Sejumlah Stakeholder Jadi Pahlawan Bagi capaian BPHTB Batam

WAKIL Walikota Batam, Amsakar Ahcmad dan Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam foto bersama dengan sejumlah stakeholder yang berkontribusi untuk capaian BPHTB Kota Batam. Selasa (23/7). Damri/Haluan Kepri

BATAM (HK) – Wakil Walikota Batam, Amsakar Ahcmad mengatakan bagi pemerintah Kota Batam seluruh pemangku kepentingan dan stakeholder yang berkontribusi untuk capaian Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pahlawan bagi Batam.

Karena capaian BPHTB berkontribusi sebesar Rp 28,1 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Batam tahun 2018 lalu. BPHTB adalah menjadi sektor unggulan dari lima sektor penyumbang terbesar dari pajak daerah Kota Batam.

“Dari waktu kewaktu sektor itu tidak hanya memainkan peran yang srategis tapi memang bisa berkontribusi yang signifikan, yakni meningkat dari waktu kewaktu,” ujar Amsakar dalam sambutannya pada acara silaturahmi Walikota Batam bersama IPPAT Kota Batam, INI Kota Batam, BP Batam, BPN Kota Batam, KPP Pratama Kota Batam, REI DPD khusus Kota Batam, OPD Kota Batam dan Stakeholder, Selasa (23/7) di Pacific Palace Hotel, Nagoya.

Lanjutnya, untuk terus meningkatkan PADitu terutama BPHTB harus ada forum silaturahmi dan diskusi seperti yang dilakukan itu guna mencari solusi untuk memudahkan masyarakat dalam pengurusan BPHTB.

Acara diskusi itu tidak perlu ramai tapi semunya berkontribusi untuk Batam. Secara sederhana bentuk akuntabilitas pemerintah terhadap stakeholder yang berkontribusi supaya bagi yang bergerak di sektor BPHTB untuk saling mendukung.

Dilihat dari struktur APBD di Provinsi Kepri ini yang paling hebat adalah Kota Batam, yakni dari kontribusi PAD nya, karena di Batam peran dari sektor parawisata itu sangat besar.

“Tahun 2019 ini estimasi APBD Kota Batam Rp 2,8 Triliun dan diharapkan Rp 1,3 triliunnya adalah kontribusi dari PAD. Hampir 45 persen APBD Kota Batam ditumpang oleh PAD,” ucapnya.

Menurut Amsakar, di Provinsi Kepri ini Kota atau Kabupaten yang paling mandiri adalah Kota Batam, karena pemerintah Kota Batam dana yang ada itu betul-betul seideal yang dibuat, yakni APBD dari Rp 2,8 triliun itu 65 persennya adalah untuk belanja publik dan hanya 35 persen untuk belanja aparatur.

Dari 35 persen untuk belanja aparatur itu termasuk juga didalamnya untuk bantuan 300 rumah ibadah, insentif RT/RW sekitar 3000 orang, imam masjid sekitar 2000 orang, persatuan mubalig, pendeta dan lain-lainnya. Total semua insentif yang diberikan sekitar 11.000 orang.

“Semua ini saya sampaikan agar bapak dan ibu pemangku kepentingan dan stakeholder tidak menganggap kami ini bekerja alakadarnya saja. Saya mengucapkan terimakasih karena Batam bisa seperti saat ini tidak lepas dari kontribusi semua pihak,” ucapnya.

Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam, Raja Azmansyah mengatakan acara silaturahmi itu adalah silaturahmi antara Stakeholder yang telah berkontribusi untuk capaian BPHTB Kota Batam.

Karena selama ini sudah berkontribusi terhadap capaian PAD Kota Batam terutama yang bekaitan dengan BPHTB. Dimana pada tahun 2018 lalu realisasi BPHTB Kota Batam Rp 297 miliar dan tahun 2019 ini BPHTB Kota Batam ditargetkan Rp 340 Miliar.

“Untuk selanjutnya direncanakan akan lebih banyak lagi dan skopnya akan lebih kecil sehingga mempunyai ruang waktu yang panjang untuk berdiskusi yang berkaitan dengan inovasi-inovasi dan regulasi yang perlu didudukan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat dan menigkatkan PAD Kota Batam,” ungkapnya.(Cw64)

(Visited 180 times, 1 visits today)