Karyawan Khawatir Hak Mereka Tak Dipenuhi #Tanggal 30 Juli PT Unisem Resmi Ditutup

BATAM (HK) – Rencana ditutupnya PT Unisem di Batamindo, Muka Kuning, Sei Beduk, Pulau Batam, membuat ribuan karyawan khawatir hak-haknya tak dibayarkan. Mereka juga mulai bingung kemana lagi harus menggantung hidup.

Sementara di Kota Batam mulai susah mencari pekerjaan. Apalagi, mereka sudah berusia tua, dan tak bisa mencari pekerjaan di perusahaan elektronik.

“Iya was-was juga lah mas. Apalagi seumuran kami yang sudah tua ini. Dan tak mungkin lagi diterima di perusahaan elektronik. Tapi untuk info terakhirnya yang kami dapat bahwa perusahaan ini tutup total pada tanggal 30 September ini. Kami pun masih bingung apakah hak-hak kami dibayar atau gak,” kata Devi Yanti, salah satu karyawan PT Unisem tersebut, Minggu (30/6) siang.

Masih kata perempuan yang bekerja kurang lebih 20 tahun itu jika alasanya pihak perusahaan merugi, ia pun kurang tahu. Yang jelas selama ini ia hanya bekerja saja.

“Iya karna kami sebagai pekerja, ya otomatis kami pikirkan kerja saja. Yang disampaikan pihak perusahaan merugi terus menerus kami tak tahu soal itu. Tapi berharap hak-hak kami janganlah dilupakan atau tak dibayar,” pintanya.

Diketahui, PT Astra Microtonic yang berganti nama menjadi PT Unisem sudah 28 tahun mengembangkan sayap di Pulau Batam.

Perusahaan penyedia layanan dan perakitan dan pengujian Semi Konduktor itu berdiri sejak tahun 1991 ini dinyatakan tutup setelah surat edaran terbuka dilampirkan oleh presdir PT Unisem kepada para karyawannya.

Surat edaran yang terbuka itu diberitahukan oleh Mike Mc Kereghan, selaku Presdir Direktur PT Unisem saat para pekerjanya masih bekerja sebagaimana mestinya masih bekerja.

Bahkan, surat terbuka disampaikan kepada para pekerjanya. Isi pernyataan itu dimana perusahaan tak mampu lagi melanjutkan produksinya kembali.

Sebab situasi bisnis yang terus menerus menyulitkan pihak perusahaan untuk berkembang seperti yang disampaikan Presdir Direktur tersebut. Karena itu, dewan Direksi PT Unisem dan Unisem BHD memutuskan untuk menghentikan operasional perusahaan yang diterbitkan pada 28 Juni silam.

Penurunan pendapatan perusahaan ini telah berlangsung sejak 2011, meski pada beberapa tahun lalu sempat mengalami pertumbuhan dan ekspansi yang luar biasa, namun pada saat ini pihak perusahaan harus menghadapi kondisi yang sulit. Dimana harga pasar sudah mulai memburuk dan operasional semakin tinggi.

Dengan tingginya biaya operasional, maka keputusan (tutup) menjadi jalan keluar. Namun pada masa transisi ini pihak perusahaan meminta kepada seluruh pekerjanya agar bekerja sebagaimana mestinya. Hal tersebut untuk mengerjakan material yang saat ini telah dipercayakan oleh pihak perusahaan.

Rencana penutupan operasi ini disampaikan induk perusahaan tersebut, Unisem (M) Bhd yang berkedudukan di Malaysia. Bahkan, untuk mengurangi operasi sebelum menutup fasilitas di PT Unisem efektif 30 September 2019 mendatang.

Diketahui juga bahwa pabrik Unisem di Batam adalah fasilitas satu pintu, yang menyediakan probe wafer, backgrinding wafer, pengemasan perakitan, tes akhir, dan drop shipment.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) kota Batam, Rudi Syakiriti membenarkan pernyataan yang disampaikan pihak perusahan tersebut. Akan tetapi masih menunggu kepastian dari mereka apa alasan mereka berhenti beroperasi.

“Untuk kapan terakhir kerja memang mereka belum memberitahu. Tetapi mereka sudah sosialisasikan perusahaan akan tutup kepada karyawan. Perusahaan berhenti beroperasi dengan alasan merugi terus, akibat orderannya tidak sesuai dengan pengeluaran,” ujar Rudi.

Katanya, memang kita sudah bertemu langsung dengan pihak manajemen perusahaan elektronik ini. Mereka juga menjelaskan agar memberikan hak karyawan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Karna perusahaan ini memperkerjakan sebanyak 1505 karyawan.

“Kejelasannya, yang kontrak akan habis kontrak. Kemudian yang permanen akan dibayar sesuai dengan ketentuan. Nah ketentuan yang seperti apa kita kurang tahu juga,” katanya.

“Perusahaan ini hanya ada di Muka Kuning saja. Jumlah karyawan yang kontraknya sekitar 25 persen, sisanya permanen. Kemungkinan 1300 orang yanh permanen, 200 an orang yang kontrak. Angka pastinya saya juga belum tau,” tutup Rudi.

Ditempat terpisah, Manager Admin and General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, Tjaw Hioeng mengatakan, masih akan membicarakan hal tersebut kepada pihak perusahaan.

Ketika ditanya mengenai tanggungjawab dan hak-haknya pekerja, Rudi pun masih membicarakan hal tersebut. Namun pihak perusahaan menyatakan akan membayar sesuai ketentuan, akan tetapi ketentuan tersebut belum kita ketahui.

Ketika awak media ini mencoba mencari informasi kepada pihak sekuriti perusahaan, mereka pun membenarkan hal tersebut. Namun untuk detailnya langsung saja sama pihak manajemennya.

“Kalo mau ketemu dengan pihak manajemen besok (Senin) aja mas agar informasinya lebih jelas,” kata petugas sekuriti yang berjaga di perusahaan tersebut. (ded).