Pemko Tpi Dinilai Tak Serius Awasi Cagar Budaya

BANGUNAN bagian tengah sudah dibongkar dan digantikan dengan beton pada cagar budaya Kelenteng Tien Hou Kong atau dikenal Vihara Bahtra Sasana di Jalan Merdeka, KotaTanjungpinang, beberapa waktu lalu. Foto : Rico Barino/Haluan Kepri

TANJUNGPINANG (HK) – Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dinilai oleh sejumlah pihak tidak serius mengawasi dan melestarikan situs cagar budaya yang ada di Kota Gurindam ini.

Salah satunya pemugaran Cagar Budaya Klenteng Tien Hou Kong atau Vihara Bahtra Sasana yang menyalahi aturan ternyata sudah lebih kurang satu tahun pembangunan renovasi tersebut berjalan. Namun sayangnya tidak ada tindakan dari dinas terkait, sejumlah pihak menilai seperti ada pembiaran.

Daeng Firman Afriansyah, seniman foto Kota Tanjungpinang merasa kecewa terhadap Disbudpar Kota Tanjungpinang. Pasalnya Firman adalah orang pertama yang melaporkan adanya pembanguan di situs cagar budaya ratusan tahun tersebut, ke Disbudpar Kota Tanjungpinang.

“Sekitar Agustus 2018 lalu, saya berada di vihara itu dan cukup terkejut menyaksikan langsung pembongkaran cagar budaya itu. Perlu diketahui, cagar budaya itu salah satu spotfoto yang ada di kota tua. Karena keasliannya terjagalah banyak fotografer lokal bahkan dari luar kota datang hanya untuk mengambil foto disitu,” ungkap Firman, Jumat (13/9).

Atas temuan tersebut, Firman berinisiatif untuk melaporkan ke Disbudpar Kota Tanjungpinang. Namun saat itu, kata Firman Bidang Cagar Budaya mengaku bahwa renovasi cagar budaya sudah mendapatkan izin (rekomendasi) untuk pemugaran.

“Jadi saat itu saya pasrah saja, walaupun merasa sedih juga. Tetapi sekarang menjadi heboh, karena menyalahi aturan. Artinya sudah satu tahun pemugaran yang tidak sesuai aturan ini, dibiarkan,” ujar Firman.

Terpisah, Ediyanto, Ketua Ikatan Tionghoa Muda (ITM) Provinsi Kepri mengampaikan bahwa pihaknya juga menyangkan adanya permasalahan tersebut. Edi sapaan akrabnya, tidak menginginkan menyalahi salah siapa, namun lebih kepada dengan adanya hal ini merupakan tanggungjawab bersama karena sudah terjadi.

“Saya tidak mengetahui pasti, proses renovasi ini seperti apa dan bagaimana. Mungkin pihak yayasan yang bisa menjelaskan hal tersebut dan kami tidak mau ikut sampai kesana. Inikan sudah berjalan lama, kenapa baru sekarang dipermasalahkan. Kalau memang sejak awal kemarin menyalahi aturan, seharusnya dinas terkait sudah menegur,” ungkapnya saat dihubungi melalui sambungan seluler.

Menurutnya, dari sisi lain dengan adanya renovasi ini agar memberikan kenyamanan yang lebih baik karena Klenteng Tien Hou Kong atau Vihara Bahtra Sasana merupakan tempat ibadah. Namun disisi lain juga merupakan cagar budaya yang harus dilindungi, tentu harapan dirinya tidak menghilangkan histori cagar budaya yang ada.

“Kami juga menghimbau kepada dinas terkait untuk lebih aktif dalam menjaga cagar budaya, bukan hanya vihara namun cagar budaya yang ada di Tanjungpinang yang banyak perlu diperhatikan. Dan kejadian seperti ini tidak terulang kembali, kepada cagar budaya lainnya. Bahwa untuk melakukan pemugaran cagar budaya itu ada mekanisme yang harus dipatuhi dan dijalani,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tanjungpinang, Meitya Yulianty mengatakan dari hasil kesepakatan semua pihak terkait disepakati untuk mengembalikam kebentuk semula. Walaupun dengan bahan bangunan yang berbeda, baik itu bangunan, ukiran dan furniture yang ada didalam bangunan cagar budaya tersebut.

“Barang-barang seperti meja dan lainnya masih disimpan. Untuk pembangunan fisiknya dihentikan sementara hingga menunggu hasil kajian kelayakan dari BPCB. Tentunya dalam pemugaran nanti didampingi tim ahli. Yang penting kita tetap berusaha menjaga keasliannya,” tutupnya. (rco)

(Visited 43 times, 1 visits today)