Jati Diri Bangsa dan Perekat Persatuan, Keberadaan Bahasa Indonesia

Kabid Pemasyarakatan Bahasa dan Sastra, Kantor Bahasa Kepri, Ovi Sofiati Rivai memberikan penjelasan ke awak media, disela-sela forum diskusi pengutamaan bahasa negara pada badan publik. IST

BATAM (HK) – Kabid Pemasyarakatan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kantor Bahasa Kepri, Ovi Sofiati Rivai mengatakan bahwa Bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa, sekaligus sebagai perekat persatuan.

Karenanya, kata ibu yang akrap disapa Ovi ini, setiap pihak diharapkan dapat memperkuat keberadaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

“Mari jadikan Bahasa Indonesia bermartabat di Negeri sendiri, karena Bahasa Indonesia merupakan jati diri dan juga perekat persatuan,” ungkapnya dalam acara seminar Bahasa Indonesia, Kamis (11/7), di Hotel Harmoni One, Batam Centre.

Sebagai ilustrasi bagaimana Bahasa Indonesia sebagai perekat, lanjutnya, alangkah susahnya orang dari Sumatera bertugas di Jawa Barat jika tidak ada bahasa Indonesia, begitu juga ketika kita berkunjung ke Papua atau Jakarta.

“Karena Bahasa Indonesia kita semua bisa direkatkan, satu bahasa yang menjadi kesepakatan,” terangnya.

Terkait masuknya bahasa asing, lanjutnya, kita menghormati dan tidak boleh alergi, tapi minimal menurutnya menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari.

“Utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, kuasai bahasa asing,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala UPT Kantor Bahasa Kepri, Zuryetti Muzar mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari banyak tidak menyadari tidak menggunakan bahasa Indonesia secara tepat, ia mencontohkan banyak nama tempat, kelembagaan dan lainnya yang menggunakan Bahasa Asing.

“Kita sering kali lalai dalam menggunakan Bahasa Indonesia secara tepat, salah satunya karena menggunakan bahasa asing,” terangnya.

Sementara itu, Asisten Pemko Batam, Zarefriadi yang hadir mewakili Walikota Batam mengaku bahwa di Batam banyak penggunaan Bahasa Indonesia secara tidak tepat, namun menurutnya itu lebih pada posisi Kota Batam sebagai Kota Industari dan Perdagangan.

“Sebagai kota industri dan perdagangan, Batam didesain dapat memberikan pelayanan kepada para investor. Karenanya sering kali kita menggunakan bahasa asing sebagai bentuk pelayanan kita menyambut investor,” terangnya.

Meski demikian, ada banyak hal yang dilakukan guna memperkuat Bahasa Indonesia, salah satunya mengganti semua nama jalan yang dulunya menggunakan bahasa asing ke Bahasa Indonesia. (ays)