menjual ginjalnya.

Eli Kristianto kemudian ‘menjajakan’ dirinya di depan khalayak ramai, Sabtu (30/6), tepatnya di parkiran pelabuhan Tanjungbalai atau
persis di depan rumah dinas Bupati Karimun, sambil memajang poster dengan tulisan “Jual ginjal. Saya jual ginjal saya untuk pengobatan
anak saya. Sakit tumor otak,”.

Apa yang dilakukan warga Teluk Air, RT 06 RW 01, Kelurahan Teluk Air, Kecamatan Karimun itu tentu saja memantik reaksi orang banyak.
Banyak warga yang penasaran dengan ulah pria kelahiran Ujung Pandang itu. Aksi yang dilakukan Eli kemudian diangkat ke media dan
menjadi viral di media sosial.

“Saya terpaksa menjual ginjal saya, untuk biaya pengobatan anak saya yang menderita tumor otak. Dia dirawat di RSUD. Saya hanya bisa
pasrah untuk menjual ginjal ini semata-mata untuk kesembuhan anak saya. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan selama ini sangat
besar, sampai Rp14 juta,” ujar Eli Kristianto.

Hanya selang beberapa saat kemudian, Eli kembali membawa anaknya ke RSUD M Sani. Pasien kemudian ditangani lagi di IGD. Setelah
mendapatkan penanganan oleh dokter IGD, pasien kembali menjalani perawatan umum di lantai 5 RSUD, tepatnya di ruangan 510. Pasien
sempat dikunjungi Kabid Dokkes Polda Kepri, Kombes dr C Susilo dan Kapolres Karimun AKBP Hengky Pramudya. (ham)

(Visited 244 times, 1 visits today)