Terima SP3 PKL Simpang Hutatap Gusar, Masih Bingung Mau Pindah Kemana

PKL HUTATAP - Keberadaan PKL di Simpang Hutatap Sagulung, yang tengah menunggu penertiban dari Satpol PP setelah mereka mendapatkan SP3, Kamis (11/7). PKL mengaku gusar karena belum tau akan berjualan di mana karena hingga kini belum ada tempat alternatif untuk berjualan. DEDI/HALUAN KEPRI

SAGULUNG (HK) — Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang menempati kios di sepanjang jalan Simpang Hutatap hingga ke depan pasar Mandalay, Sagulung, merasa resah dengan penggusuran yang akan dilakukan petugas Satpol PP, Kecamatan Sagulung.

Diketahui, bahwa kios yang berdiri di Simpang Hutatap sudah mendapat surat Peringatan ketiga (SP3) atau peringatan terakhir, pada Kamis (11/7) kemarin. Di dalam SP3 tersebut, Pemerintah Kota (Pemko) Batam memberikan masa tenggang yang akan berakhir hari ini (Kamis,11/7) untuk melakukan pembongkaran sendiri.

Pantauan di lokasi, kios yang berdiri di sepanjang jalan tersebut dimanfaatkan warga untuk berbagai macam usaha. Seperti usaha warung makan, bengkel motor, jualan buah-buahan, jualan barang seken, hingga jasa tambal ban.

Selain itu, lahan yang panjangnya kurang lebih dari 200 meter yang berada di lokasi tersebut juga dijadikan warga sebagai pasar kaget. Namun tidak setiap hari, melainkan hanya dua hari dalam seminggu yakni pada hari Kamis dan Sabtu.

Rindi, salah seorang pedagang yang menempatin kios di Simpang Hutatap, mengaku gusar dengan rencana penggusuran yang akan dilakukan Pemko Batam. Sebenarnya, tak keberatan, namun hingga sekarang ia belum punya tempat lain untuk berjualan.

“Kami hanya jualan buah-buahan saja di sini. Dan usaha ini hanya satu-satunya mata pencaharian kami. Lagian kami masih punya anak yang masih sekolah. Makanya nggak tau nanti setelah digusur akan jualan dimana lagi. Kami juga memohon kalau bisa pemerintah juga memikirkan untuk mencarikan tempat untuk usaha warga,” ujarnya, Jumat (12/7) siang.

Hal senada juga disampaikan pemilik kios lainnya, Nando, bahwa khawatir dengan penggusuran yang direncanakan dalam waktu dekat ini. Sebab, dengan kondisi perekonomian seperti ini membuat dirinya kesulitan mencari pekerjaan.

“Saya sudah umur tua. Perusahaan mana lagi sekarang yang akan menerima menjadi karyawannya. Ya beginilah, cara saya bertahan menghidupi istri dan anak-anak saya, menjadi tukang tambal ban,” katanya.

Seorang penjual buah-buahan lainnya di lokasi tersebut. Muklis mengaku hanya bisa pasrah dengan kebijakan yang sudah ditentukan.

Namun, ia berharap pemerintah Kota Batam untuk memberikan kesempatan berjualan dengan memberikan solusi tempat untuk warga jualan. “Padahal kami disini bayar 700 ribu perbulannya,” keluhnya saat itu. (ded)

(Visited 39 times, 1 visits today)