IKSB Batam Gelar Dialog Kekeluargaan

SWJUMLAH tokoh Minang saat berdiskusi di Nagoya Mansion.Foto:Nov Iwandra

BATAM (HK) – “Ternyata Urang Minang Indak Kompak politik,” kata Rudi, seorang warga saat berbincang bincang santai bersama masyarakat, dipojok warung kopi sudut Batam.

Ungkapan tersebut menjadi sebuah topik kusus dalam pembicaraan atas kegiatan “Dialoq Publik”, yang digelar Organisasi Sosial Ikatan Keluarga Sumatera Barat (IKSB) Batam, Sabtu (20/07) pagi, di Hotel Mension, Nagoya, turut dihadiri para Tokoh Masyarakat Minang yang ada di Batam.

Irsafwin Chaniago, salah seorang penasehat IKSB Batam mengatakan, ia tidak menyangkal apa yang disebutkan Rudi tersebut. Sebab hal itu terbukti di lapangan bahwa yang selama ini Urang Minang Batam tak kompak dan bersatu.
Sehingga perantauan mudah terpecah belah.

“Ini terbukti. Sehingga tidak bisa disangkal lagi dan gagal,” tegas Irsafwin, dengan serius.

Contohnya, ucap penasehat IKSB, begitu besar porsentase dikeberadaan Masyarakat Minang di Kota Batam dan Kepri. Tapi, sebagian besar hanya menjadi pendorong atau penonton atas kesuksesan, maupun keberhasilan orang lain.

“Terutama dalam catur perpolitikan, kekuatan, kekompakan dan kebersamaan di masyarakat. Sehingga, dikuasai oleh pihak serta kelompok lainnya di Kota Batam dan Kepri ini,” ucapnya.

Artinya, kata Irsafwin, apa yang diamanahkan dan diharapkan atas petuah adat ataupun dari Tokoh Adat, Tokoh Ulama dan Niniak Mamak, Minangkabau di Kampung Halaman terhadap Masyarakat Minang diperantauan, hingga kini tidak sesuai ekspetasi.

“Artinya apa, keberadaan Masyarakat Minang Kota Batam dan di Kepri ini khususnya, boleh dikatakan gagal. Khususnya di Bidang Politik dan Kepemimpinan,” pungkasnya.

Anton Permana dan Razaki Persada, sebagai pembicara dan narasumber dalam dialog juga mengungkapkan, berdasarkan riset yang telah dilakukanya, sekarang ini Masyarakat Minang diperantauan kurang kompak dan ego sentris.

“Saat ini, Urang Minang di Batam dan di Kepri ini hanya menjadi bergening untuk sesaat bagi orang lain didalam medan perang perpolitikan. Sehingga, Masyarakat Minang tidak mendapat peluang yang lebih besar untuk kepemimpinan di Kota Batam dan Kepri, meskipun jumlah dari kependudukan perantau asal Minang di Batam mencapai 20 persen,” sebut Anton Permana.

Jadi ungkapnya, wajar kalau orang lain itu bisa mengatakan Urang Minang Tidak Kompak dan mudah dipengaruhi, sehingga mudah terpecah belah. (dalam hal perpolitikan).

“Atas fakta ini, haruslah dapat menjadi sebuah pembelajaran penting bagi kita, dan harus bisa dirubah dan diperbaiki sebagaimana mestinya. Khususnya terhadap Perantauan Minang Kota Batam dan Kepri ini. Sehingga dapat merubah paradigma masyarakat tersebut,” tegas Tokoh Muda Minang, Lulusan Lemhanas 2019.

Dengan demikian, pungkas Anton, image serta paradigma yang sudah tersebar di masyarakat dan telah menjadi polemik di dalam organisasi sosial di Masyarakat dan Kepemudan Minang, harus dapat Hapus serta dihilangkan, dengan pembuktian kekompakan dan kesoliddan.

M Zen Syarif menerangkan sesungguhnya dari keberadaan maupun peranserta di masyarakat Minang di Batam dan Kepri ini sungguh sangat besar dalam segala bidang pembangunan dan perekonomian daerah hingga tingkat nasional.

“Sejarah tidak bisa dipungkiri. Sebagian besar tokoh nasional dan pahlawan bangsa berasal dari orang Minangkabau, hingga keluar negeri.
Tapi, itu semua secara perseorangan maupun secara pribadi. Dan kalau lah dapat dibimbing dengan baik, tentu bisa mengahasilkan suatu yang besar dan maksimal,” kata M Zen Syarif.

Artinya, ucap Zen, jikalau secara berkelompok kita dapat mempersatukan visi dan misi untuk menghasilkan satu kekompakkan, kesoliddan, demi keberhasilan, tidaklah sulit karena sudah menjadi prinsip dan komitmen di masyarakat Minangkabau, semenjak di kampung halaman.

“Ingat, Orang Minang ini sangat disegani serta ditakutkan oleh orang lain, kalau kita kompak. Sehingga berbagai upaya dilakukan orang lain untuk memecah, serta memanfaatkan, setiap suara Masyarakat Minang,” ungkap M Zen.

Sementara itu Zulbahri serta Maswar, mantan Ketum IKSB Batam menerangkan, sudah saat Masyarakat Minang Batam dan Kepri bangkit untuk dapat menyadari kelemahan selama ini. Sehingga, tak hanya menjadi pendorong serta penonton dalam percaturan perpolitikkan dan kepemimpinan atas keberhasilan orang lain.

“Kita harus bangkit serta harus menyadarinya. Bahwa yang ditakutkan orang lain ialah, kalau kita (Masyarakat Minang) ini kompak,” ungkap Mantan Anggota DPD dan MPR RI asal Kepri.

Artinya, ucap Zulbahri, bagaimana kedepannya kita bisa kompak, solid, serta bersatu kembali untuk dapat “Mambangkik Batang Tarandam”. Sehingga Orang dan Masyarakat Minang akan disegani serta dipandang kembali, atas peran keberadaannya.

“Tidak ada lagi istilah, Orang dan Masyarakat Minang di perantauan tidak kompak. Khusus di Kota Batam maupun Kepri ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Harian IKSB Batam, M Al Ichsan mengatakan, kegiatan dialog publik itu sengaja dibuat dan dilaksanakan untuk dapat menyatukan kembali suatu kekompakan serta kebersamaan, yang sudah terjalin selama ini.

“Kini saatnya. Momentum bagi segenap orang Minangkabau untuk bangkit dengan komitmen yang sungguh sungguh. Sehingga, keberadaan Masyarakat Minang di Kota Batam serta Kepri akan diperhitungkan,” kata M Al Ichsan dengan tulus yang juga sebagai penanggujawab acara yang digelar sejak pukul 08.00 WIB, hingga ke pukul 17.00 WIB.

Alhamdulillah, ungkapnya, semoga dikegiatan ini menjadi konsep awal pendorong untuk bisa menyatukan kembali Masyarakat Minang Kota Batam dan Kepri kedepannya.

“Ingat pepatah kita Minangkabau. Saciok bak ayam dan sadantiang bak basi. Ka lurah samo manurun, ka bukik samo mandaki. Kok barek samo dipikua, nan kok ringan samo dijinjiang,” tutur pria yang akrab disapa Abang Nusantara. (vnr).

(Visited 461 times, 1 visits today)