Sedikit Bakti Ananda

fery heriyanto

fery heriyanto

Cerpen: Fery Heriyanto

“Assamualaikum, Da Riq. Apa kabar? Semoga sehat…Insya Allah, Ibu Ayah jadi naik haji tahun ini, masuk Kloter 5…Kami berencana pulang ke rumah dua pekan lagi..Da Riq bisa pulang? Biar kita bisa kumpul semua di rumah…” Sebuah pesan singkat diterimanya dari Mila, sang adik.
Langsung ditekannya keypad telepon genggamnya.
“Assalamualaikum, Bu…Ibu sehat?”
“Waalaikumsalam, Nak..ibu ayah, sehat..Ariq bagaimana? Sehat kan, Nak..?” balas sang ibu dari ujung telepon.
“Alhamdulillah.. Kata Mila, ibu ayah masuk Kloter 5 ya?”
“Insya Allah, Nak..kalau kamu tak sibuk, pulanglah barang sehari sebelum kami masuk asrama haji..bawa cucu-cucu ibu sekalian..”
“Insya Allah, Bu..Ibu Ayah jaga kesehatan ya..”
“Ya, Nak..Baik-baik kamu ya..”
Selama perjalanan menuju rumah, dia membuka jadwal penerbangan yang harus dijalaninya.
“Kloter 5..29 Oktober..jadwal penerbangan ke Yogya..” ucap dalam hati.
Terbayang di benaknya, setiap musim haji, dirinya selalu sibuk untuk penerbangan domestik. Kalaupun ada penerbangan internasional, itu lebih dikarenakan ada rekan sesama pilot minta diganti karena urusan penting di keluarga.
“Kloter 5..29 Oktober…” Jadwal itulah yang selalu diingatnya.

***

Sepekan menjelang keberangkatan orang tuanya ke Tanah Suci, Ariq belum juga bisa memberikan kabar untuk bisa pulang ke rumah orang tuanya. Sementara sang kakak dan adiknya terus menanyakan hal itu.
“Da Riq..Kapan bisa pulang?” Sebuah pesan singkat kembali diterimanya.
“Iya, Mila..Da Riq lagi usahakan..Penerbangan sangat padat. Da Riq tak dapat cuti…Bantu sampaikan sama ibu ayah, jaga-jaga kesehatan,” ucapnya saat bicara langsung dengan sang adik.

Kerap mendapat pertanyaan untuk kapan bisa pulang, sedikit menggangu pikirannya. Jika dia ingat itu, terbayang wajah sang ibu dan ayahnya. Menari-nari di benaknya wajah renta kedua orang tuanya itu dipenuhi dengan kerinduan. Saat kakak, adik, serta seluruh ponakannya sudah berkumpul di rumah, sementara dia sendiri belum juga datang. Jangankan untuk datang, memastikan kapan bisa pulang, dia masih bimbang.

“Assallamualaikum, Bu…Bagaimana, sehat-sehat kan?” tanya dia dari ujung telepon selulernya.
“Alhamdulillah, Nak..tanggal 28 kami sudah masuk asrama haji…Ada waktu kamu pulang?”
“Ariq lagi usahakan, Bu..soalnya, jadwal penerbangan sangat padat…”
“Ya, tak apa-apa, Nak..Jika memang tidak bisa, jangan dipaksakan. Utamakan orang-orang yang sangat membutuhkan kamu. Baik-baik ya, Nak..Oya, maaf lahir bathin ya, Nak.. Kalau selama ini ibu ayah telah membuat kamu susah. Doa kami, semoga kamu diberi kesehatan, keselamatan, dan selalu mendapat lindungan dariNya…sampaikan salam ibu ayah untuk cucu-cucu kami..Doakan, semoga ibu dan ayah bisa menjalankan ibadah ini..” ujar sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu seperti itu, dia mulai merasa bersalah. Pikirannya makin tak tenang. Perasaan makin bersalah itu pun makin menghantui manakala usai komunikasi dengan sang ibu, jadwal penerbangan yang harus dilaksanakannya, kembali datang.
“Makin tipis harapan untuk pulang…” gumamnya dengan hati gusar.

Bayangan wajah orang yang telah memberikan seluruh hidupnya demi kesuksesan dirinya kian menyeruak. Secara bersamaan, hari-hari kecil yang dilaluinya hingga kini, tergambar di benaknya. Bagaimana dulu ibu mengantarkannya pergi sekolah taman kanak-kanak. Bagaimana ibu menyiapkan sarapan setiap hari. Bagaimana ibu, meski hujan deras datang ke sekolah membawa payung agar dia tidak kehujanan. Meskipun dalam kondisi tidak sehat, ibu masih tetap mengerjakan pekerjaan rumah. Tengah malam ibu bangun, dan mengusap kepala anak-anaknya usai shalat tahajud. Doa-doa terus dipanjatkanya untuk kesuksesan anak-anaknya.

Yang paling diingatnya ucapan sang ibu, “Kalau berhasil setelah dewasa nanti, jadilah orang berhasil yang berguna bagi orang banyak. Berguna untuk agama, keluarga, dan masyarakat.”

Terbayang juga saat mau ujian kelas, ibu yang paling memberikan perhatian. Seluruh keperluan disiapkan. Kalau tidak ada soal untuk simulasi, ibu langsung menjumpai tetangga untuk foto copy materi kisi-kisi soal punya anaknya. Ibu tidak pernah kenal lelah. Ibu rela menahan seluruh keinginannya agar segala kebutuhan sekolahnya dapat dipenuhi. Tergambar juga bagaimana saat wisuda pilot 15 tahun lalu, ibu sujud syukur di mesjid di dalam lingkungan akademi penerbangan.

Kini ibu ayah hanya minta waktu sehari untuk pulang sebelum dia pergi haji.
Ariq makin tak dapat menyembunyikan kegusarannya. Terbayang lagi, dalam mengisi hari tuanya, sering juga ibu ayah berkunjung ke rumah Uda Ikhwan atau adiknya, Kamila, atau ke rumah keluarga di kota lain dalam waktu yang lama, namun tidak pernah meminta perhatian seperti ini. Tapi, kali ini tidak.

Sesampai di mess para pilot, Ariq berusaha untuk tenang. Tapi, lagi, wajah ibu ayahnya terus menari di pikirannya. Usai makan malam dan akan istirahat, tiba-tiba telepon genggamnya berdering.

“Kapten Ariq, apa kabar?” suara sang pimpinan dari ujung teleponya.
“Baik, siap..sehat, komandan. Ada perintah?”
“Tanggal 29 Oktober Anda dialihkan untuk penerbangan ke Arab Saudi membawa Kloter 5, menggantikan Kapten Satria yang dialihkan untuk penerbangan ke Tokyo. Surat perjalanan segera dikirimkan”
“Siap, perintah diterima…”

***
“Nak, kami sudah di asrama haji.. Insya Allah, siang besok berangkat..Doakan kami. Baik-baik bekerja. Di Tanah Suci, Insya Allah kami panjatkan doa agar kamu sekeluarga, Uda Ikhwan dan Kamila juga bisa berhaji nantinya,” ucap sang ibu melalui telepon selulernya.
“Ya, Bu..Aamiin”
Tepat pukul 08.00, seluruh jamaah calon haji Kloter 5 sudah diberangkatkan menuju bandara untuk diterbangkan ke Tanah Suci. Sesampai di Bandara, seluruh jamaah langsung masuk pesawat. Para panitia haji dan seluruh kru pesawat sibuk melayani seluruh jamaah. Di luar Bandara dan sebagian di ruang keberangkatan, para keluarga jamaah tampak melambaikan tangannya. Wajah-wajah haru tergambar dari seluruh para pengantar.

“Assalamualaikum..selamat datang dalam perjalanan ke Tanah Suci. Beberapa saat ini, kita akan menuju Arab Saudi…….Pesawat ini dipiloti oleh Kapten Pilot M Ariq Al Habsyi…” ucap kru pesawat di sela-sela para pramugara dan pramugari melayani seluruh jamaah.

Setelah menempuh penerbangan sekitar delapan jam, akhirnya pesawat yang membawa 450 jamaah calon haji itu landing di Bandara King Abdul Aziz, Arab Saudi. Seluruh penumpang diarahkan untuk bersiap turun seraya diminta mengemas barang-barangnya. Para pramugara dan pramugari langsung aktif membantu para jamaah yang mengumpulkan segala bawaannya. Sementara, dari kockpit, Ariq dan co pilot segera keluar dan langsung mengambil posisi di depan pintu keluar pesawat. Setiap calon jamaah yang turun, disalami satu per satu dengan senyum mengembang.

“Selamat menunaikan ibadah haji, Pak..Bu..” ucap mereka kepada setiap jamaah.
Lebih setengah dari seluruh penumpang sudah turun pesawat. Dari balik kacamata hitam yang dipakainya, dilihatnya kedua orang tuanya mulai mendekat pintu keluar. Usia renta menyebabkan orang tua itu tak dapat berjalan cepat. Tepat di pintu pesawat, disalami kedua orang tua itu dan dipeluknya erat.
“Ariq…Ariq kah ini, Nak…?” ucap sang ibu dengan pandangan tak percaya.
Ditatapnya sang anak dengan penuh rindu dan kasih sayang. Diusapnya pipi sang anak yang basah oleh air mata. Sang anak pun melepas kaca mata hitamnya. Matanya berkaca-kaca.
“Ibu rindu padamu, Nak…terobati sudah rindu ibu sama kamu, Nak..Ariq telah antar kami ke Tanah Suci..Terima kasih, nak…” ucap sang ibu dengan mulut bergetar. Air mata berlinang di pelupuk matanya.
“Selamat datang di Tanah Suci, Bu..Ayah… Ini yang baru bisa Ariq berikan pada Ibu..Ayah. Selamat menunaikan ibadah haji…Semoga menjadi haji mabrur…,” ucapnya seraya langsung bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.***

Asrama Haji, Batam, 1436 H/2015

*) “Oleh-oleh” meliput penyelenggaraan haji di Embarkasi/Debarkasi Batam.

  • Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater ‘O’ USU Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri.***