Foto Keluarga

fery-heriyanto

fery-heriyanto

Cerpen: Fery Heriyanto

“Kak, kalau tidak sibuk, tolong kirimkan foto-foto kita dulu,” ucap Yusuf via SMS kepada kakaknya, Kamila.
“Ya, nanti kakak kirimkan,” balas sang kakak.
“Janji, ya…”
“Ya..”
Sehari, dua hari, tiga hari, foto-foto yang diminta tak jua kunjung tiba.
“Kak, mana foto-foto itu,” ucap Yusuf dari ujung telepon.
“Kakak lagi sibuk, dek..Sabar,” jawab Mila.
“Kalo tak, repro, kirim via WhatsApp,” balasnya lagi.
“Ya..akak belum sempat bongkar-bongkar kamar..nanti ya,” balas sang kakak lagi.
“Mohon, Kak..”
“Ya..ya…” timpal Kamila sambil menutup handphonenya.

“Foto…? Kenapa foto itu menjadi permintaannya? Tak biasa. Selama ini jika dia telpon, yang diminta paling makanan, baju, dan pulsa…sekarang foto…Ada-ada saja,” gumam Mila dalam hati.

Sejak tiga tahun terakhir, setelah kuliah di kota lain, Yusuf memang jarang pulang. Kalau pun pulang hanya saat libur kuliah. Namun, jika ada kegiatan kampus, dia sampaikan ke ibu dan ayah, tak bisa pulang. “Maaf, Bu, Yusuf tak pulang libur semester ini. Ada kegiatan di kampus. Nggak apa-apa, ya,” ucapnya pada libur semester kemarin. Ibu yang kerap rindu sama anak bungsunya itu hanya bisa membalas lembut.
“Ya, Nak..hati-hati di sana..jaga diri. Kalau ada apa-apa, cepat kabari ibu. Jangan lupa beritahu Uda Ikhwan, Uda Ariq, dan Kak Mila,” ucap Ibu saat menelpon anak kesayangannya itu.

***

“Akak…lagi sibuk ya…?” sapa Yusuf dari ujung teleponnya.
“Akak lagi di kantor. Akak belum sempat cari foto itu…” balas Mila yang sudah tahu jika adek bungsunya itu menagih foto yang diminta beberapa waktu lalu itu.
“Iya, udah hampir sebulan Yusuf tunggu, tak datang-datang juga..”
“Akak agak sibuk akhir-akhir ini..tunggulah, ya.”
“Kapan, kak?”
“Tunggu aja. Pokoknya Akak kirim jika sudah jumpa.”
“Berapa lama…?”
“Pokoknya tungggu aja.”
“Berapa lama?” ulangnya lagi.
“Besok,” ucap Mila menutup teleponnya.

***

“Assalamualaikum…Akak…”
“Waalaikumsalam…Yusuf!”
Mila tampak kaget melihat Yusuf sudah berada di depan pintu rumahnya. Padahal hari sudah pukul 23.14 WIB. Yusuf langsung saja menyosor masuk dan menghempaskan badannya di kursi ruang tamu.
“Wah, macet di jalan minta ampun,” ucap Yusuf seraya menarok tasnya di meja.
“Kenapa tak beri kabar Akak dulu kalo mau kemari?,” ujar Mila seraya berjalan ke dapur dan kembali membawa segelas teh panas.
“Mau beri kejutan pada Akak,” balasnya sambil meneguk teh tersebut.
“Yusuf sudah tunggu-tunggu foto itu..Akak belum juga kirim. Jadi, Yusuf, izin dua hari kuliah.”
“Waalaah..dek..gara-gara foto aja mau izin kuliah.”
“Nggak apa-apalah..”
“Memangnya untuk apa?” tanya Mila.
“Tak de..”
“Trus kenapa sampai ngotot minta dikirim foto-foto itu…Dah, istirahatlah dulu. Tidur di kamar sana. Besok, cari di kamar situ,” ujar Mila pada Yusuf.

***

Sehari di rumah Mila, Yusuf membongkar dokumen keluarga. Memang, sejak, Mila punya rumah sendiri, sebagian besar dokumentasi keluarga dibawa ke rumahnya. Mila memang suka mengoleksi benda-benda keluarga terutama foto-foto. Sifat kakak perempuan satu-satunya itu hampir sama dengan ayahnya, suka mengoleksi hal-hal yang berkaitan dengan sejarah. Mila sengaja menyiapkan satu kamar untuk dijadikan pustaka keluarga. Ayah dulu pernah bercita-cita membuat pustaka keluarga di rumah tempat kami dibesarkan. Namun, karena terbatasnya ruang, harapan ayah itu belum tercapai. Dan saat Mila membeli rumah, dia langsung menyiapkan satu ruang untuk pustaka kelurga. Di ruangan itu, tidak hanya ada foto-foto, tapi seluruh hal yang berkaitan dengan perjalanan hidup keluarga ada di situ, mulai dari baju, buku-buku, boneka, mainan-mainan, hadiah-hadiah, tiket pesawat dan kapal, sepatu, sandal, hingga buku coret-coret semasa sekolah mereka ada. Namun, karena kesibukan kakaknya, dokumentasi itu belum tersusun rapi. Semua bertumpuk-tumpuk. Diantara tumpukan-tumpukan itulah Yusuf mencari foto yang diinginkannya.

Hampir seharian dia dalam ruang itu, belum juga dia menemukan foto yang diinginkannya. Sementara, jadwal bus yang akan membawanya kembali ke kota tempat dia kuliah, makin dekat. Setelah sedikit putus asa, akhirnya dua jam jelang berangkat, barulah foto yang dicarinya jumpa.

“Alhamdulillah, akhirnya jumpa,” gumam Yusuf dengan wajah gembira.

Tanpa buang-buang waktu, dia segera mandi, lalu makan, dan segera berangkat menuju stasiun bus.
“Akak, fotonya udah Yusuf dapat. Tapi maaf, tak sempat dirapikan tadi. Akak aja yang rapiin ya..Terima kasih, Akak..” ucapnya dari ujung telepon. Mila hanya bisa menghela nafas. “Ya, hati-hati di jalan,” ucapnya singkat. “Sampai disana, beri kabar cepat, ya,” ucapnya lagi. “Siiaap, Kakak yang baik.”

***

Kedatangan Yusuf ke rumah Mila untuk mencari foto, sampai ke telinga, Uda Ikhwan, Uda Ariq, dan Ibunya. “Untuk apa foto itu sama Yusuf, Nak?” tanya ibu pada Mila.
“Nggak tahu, Bu. Dua bulan lalu tiba-tiba dia minta dikirimkan foto. Mila tak sempat kirim. Eh, dua hari lalu dia nyampe di rumah tengah malam. Lalu besok sorenya dia udah balek,” terang Mila menceritakan soal Yusuf.
“Sama Ibu dia tak minta. Ada apa dengan dia?” tanya wanita paroh baya itu.
“Tak usah Ibu risaukan. Dia tampak senang. Rasanya tidak ada yang aneh, kok,” ujar Mila menghibur sang Ibu.
“Ya, sudah..Ingatkan terus dia soal kuliahnya,” ucap sang Ibu.

***

Sejak meminta foto itu, Yusuf jarang lagi menghubungi Mila. Paling, kalau ada waktu, kakaknya itu menanyakan kondisinya via WhatsApp.
“Dek, apa kabar? Bagaimana kuliahnya?”
“Sehat, Kak..Yusuf lagi sibuk kuliah… Apalagi skripsi sudah setengah jalan. Yusuf targetkan selesaikan tahun ini. Ada jadwal wisuda Oktober nanti. Kalo bisa wisuda saat itu…”
“Bagus itu…usahakanlah..biar kita semua hadir wisuda adek bungsu akak ini,” jawab Mila.
“Siaap, Akak..doakan ya..”
Sibuk yang dikatakan Yusuf memang membuat perbedaan dalam komunikasinya dengan keluarga. Dia tidak seperti sebelumnya. Biasanya, kalau ada apa-apa, Mila yang selalu menjadi tempat dia mengadu, minta pulsa, buku, baju, sepatu, dan sedikit transfer uang jajan. Anak bungsu. Memang, sejak lahir, Kamila dekat dengan adeknya itu. Selalu bermanja-manja. Walaupun sekarang berbeda kota, tapi, kedekatan mereka selalu terjaga. Sedangkan dua kakaknya, Uda Ikhwan dan Uda Ariq, juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Sering kali dua kakak lelakinya itu minta Yusuf main ke rumahnya, namun, karena kuliah dan jadwal libur yang pendek, Yusuf hanya bisa pulang ke rumah Ibu dan Ayah.

***

“Assalamualaikum, Bu..Ibu dan Ayah, apa kabar? Semoga sehat. Alhamdulillah, Yusuf bisa wisuda Oktober ini. Semua harus datang ya.. ” Sepenggal kabar itu langsung menyebar ke seluruh keluarga. Suasana gembira terasa, apalagi ibu dan ayah. Kamila, Uda Ariq, dan Uda Ikhwan, sampai menjadwalkan tiga hari jelang dan sesudah wisuda Yusuf, cuti kerja.

Saat makan siang usai wisuda, Yusuf, tiba-tiba berdiri dan minta waktu.
“Sebenarnya begini, sejak berpisah dari keluarga, saat mulai kuliah disini, Yusuf jadi makin sayang pada semua. Yusuf selalu kangen pada suasana dulu. Makanya Yusuf minta foto-foto dari Akak. Dari cerita yang Yusuf dengar, saat lahir dulu, Ayah sambut Yusuf dengan azan, sapaan sayang dari Ibu, panggilan adek dari Akak, Uda Ariq, dan Uda Ikhwan. Semua menumpahkan kasih sayang penuh pada Yusuf. Doa-doa dipanjatkan sepanjang hari. Tak ada kata-kata lelah sampai Yusuf menamatkan kuliah. Kini, Alhamdulillah, Yusuf sudah tamat. Terima kasih atas kasih sayang yang Yusuf terima. Kebetulan hari ini, 29 Oktober, tepat Yusuf wisuda, Ibu ulang tahun. Yusuf tak ada hadiah, namun, ada lukisan kecil dari foto saat Yusuf digendong ibu waktu Akak ulang tahun ke-8. Selamat Ulang Tahun Ibu. Doa dan kasih sayang Yusuf dan kami untuk ibu.”

Perumahan Cendana, 28 Oktober 2016

—Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater “O” USU Medan. Sekarang jurnalis di Kepri.***