SMKN 8 Batam Kekurangan 55 Siswa

AKOMODIR SISWA - Kadisdik Provinsi Kepri, Dr M Dali, memberikan penjelasan kepada orang tua yang anaknya tak tertampung di PPDB 2019. Para orang tua mengaku lega anaknya bisa di akomodir masuk ke SMA dan SMK negeri, setelah mendengarkan pemaparan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang menggelar pertemuan dengan orang tua di dataran Engku Putri, Batam Center, Senin lalu. IST

BATAM (HK) – Calon siswa yang mendaftar pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di SMKN 8 Batam masih kurang tak memenuhi kuota yang ditetapkan, yakni 252 siswa. Berdasarkan peserta yang mendaftar tercatat 197 calon siswa, masih kekurangan sekitar 55 siswa lagi, yakni untuk jurusan Instalasi Medik sebanyak 4 siswa, dan jurusan Asisten Keperawatan sebanyak 51 siswa.

Menurut Kepala Sekolah SMKN 8 Batam, Refio, bahwa kekurangan ini ada pada dua jurusan yakni Instalasi Medik sebanyak 4 orang dan Asisten Keperawatan sebanyak 51 orang.

“Yang penuh baru Farmasi Klinis. Dua jurusan lain masih kami tunggu hingga PPDB tahap tiga nanti,” ujar Refio saat dikonfirmasi, Selasa (9/7).

Katanya, di hari pertama PPDB tahap kedua ini baru penambahan 15 orang. Sedangkam masih ada kekosongan 40 kursi lagi, sehingga pihak sekolah masih membuka peluang bagi calon siswa lain yang tak diakomodir di sekolah lain. “Kalau tidak mencukupi ya tak apa-apa. Kalaupun lebih misalkan akan pakai juknis yang ada untuk seleksi masuknya,” tutur Refio.

Sementara PPDB di lakukan di SMK negeri lainnya, justru berbanding balik calon siswa yang mendaftar melebihi kuota yang ditetapkan. Sehingga banyak orng tua calon siswa yang tidak diterima melakukan aksi protes, dan akhirnya atas persetujuaan Gubernur Kepri Nurdin Basirun, dibuka lgi PPDB tahap dua.

Pemerhati Pendidikan Batam, Agus Supratman, menyarankan agar Dinas Pendidikan Provinsi Kepri harus memetakan siswa yang mendaftar ke SMK. Pasalnya calon siswa yang mendaftar di SMKN 1, SMKN 2, dan SMKN 4, serta SMKN 5 Batam cukup membludak.
“Petakan saja, alihkan saja siswa ke SMK negeri yang kurang sisa itu, terkait jarak rumah dengan sekolah terlalu jauh itu konsekwensi, karena orang tua yang terlalu memaksakan anaknya harus masuk ke SMK negeri. Apalagi untuk pendaftaran PPDB di SMK ini kan tidak menganut sistem zonasi,” jelasnya singkat. (ded/men)

(Visited 53 times, 1 visits today)