Orangtua Resah Anaknya Tidak Diterima di Sekolah Negeri

(net)

BATAM (HK) – Sejumlah orang tua calon siswa mengaku resah dengan pola diterapkannya pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menganut sistem zonasi. Pasalnya banyak calon siswa yang jarak rumahnya jauh dari lokasi sekolah ketika mendaftar tersisihkan oleh calon siswa yang dekat dengan sekolah.

Untuk itu para orang tua calon siswa meminta agar PPDB sistem zonasi ii dihapus kembali kepada sistem lama mengakomodir nilai akademik siswa. Bila tetap PPDB zonasi ini diterapkan, maka para orang tua meminta kebijakan dari pemerintah terhadap calon siswa yang tidak diterima dikarenakan tempat tinggal jauh dari sekolah.

“Ini tidak adil, kita sama-sama satu zonasi karena rumah jauh dari sekolah masa tergeser oleh calon siswa yang dekat dengan sekolah. Pemerintah harus memikirkan hal itu, dimana rasa berkeadilannya pada PPDB zonasi ini. Tak kan mungkin kita harus pindah rumah dulu dekat dengan sekolah biar anak kita diterima di sekolah negeri,” ujar Solihin yang anaknya mendaftar di SMAN 3 Batam, Kamis (4/7).

Tak hanya Solihin saja, Nurdin yang rumahnya tinggal di daerah Bengkong Aljabar merasa pesimis anaknya bisa diterima di SMAN 8 Batam, karena calon siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut cukup membludak. “Radius tempat tinggal saya itu cukup jauh dari SMAN 8 Batam pasti tidak akan diterima, karena cukup banyak calon siswa yang dekat dengan sekolah itu. Mau nyekolahkan anak di swasta keuangan tak mampu pendapatan saya pas-pasan hanya buat makan doang,” keluh Nudin.

Ia mengaku anaknya cukup pandai lulusan dari SMPN 4 Batam dengan nilai rata-rata 8,1 tentunya bila masuk PPDB berdasarkan seleksi nilai akan diterima. “Bukan saya saja yang prustasi, anak juga ikut-ikutan prustasi, karena merasa tidak diterima di sekolah negeri. Saya sarankan dia masuk SMK, dia tidak mau karena cita-citanya itu ingin kuliah di kedokteran dan akan berusaha meraih beasiswa bidik misi katanya nantai,” kata Nurdin lagi.

Sementara Pemerhati Pendidikan di Batam. Indra Hanafi, melihat persoalan ini menilai sebaiknya pemerintah menghapus aturan mengenai sistem zonasi ini. Karena aturan ini dianggap dia banyak merugikan calon siswa yang radius tempat tinggalnya jauh dari sekolah negeri.

Diakuinya, bahwa aturan zonasi yang tertuang dalam Permendikbud nomor 51 tahun 2018 tentang PPDB zonasi ini memiliki tujuan mulia untuk memberikan akses kepada warga terdekat dari sekolah menempuh pendidikan. Namun masalahnya, penyebaran sekolah negeri di Batam belum merata. Sementara para siswa dan orang tua ngotot harus menyekolahkan anaknya di sekolah negeri.

“Langkah tepatnya mengahpus seleksi zonasi di khususkan bagi Batam, karena penyebaran sekolah negeri baik SMP mupun SMA belum merata. PPDB zonasi ini bisa diterapkan di Batam kalau jumlah sekolah negeri telah merata bisa mengakomodir semua siswa,” jelasnya.

Ia menilai permasalahan PPDB akan terjadi terus menerus setiap tahunnya bila mana sistem zonasi dijadikan sebagai alat ukur seleksi calon seleksi. Ia tidak menyalahkan penerapan PPDN zonasi ini, namun harus disesuaikan dengan kondisi daerah itu sendiri. “Saya pikir pemerintah menerapkan PPDB sistem zonasi ini tujuannya cukup bagus masyarakat setempat bisa bersekolah. Tapi terjadi diskriminasi terhadap siswa yang radius tempat tinggalnya jauh dari sekolah, Ini yang harus dipikirkan pemerintah lagi,” katanya. (men)