Kisah Perjuangan Anak Tukang Becak Lulus di ITB Berpredikat Cumlaude

Cahyo Widiantoro - Mahasiswa Berprestasi ITB

JAKARTA (HK) – Keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk belajar di perguruan tinggi negeri demi menggapai cita-cita. Banyak upaya bisa dilakukan asal mau berusaha dan bersungguh-sungguh. Salah satunya ialah dengan mengikuti program beasiswa Bidikmisi dari pemerintah.

Program beasiswa Bidikmisi adalah program bantuan biaya pendidikan yang diberikan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai tahun 2010 kepada mahasiswa yang memiliki potensi akademik memadai, namun kurang mampu secara ekonomi.

Cahyo Widiantoro adalah salah satu mahasiswa ITB penerima beasiswa Bidikmisi tersebut. Cahyo lulus dari Program Studi Teknik Material (FTMD) dengan IPK Cumlaude, 3.72. Dia pun akan diwisuda pada Wisuda Ketiga ITB Tahun Akademik 2018/2019, kemarin, di Gedung Sabuga ITB. Pada tugas akhirnya, dia mengangkat penelitian tentang “Pengaruh Penambahan Klorheksidin dan Setil Trimetil Amonium Bromida terhadap Sifat Mekanik dan Aktivitas Antibakteri Nanokomposit Gigi Restoratif”.

Cahyo merupakan anak terakhir dari dua bersaudara. Kedua orangtuanya berpisah ketika dia masih duduk di bangku TK. Di bawah asuhan sang nenek, Cahyo mengaku belajar tentang disiplin dan selalu bersyukur dalam setiap keadaan. “Dulu ketika saya minta jajan, nenek selalu menyuruh saya untuk memilih antara jajan atau sekolah. Apabila uang dipakai untuk jajan, berarti tidak ada uang untuk saya bisa bersekolah. Nenek juga mendidik saya untuk hidup mandiri,” cerita Cahyo, seperti dikutip dari laman ITB, kemarin.

Cahyo bercerita bahwa keluarga besarnya sebagian besar tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Namun ada satu orang pamannya yang menginspirasi Cahyo memberanikan diri bercita-cita untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Berkuliah di ITB menjadi target mimpi selanjutnya setelah ia lulus dari SMAN 1 Surakarta. “Ketika saya sampaikan kepada ayah keinginan saya untuk berkuliah, ayah tampak berkaca-kaca. Ayah mengaku tidak pernah terbayang akan dapat menghantarkan anaknya untuk berkuliah. Ayah hanyalah buruh yang terbiasa bekerja keras sejak kecil,”ucapnya.

Ayahnya pernah menjadi buruh tani, tukang becak, hingga ikut orang tanpa kepastian upah, dan kini beternak sapi pedaging secara mandiri. Ia selalu ingat pesan ayahnya untuk selalu menjaga diri dan berhati-hati dalam bertindak. Setelah mendapat restu dari orang tuanya untuk kuliah, Cahyo mulai mengurus pendaftaran masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN dan mendaftar beasiswa Bidikmisi.

Ia pun sangat bersyukur ketika dinyatakan lulus seleksi menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara di ITB. “Saya pulang ke Sragen setiap liburan semester. Setiap kembali ke Bandung, orang tua selalu membekali saya dengan satu karung beras. Saya dapat menghemat pengeluaran selama kuliah dengan menanak nasi sendiri,” kata Cahyo. (dbs)

(Visited 28 times, 1 visits today)