PPDB Zonasi Dinilai Tak Adil- Tak Menghargai Prestasi Calon Siswa

ANTRI PPDB - Calon siswa dan orang tua sedang mengantri menunggu giliran untuk mendaftar pada PPDB zonasi di SMAN 3 Batam. Calon siswa yang mendaaftar ke sekolah ini cukup membludak, sebanyak 932 nomor antrian telah diambil calon siswa. Namun demikian kuota siswa cukup terbatas yang diterima pada sekolah ini hanya 252 siswa saja. IST

BATAM (HK) – Sejumlah orang tua menilai PPDB zonasi dianggap tidak adil dan merugikan calon siswa lainnya. Pasalnya PPDB zonasi ini hanya menguntungkan sepihak bagi calon siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah kendati nilai dimiliki rendah. Sebaliknya meski calon siswa memiliki nilai akademik culup bagus karena lokasi tempat tinggal jauh dari sekolah, maka akan ditolak oleh pihak sekolah.

Hal ini lah yang dianggap orang tua calon siswa bila penerapan PPDB sistem zonasi ini tak beradilan, dan tak menghargai prestasi anak didik. “Seperti anak saya lulusan SMPN 6 Batam rata-rata nilai 8,6 daftar ke SMAN 3 Batam, karena tinggal saya jauh di Cendana ditolak. Begitu pula pilihan kedua di SMAN 20 Batam juga ditolak, karena memang banyak siswa yang lulus dari SMPN 12 dan SMPN 43 Batam yang tempat tinggalnya dekat ke sekolah mendaftar kesana,” ujar Arif orang tua calon siswa saat melihat real time pendaftaran hari ketiga di SMAN 3 Batam, Rabu (3/7).

Ia menyayangkan kebijakan pemerintah ini, karena tidak menghargai hasil prestasi siswa yang telah bersusah payah mendapatkan nilai terbaik demi harapnnya bisa masuk pada sekolah yang mereka inginkan. “Kalau PPDB ini syaratnya hanya kartu keluarga (KK) saja, jadi buat apa lagi pemerintah dan sekolah mengadakan ujian segala. Saya sarankan lebih baik dihapus saja yang namanya UN atau ujian sekaloh, karena bikin anak kita juga stres menghadapinya. Saya pikir kebijakan ini telah mengkerdilkan keberhasilan pendidikan itu sendiri tak menghargai pencapaian prestasi siswa,” katanya dengan nada emosi.

Keluhan serupa juga disampaikan Heni yang anaknya ditolak masuk SMAN 3 Batam. Ia mengaku kesal telah mengantri PPDB pada hari pertama itu sejak pukul 6.00 WIB pagi. Namun tahu-tahunya ketika giliran hendak mendaftar harus datang lagi pada hari kedua. Lebih sialnya lagi setelah mendaftar, ternyata jarak rumahnya lebih dekat ke SMAN 20 Batam.

“Setelah kita melihat jarak rumah dekat ke SMAN 20 Batam, lalu habis mendaftar di SMAN 3 saya langsung ke SMAN 20 Batam. Tapi nama anak saya tidak terdaftar disana, padahal pilihan kedua itu SMAN 20 Batam. Saya tanya pada panitia, katanya lebih memprioritaskan dulu jarak yang terdekat yang saat itu sudah mencapai 300 lebih. Jadi stres kita dibuatnya mau masuk kemana anak saya ini,” keluhnya.

Heni mengaku pesimistis anaknya bisa diterima di kedua sekolah negeri itu, karena cukup banyak calon siswa yang tinggal didekat sekolah tersebut. Ia juga menilai kebijakan PPDB zonasi yang menitikberatkan pada jarak tempat tinggal sebagai penentu siswa diterima itu, benar-benar telah merugikan calon siswa yang tinggal jauh dari lokasi sekolah.

“Boleh menerapkan PPDB zonasi seperti ini bilamana di Batam ini sekolahnya telah merata. Tapi kalau kaya gini lebih baik PPDB seperti dulu saja, penerimaan siswa berdasarkan nilai sebagai acuannya,” jelasnya.

Berdampak Pada Motivasi Belajar

Sementara Ketua Panitia PPDB SMAN 3 Batam, Edison Doloksaribu SPd MM, juga memberikan penilaian yang sama, bahwa PPDB sistem zonasi ini tidak fair, terutama bagi calon siswa yang memiliki nilai bagus karena tidak dihargai hasil kerja keras belajarnya. Akibatnya nanti akan mengurangi motivasi belajar anak didik itu sendiri, dan berdampak juga terhadap capaian prestasi sekolah.

“Hal ini merupakan tantangan kita sebagai guru untuk menggembleng anak didik sebaik mungkin dalam upaya menaikan nilai jual sekolah. Makanya kerja keras guru dan dukungan masyarakat sangat dibutuhkan, karena sekolah ini merupakan milik masyarakat. Jadi sudah kewajiban kita bersama memajukan pendidikan ini,” jelasnya.

Ia juga menyarankan kepada Kemendikbud agar mempertimbakan kembali pemberlakukan PPDB zonasi ini karena tidak memiliki nilai ukur siswa yang diterima hanya berdasrkan jarak saja. “Ya kalau nilai ukur di PPDB zonasi ini hanya kedekatan tempat tinggal calon siswa, dampaknya negatif bagi siswa lainnya di SMP dia akan beranggapan yang penting lulus jadi malas belajar karena yakin akan diterima di sekolah yang dekat dengan rumah berapapun nilainya,” ucap Edison lagi. (men)

(Visited 28 times, 1 visits today)