Cagar Budaya “Dibongkar” Tanpa Libatkan Tenaga Ahli

Sejumlah pekerja sedang memotong tepian patung naga di rabung atap Kelenteng Tien Hou Kong. ISTIMEWA

TANJUNGPINANG (HK) – Benda Cagar Budaya tidak bergerak, yakni Kelenteng Tien Hou Kong atau dikenal Vihara Bahtra Sasana, di Jalan Merdeka, KotaTanjungpinang “dibongkar” tanpa melibatkan tenaga ahli. Padahal, bangunan yang telah berusia ratusan tahun tersebut dilindungi UU Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya.

Pembongkaran cagar budaya tersebut dilakukan untuk merenovasi bagian gedung yang sudah lapuk karena temakan usia. Beberapa pekerja berpakaian kaos tanpa didampingi ahli cagar budaya memotong tepian patung naga di rabung atap klenteng.

Hal ini diketahui oleh Ketua Pelestari Nilai Adat dan Tradisi (Pesilat) Kepulauan Riau, Yoan S Nugraha, yang menyesalkan renovasi benda cagar budaya tidak melibatkan tenaga ahli. Padahal sudah sangat jelas di depan Vihara tersebut berdiri plang kuning yang betuliskan Benda Cagar Budaya yang dibangun pada Tahun 1857, dan dibawah naungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar, Sumatera Barat.

“Kebetulan saya mengetahui beberapa hari lalu pengerjaan tersebut, kemudian saya langsung menghubungi pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang untuk menindak pengerjaan renovasi tersebut,” ungkap Yoan, Senin (9/9).

Yoan menyayangkan, pengurus vihara beserta Disbudpar tidak melakukan koordinasi dan komunikasi dengan tim ahli BPCB sebelum memugar bangunan tersebut. Dia mengaku tak menjumpai tenaga ahli maupun pengawasan dinas terkait saat pekerja membongkar bagian atap vihara tersebut.

“Jujur, kami miris melihat kondisi Vihara yang diobrak-abrik seperti itu, meski alasannya untuk renovasi, tapi objek itu merupakan cagar budaya yang artinya dilindungi UU dan setiap orang dilarang merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya,” pungkasnya.

Sementara itu, saat dihubungi Kepala Seksi Pelindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB wilayah Sumatera Barat, Riau dan Kepri, Agus Tri Mulyono menyampaikan pemugaran (renovasi) Cagar Budaya vihara tersebut yang dilakukan pihak pengelola adalah salah.

“Kami tidak pernah dimintai atau disurati mengirimkan ahli untuk pemugaran itu. Namun namanya pemugaran tentu harus melibatkan tenaga ahli dari BPCB, kalau tidak tentu salah dan akan bermasalah,” ungkapnya.

Diakui Agus, Pemerintah Kota Tanjungpinang pernah menyurati pihaknya untuk pemugaran Cagar Budaya tersebut, tapi pada tahun 2018 lalu. Namun untuk pemugaran vihara saat ini tidak pernah dimintai untuk melakukan pengawasan dan pendampingan.

“Karena pemugaran sudah terjadi, maka harus didudukkan kembali. Ya kalau sekarang sudah terjadi seperti itu harus dihentikan sementara, hingga tim ahli datang,” jelasnya. (rco)

(Visited 90 times, 1 visits today)