Pembunuh Arnold Terancam Hukuman Mati

SIDANG PEMBUNUHAN- Abdul alias Bedul (23), terdakwa kasus pembunuhan terhadap Arnold Tambunan (60), kerangka mayat yang ditemukan dalam septic tank rumah milik almarhum Rasyid, beberapa waktu lalu disidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (9/7).

TANJUNGPINANG (HK)- Abdul alias Bedul (23), terdakwa kasus pembunuhan terhadap Arnold Tambunan (60), kerangka mayat yang ditemukan dalam septic tank rumah milik almarhum Rasyid, di Jalan Menur, Gang Juang, kilomter 8, Tanjungpinang beberapa waktu terancam hukuman mati atau pidana penjara seumur hidup.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nolly Wijaya SH dari Kejari Tanjungpinang dalam dakwaannya menjerat terdakwa Bedul dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau dipidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun penjara.

Selain itu, polisi juga menjerat tersangka sebagaimana diatur dalam Pasal 380 tentang
penganiayaan berat yang mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Atau Kedua Pasal 170 Ayat (2) ke- 3 KUHP.

Dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (9/7) terungkap, kejadian bermula saudara M. Rasyid (telah meninggal dunia berdasarkan Surat Keterangan kematian Nomor; 269/SKM-RSUD/VIII/2018 tanggal 30 Agustus 2018 yang ditandatangani Dr. Marzuki Panji Wijaya dari RSUP Provinsi Kepulauan Riau) mempunyai hutang kepada korban Arnold Tambunan sebesar Rp30.000.000

Selanjutnya, korban menagih hutang dengan saudara M. Rasyid dengan kata-kata kasar sehingga menimbulkan sakit hati dan kekesalanya.

Kemudian pada 17 Agustus 2018 korban Arnold Tambunan menghubungi saudara M. Rasyid untuk menagih hutang dan akan mendatangi rumahnya di Jalan Menur Gang Menur, No15 RT 005, RW 009, Kelurahan Sei Jang Kecamatan Bukit Bestari Kota Tanjungpinang pada pagi hari 18 Agustus 2018.

Hal itu membuat M. Rasydi menjadi panik dan kesal pada korban, sehingga terjadi perencanaan untuk menghilangkan nyawa korban dengan terdakwa Abdul. Dimana saudara Rasyid memanggil terdakwa Abdul setelah siap melakukan tugas pemasangan tenda.

Namun ajakan Rasyid untuk membunuh korban tersebut sempat ditolak terdakwa, dengan alasan sangat beresiko, karena sudah menghilangi nyawa orang. Ketika itu M Rasyid berusaha meyakinkan terdakwa, bahwa jika ketangkap, maka resiko akan ditanggung mereka berdua.

Kendati demikian, terdakwa tetap berusaha menolak ajakan M Rasyid tersebut. Akan tetapi M Rasyid terus berupaya membujuk terdakwa dengan imbalan uang Rp20.000.000. Lalu terdakwa menjawab, kenapa tidak uang Rp20.000.000 itu saja dibayar ke tambunan. ketimbang harus mengabisi nyawanya.

Tetapi M Rasyid menjawab, bahwa ia belum memiliki uang, sementera korban Arnold Tambunan tetap akan menagih utangynya besok.

Sehingga M Rasyid terus berusaha meminta tolong kepada terdakwa untuk membantu membunuh korban. Setelah merenung sekitar 15 menit, akhirnya terdakwa terpaksa menuruti keinginan M Rasyid untuk membantu membunuh korban Arnold Tambunan tersebut.

Selanjutnya M Rasyid berkata kepada terdakwa, kalau Arnold Tambunan sudah meninggal dimasukan ke Septic tank kantor yang terdapat di rumahnya tersebut.

Besok paginya, Sabtu 18 Agustus 2018 sekira pukul 06.00 WIB, terdakwa sudah menunggu di atas rumah M Rasyid sambil melihat kedatangan dari korban Arnold Tambunan untuk melaksanakan sesuai dengan yang direncana M Rasyid semula.

Kemudian korban managih utangnya kepada M Rasyid, sembari melakukan perbincangan. hingga akhirnya M Rasyid kembali emosi dan memukul korban menggunakan besi hingga korban terjatuh dari bangku yang didudukinya, dan lari ke arah belakang bengkel rumah M Rasyid.

Pada saat itulah terdakwa turun dari lantai II dan ikut serta mengejar korban Arnold Tambunan sambil membawa sebatang besi, lalu secara bersama mekul tubuh korban hingga meninggal dunia.

Lalu Rasyid mengambil kantong plastik warna hitam dan tali nilon warna kebiruan, dan terdakwa sendiri menuju ketempat sepic tank dan membukanya mengunakan alat berupa pahat dan martil, selanjutnya terdakwa dan M Rasyid memasukan tubuh korban ke dalam sapic tank tersebut.(nel)