Irama Alam

fery-heriyanto

fery-heriyanto

Oleh: Fery Heriyanto, Wartawan Haluan Kepri

Senin siang kemarin, Batam dan sebagian wilayah lain di sekitarnya kembali diguyur hujan. Padahal pagi harinya, ketika sebagian masyarakat pergi menuju ke tempat aktifitas masing-masing, cuaca cukup bersahabat. Kondisi itu disambut suka cita oleh banyak warga Batam.

Awal pekan seperti kemarin, banyak harapan yang digantungkan masyarakat. Ada yang ingin pekerjaannya pada hari pertama pekan ini berjalan lancar. Ada yang berharap, usaha yang mereka jalankan bisa lebih maju dari waktu-waktu sebelumnya. Ada yang ingin bisnis yang mereka jalankan bisa lebih berkembang. Ada juga yang berharap, jalan di Batam yang mereka lalui tidak macet saat mereka menuju ke tempat rutinitas masing-masing, dan sebagainya.

Namun di tengah perjalanan, kadang kenyataan yang dihadapi tidak sesuai dengan harapan-harapan mereka. Pekerjaan yang tengah dikerjakan, tiba-tiba tidak sepenuhnya selesai karena ada saja data-data yang kurang, hilang, atau memiliki masalah. Bisnis yang diharapkan ada perkembangan pada awal pekan, ternyata tidak tercapai. Mungkin banyak relasi yang belum memenuhi permintaan atau lainnya. Mungkin usaha yang dijalankan, harapan memperoleh untung, ternyata rugi yang diperoleh. Begitu pula, saat akan menuju ke tempat relasi yang sudah dijanjikan, tidak bisa dipenuhi karena telat akibat jalan macet. Begitu pula, saat berharap matahari bersinar cerah hingga sore, ternyata hujan deras turun di siang hari.

Begitulah skenario perjalanan hari yang dijalani. Kadang ada yang mulus sesuai impian, tapi tidak sedikit pula yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Apakah ada sesal dalam hati? Barangkali masing-masing individu kita yang bisa menjawabnya.

Kata orang bijak, apa yang kita alami dari detik ke detik waktu adalah irama alam yang wajib dilalui. Itulah “skenario” yang dimainkan. Sesal atau senyuman kah yang dihaturkan terhadap semua itu? Jawabannya tentu kembali lagi pada kita. Apakah kita masih bisa tersenyum dengan tidak tercapai harapan-harapan yang diinginkan? Atau malah menyesali semua kegagalan-kegagalan yang dijumpai?

Sebagian kita mungkin juga berpikir, mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Keadaan seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?

Mungkin, kalau kita sepakat, situasi yang tidak berpihak pada kita itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita, dan “bergurau”. Sesal, marah, atau jengkel itu muncul karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Itu terjadi karena banyak diantara kita yang egois. Kita lupa bahwa jika ada keinginan yang tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, walaupun senyuman kecil. Apakah kita sependapat? ***

Batam, Pengujung 2017