Orang Tua Murid Gembira Anaknya Bisa Sekolah

Siswa-siswi SMAN 26 Batam sedang mengikuti Motivasi Belajar mendatangkan narasumber Redaktur Haluan Kepri, Arment Aditya dalam mengisi kegiatan MPLS hari pertama di SMAN 26 Batam, Senin (22/7). SMAN 26 Batam merupakan sekolah baru berdiri menumpang belajar sementara di SMPN 43 Batam.

BATAM (HK) – Indriyani tidak mempermasalahkan sekolah anaknya menumpang sementara di sekolah lain. Bagi dia yang terpenting adalah anak bisa bersekolah dan belajar sudah lega. “Kemarin saya sangat kalut karena anak belum mendapat kepastian bersekolah. Tapi sekarang saya lega, meski sekolah anak masih menumpang pada sekolah lain. Intinya kita mengucapkan banyak terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri yang telah memfasilitasi anak kita bersekolah,” ujarnya saat menjemput anaknya yang sedang mengikuti kegiatan MPLS hari pertama di SMAN 26 Batam.

Indriyani mengaku optimis bahwa kedepannya tempat anaknya bersekolah, yakni SMAN 26 Batam akan standar dengan sekolah lain memiliki gedung sendiri. Karena seperti sekolah-sekolah baru sebelumnya awalnya hanya menumpang belajar sementara di sekolah lain. “Namanya juga sekolah baru pasti numpang. Meski demikian kita berterima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri yang telah menyediakan sarana belajar anak kita, meski kondisinya serba terbatas,” ucapnya.

Tak hanya Indriyani, Subar juga mengaku lega anaknya telah diterima di sekolah baru dan mengikuti kegiatan MPLS seperti siswa lainnya yang diterima di SMAN 3 Batam dan SMAN 20 Batam. Kata dia, dimanapun anak belajar tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah anak memiliki motivasi belajar pasti akan berprestasi nantinya. “Kalau dasarnya anak kita itu memiliki motivasi belajar, kita tidak takut dimanapun anak kita itu bersekolah, pasti akan berprestasi,” katanya.

Kendati demikian ia tidak pungkiri sekolah menumpang itu akan berdampak pada phisikis anak, terutama rasa minder dan kecewa karena tidak diterima pada sekolah yang mereka inginkan. “Rasa minder sudah pasti, karena kawan-kawannya diterima pada sekolah yang mereka tuju. Makanya tugas kita sebagai orang tua yang harus terus menyemangati anak agar tetap
semangat belajar,” jelasnya.

Beda lagi pendapat Khohairi orang tua siswa lainnya. Ia menilai PPDB zonasi merupakan bentuk diskriminasi pendidikan hanya menguntungkan sepihak bagi calon siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah. Sedangkan calon siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah walaupun sama-sama satu zonasi tidak mendapat kesempatan untuk masuk pada sekolah tersebut, meski memiliki nilai UN lebih.

“PPDB zonasi ini bukan mendekatkan sekolah dengan siswa, justru menjauhkan sekolah dengan siswa. Masa saya tinggal di Sungai Panas, anak diterima di SMAN 15 Batam yang letaknya di Nongsa, syukur ada SMAN 26 Batam ini, meski masih numpang tak masalah anak agak dekat pergi sekolah,” katanya.

Hal ini diakui salah seorang siswa baru di SMAN 26 Batam. Awalnya kata dia enggan masuk ke SMAN 26 Batam karena belajar menumpang pada sekolah lainnya dan merupakan sekolah baru. Namun dikarenakan tidak ada pilihan lain, terpaksa ia menerima tawaran orang tuanya.

“Ya mau gimana lagi, meski ini tidak adil kita terima. Kalau bicara soal nilai sekolah dan UN, saya pastikan nilai rata-rata saya cukup bagus 8,6, kalau PPDB mengunakan sistem nilai pasti diterima di SMAN 3 Batam, apalagi di SMAN 20 Batam. Tapi karena PPDB zonasi berdasarkan tempat tinggal, nilai saya itu gak ada artinya,” aku siswi lulusan dari SMPN 4 Batam ini. (men)

(Visited 31 times, 1 visits today)