Oknum Guru Cabuli Murid Langgar Kode Etik

dadangHZ Dadang AG. (ricobarino/haluankepri.com)

dadangHZ Dadang AG. (ricobarino/haluankepri.com)

  • PGRI Tidak Berikan Bantuan Hukum

TANJUNGPINANG (HK) – Ketua PGRI Provinsi Kepri, HZ Dadang AG mengatakan oknum guru berinisial Pdb (25) yang diduga telah melakukan tindakan tindak pidana asusila sesama jenis terhadap seorang muridnya, telah melanggar kode etik guru.

“Dengan demikian, guru seperti itu kita (PGRI) tidak akan membela atau tidak memberikan bantuan hukum,” tegas Dadang yang juga Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Selasa (13/8/2019).

Dikatakan Dadang, apabila oknum guru tersebut benar atau terbukti melakukan tindak asusila, PGRI dalam hal ini tidak akan melakukan pembelaan. Karena tegas Dadang, prilaku menyimpang tersebut sudah sangat mencoreng nama baik guru dan nama baik dunia pendidikan.

“Selain itu kami sangat prihatin, karena masih saja ada kasus seperti itu. Terkait ini PGRI tidak memvonis, kita lihat dulu proses hukumnya dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan,” jelas Dadang.

Beberapa hari lalu, Pdb (25) yang berprofesi sebagai guru di salah satu Sekolah Menengah Kejujuran (SMK) di Tanjungpinang telah diamankan pihak kepolisian. Sehingga kata Dadang, pihaknya akan memastikan terlebih dahulu apakah oknum guru tersebut terdaftar sebagai anggota PGRI.

“Kalau dia terdaftar sebagai anggota PGRI akan kita cabut ke anggotaannya. Karena tidak semua guru baik itu guru di sekolah negeri ataupun sekolah swasta yang terdaftar sebagai anggota PGRI. Namun terlepas dari itu, kasus-kasus yang melibatkan oknum guru ini saya harap tidak terulang lagi,” ungkap Dadang.

Dadang juga mengimbau kepada guru-guru di Tanjungpinang dan umumnya di Provinsi Kepri, bahwa saat ini pola mendidik tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga memberikan pendidikan. Dan pendidikan itu bisa macam-macam. Termasuk memanfaatkan teknologi, di era teknologi ini sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan.

“Jangan sampai teknologi itu dijadikan sebagai ancaman atau hal negatif lainnya, itu tidak benar. Guru memang harus melek teknologi, yang dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkas Dadang. (rco)