Sarok

fery heriyanto

fery heriyanto

Cerpen: Fery Heriyanto

Sejak beberapa waktu terakhir, warga resah karena sejumlah titik di komplek perumahan dipenuhi sarok. Sarok-sarok itu tergolek di pintu gerbang komplek, di simpang gang, di taman, termasuk di fasum. Ketika hal itu dikeluhkan, tidak ada seorang warga pun yang mengaku bertanggung jawab.

Lalu, atas kesepakatan seluruh warga serta perangkat RT dan RW, dibuat dan ditandatangani perjanjian seluruh kepala keluarga. Isinya, tidak boleh ada warga yang membuang sarok sembarangan. Jika ada yang melanggar kesepakatan itu, maka akan diberi sanksi. Tidak ringan. Si pelanggar akan didenda 20 sak semen. Atau, batu bata sebanyak 1200 buah. Atau uang sebesar Rp 1 juta 200 ribu. Denda itu akan dimanfaatkan untuk keperluan warga, seperti memperbaiki fasum, pos keamanan, membuat taman, atau fasilitas lain yang muaranya untuk warga.

Jika dihitung nominalnya memang agak berat. Tapi, itulah kesepakatan bersama. Tujuannya agar tidak ada lagi yang sembarangan membuang sarok. Biar komplek perumahan rapi dan bersih. Biar tidak berkembang biak lalat hijau. Biar tidak ada lagi polusi udara. Sebab, selama ini warga sudah gerah dengan lingkungan yang kotor.

Minggu-minggu pertama setelah kesepakatan itu dijalankan, komplek perumahan tampak bersih. Tidak ada sarok yang berserakan. Tim kebersihan perumahaan juga melaksanakan tugasnya dengan baik. Dua hari sekali, sampah masing-masing rumah diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah yang ditetapkan pemerintah. Bau-bau tak sedap tidak lagi tercium oleh warga. Lalat-lalat hijau tidak pernah terlihat beterbangan lagi.

Namun, memasuki pekan keempat, sarok kembali bertebaran. Kali ini, sarok itu berserakan di pinggir jalan utama komplek. Dan lokasinya ada di beberapa titik. Awalnya, warga berpikir, sarok itu dibawa oleh binatang. Tapi, kok hampir setiap hari. Tidak hanya pagi, tapi juga siang, sore, dan malam.

Menyikapi kondisi itu, ada sejumlah warga yang berinisiatif mengintai si pelaku. Dari beberapa kali pengintaian, tidak ada yang dicurigai. Bahkan, dari CCTV di beberapa rumah warga yang dicek, tidak juga terdeteksi siapa pelakunya.

Warga mulai bertanya-tanya. Siapa yang telah berani melanggar aturan? Mengapa si pelaku tidak pernah tertangkap tangan. Bahkan CCTV pun tidak mampu merekam jejak pelaku.

“Atau, kondisi ini sengaja dilakukan untuk mengadu domba warga?” Asumsi ini telah membuat warga berpikiran negatif.

***

“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus mencari si pelakunya!” ucap salah seorang warga saat rapat membahas masalah tersebut.

“Tampaknya pelaku orang profesional. Dia bisa membuang sarok di komplek kita tanpa meninggalkan jejak sedikit pun,” timpal yang lain.

“Kabarnya, aksi seperti ini tidak hanya terjadi di komplek kita. Di komplek lain pun juga ada. Tidak hanya di komplek perumahan, di pinggir jalan utama pun banyak sarok dibuang begitu saja. Ini bagaikan teror. Ini wajib diungkap!” tegas seorang warga yang berkaca mata.

Lalu, perangkat RT, RW, dan warga yang rapat malam itu merancang strategi untuk menjebak dan menangkap si pelaku. Warga yang hadir dibagi dalam beberapa kelompok dan masing-masing diberi tugas. Dalam kerjanya, mereka harus saling berkoordinasi dan berkomunikasi.

Kerja dibagi empat shift, pagi, siang, sore jelang malam, dan tengah malam. Tugas disesuaikan dengan jadwal kerja masing-masing warga. Seluruhnya dimasukan dalam WA Group yang diberinama “pelacak pembuang sarok”.

Hari pertama pelacakan, tidak didapat siapa pembuang sarok itu. Berlanjut hari kedua. Hasilnya sama. Demikian juga hari ketiga, keempat, kelima, hingga hari ketujuh. Hasilnya nihil. Sementara, sarok tetap ada.

“Aneh dan lihai si pelaku! Mampu dia kelabui kita!” ucap salah seorang warga geram saat rapat evaluasi.

“Betul, Pak! Ilmu apa yang dipakainya?! Sudah seketat itu kita melakukan pemantauan, bisa juga diakali oleh pelaku,” balas yang lain.

“Apa perlu kita pasang CCTV di setiap sudut komplek ini?!” kata yang lain.

Setelah melakukan evaluasi dan menelaah kerja sepekan sebelumnya, semua sepakat menerapkan strategi kedua. Kelompoknya sama, jadwal tetap sama, namun, praktik di lapangannya diubah.

Hari pertama penerapan strategi kedua, hasil yang diperoleh nihil. Hari selanjutnya, ada yang dicurigai, tapi bukti lemah. Hari ketiga, tidak menemukan bukti sama sekali. Sampai hari ketujuh, usaha tetap tidak membuahkan hasil. Sementara, sarok tetap ada, tapi agak berkurang dari waktu-waktu sebelumnya.

Sebagian warga mulai mengeluh. Ada pula yang putus asa. Tapi, sebagian besar tetap optimis jika si pelaku akan bisa dibekuk.

“Sabar bapak-bapak. Dua pekan ini usaha memang belum menemukan hasil. Tapi, Percayalah, satu saat, kita akan tangkap pelakunya,” ucap salah seorang Ketua RT memompa semangat warga.

“Ya, saya percaya. Namun, kerja ini sangat berat. Sampai stres pula saya,” ungkap seorang peserta rapat.

“Tenang, Pak. Kita terapkan strategi ketiga. Percayalah, akan kita bekuk si pelakunya!” ujar yang lain optimis.

***

Suatu pagi, saat sejumlah warga tengah jogging, mereka melihat seseorang seperti mengais-ngais sarok dari satu tempat ke tempat lain. Anehnya, setiap sarok yang dikaisnya bukannya berkurang, namun makin banyak. Warga curiga. Lalu orang itu dipanggil, ditanya, dan digiring ke fasum.

Dihadapan warga dan perangkat RT RW, dia diinterogasi. Setiap pertanyaan yang diajukan, dia jawab dengan agak ngawur. Tidak beraturan. Saat ditanya kenapa setiap tempat sarok yang dikaisnya, sarok disitu makin banyak, dijawabnya kalau sarok di situ memang banyak.

Warga makin curiga dengan orang itu. Namun, perangkat RT RW tetap mengorek keterangan untuk mendapatkan bukti yang konkret. Warga diminta bersabar. Yang membuat warga makin tidak nyaman, setiap kali dia bercakap, bau kurang sedap keluar dari mulutnya.

Hampir 45 menit orang itu ditelisik. Dia pun sempat diberikan minum dan sarapan, tapi, bau mulutnya tak juga hilang. Warga mulai pada kesimpulan jika orang itulah yang selama ini menebarkan sarok. Tapi, bukti kuat belum ada.

Lalu dia ditanya lagi berbagai hal. Namun, jawabannya tetap ngawur. Makin ditanya makin ngawur, makin ngawur. Sampai dia tak tahan. Lalu dia muntah.

Warga terkejut. Bahkan ada yang sampai terpental. Soalnya, muntah yang dikeluarkannya banyak. Bermacam-macam pula. Baunya…sangat busuk. Sampai-sampai ada warga yang kejang-kejang dan pingsan! ***

*) sarok (bahasa Minang) = sampah

Batam, 2019

  • Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan dan mantan anggota Teater O USU Medan. Sekarang jurnalis di Kepri.***
(Visited 47 times, 1 visits today)