by

Penyakit Epilepsi Bisa Diatasi dengan Operasi

BATAM (HK) – Satu cara menolong seseorang yang menderita penyakit epilepsi atau kejang yang sulit disembuhkan dengan obat-obatan ada alternatif lain yang dilakukan untuk mengobatnya, yakni dengan operasi.

Penyakit epilepsi adalah salah satu kelainan neurologi kronik yang ditandai dengan gejala khas, yaitu kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik neuron otak secara berlebihan dan paroksismal.

Sebagian orang yang mengalami epilepsi itu walaupun sudah minum obat epilepsinya masih tetap kambuh lagi, maka bagi yang tidak bisa diatasi dengan minum obat maka bisa disembuhkan dengan operasi karena ilmu kedokteran saat ini sudah berkembang.

Hal itu sampaikan Prof Dr Zainal Muttaqin, SpBs.,Ph.D kepada awak media di sela-sela seminar awam epilepsi tentang gejala, penyebab dan penanganannya, yang digelar Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, Sabtu (28/7/2019) di ruang morning report RSAB Batam.

Lanjutnya, langkah operasi itu bisa dilakukan apabila sudah mengetahui informasi yang cukup dan yakin akan lokasi sumber kejang di otak itu serta sudah benar-benar sudah diketahui posisinya. Tidak boleh melakukan operasai jika hanya untuk mencari-cari posisi dari gelajanya epilepsi.

Lamanya pemeriksaan untuk memastikan asal penyebab epilepsi seseorang itu bervariasi dan tergantung orangnya, ada yang satu minggu, dua minggu, satu bulan dan dua bulan.

“Proses evaluasi ini bisa dari MRI, jika dirasa tidak klop, bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan EEG atau sampai terjadinya serangan. Untuk Operasi epilepsi perawatan dirumah sakit sekitar satu minggu dan lamanya dan operasi untuk operasinya itu sekitar 5 atau 6 jam,” tutur Prof asal Semarang itu.

Dileskannya, semenjak beberapa tahun lalu operasi epilepsi yang telah dilakukan sudah mencapai 700 pasien. Dimana setelah dilakukan operasi itu sekitar 80 persen sembuh dan tidak ada lagi kejang-kejang. Sementara 20 persennya lagi operasinya bukan tidak berhasil atau gagal, namun mendapatkan kebaikan yang banyak dan kejangnya itu terjadi sekali-kali saja.

“20 persen itu yang biasanya dia kejang-kejang dalam satu bulan itu lima kali dan setelah operasi dia berobah kejang-kejang 5 kali dalam satu tahun. Sejauh ini khus untuk Provinsi Kepri operasi yang dilakukan untuk pasien epilepsi itu ada sekitar 7 orang,” ungkap dosen spesialis bedah saraf universitas Diponegoro Semarang itu.

dr. Yuriz Bakhtiar, yang juga dosen di universitas Diponegoro Semarang mengatakan, masyarakat jangan teristekma bahwa epilepsi itu adalah penyakit keturunan atau penyakit kesurupan. Epilepsi itu penyebabnya sebagian besar adalah ada kelainan atau kerusakan diotak, hal itu terjadi saat otak dibentuk waktu didalam rahim atau kandungan.

Itu bisa terjadi dari berbagai hal, diantanya adalah ketika seseorang ibu hamil dan tidak mengetahui bahwa dia hamil, dia baru mengetahui kehamilannya itu setelah empat bulan, padahal otak calon bayi itu dibentu pada bulan pertama.

“Jadi jika saat pembentukan otak itu seorang ibu tidak memperhatikan makanannya dan gizinya. Selain itu bisa juga dikarenakan ibu yang hamil mengkonsumsi obat-obatan, maka itu akan bisa membuat anaknya akan mengalami epilepsi,” ucap Yuriz.

Selanjutnya, ada juga dikarenakan kelamaan dijalan lahir, membuat pasokan oksigen keotaknya terganggu sehingga meninggalkan titik lemah keotak dan mengakibatkan epilepsi.

“Untuk mencegah supaya hal itu tidak terjadi maka bagi ibu-ibu yang hamil harus betul-betul memperhatian kehamilannya itu yakni dengan melakukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Sementara itu, Manager Pengembangan Bisnis RSAB Batam, dr. Shinta Trilusita, MARS mengatakan para dokter RSAB Batam yang akan menanggani penyakit epilepsi akan diberikan pembekalan oleh ahlinya nanti.

“Nanti kami kerjasama sama dengan Prof Zainal Muttaqin dan para dokter akan dibimbingnya suapaya mempunyai ilmu yang cukup dalam melayani pasien,” ucap Shinta.

Ditambahkannya, untuk peralatan di RASB Batam sudah ada, dalam satu bulan ini akan dilengkapi semunya dan apabila alat sudah lengkap dan dektor-dokternya sudah siap maka akan langsung dibuka pelayanan operasi epilepsi itu.

“Penyakit epilepsi ini dimana-mana pasti ada. untuk di Provinsi Kepri dan khususnya Batam selama ini pengobatannya belum maksimal oleh karenanya ini dikembangkan,” bebernya.(Cw64)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed