Relevansi Rukun Islam dan Kepemimpinan Modern

Furqon Al-Kalam

Furqon Al-Kalam

  • Oleh: Furqon Al-Kalam, Sekjend PD KAMMI Batam

“Islam dibangun di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadhan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)

Seiring berkembang pesatnya ilmu pengetahuan, teori-teori kepemimpinan modern bermunculan memenuhi jagad intelektual masyarakat. Berbagai sumber dipakai untuk menjadi referensi keilmuan dan penerapan dalam konteks perkembangan pengetahuan. Tidak jarang juga hal itu diimplementasikan dalam kehidupan sosial masyarakat kita, bahkan dalam lini terkecil sekalipun, sebut saja berorganisasi. Dinamika seperti ini sangat baik, apalagi jika didukung oleh hubungan yang baik antar pihak akademik dan aparat negara. Artinya, pengetahuan berkembang dan itu didukung oleh kepastian hukum yang berlaku.
Islam sebagai agama yang paripurna sejak lama memberi gagasan tentang kepemimpinan, baik itu diambil secara histori kenabian maupun pengkajian ilmiah teks-teks hadits yang membahas tentang itu. Bagian-bagian dari Islam itu sendiri yang tak kalah pentingnya untuk kita pahami seperti aspek aqidah, ibadah, dan akhlak, memberi makna tersirat agar pemahaman tentang berislam hakikatnya tidak sekedar tentang ritual ibadah semata, melainkan juga menyentuh ruang-ruang vital dalam tubuh masyarakat kita. Misalnya dalam konteks dasar-dasar yang menjadi pondasi bangunan Islam dan kaitannya dengan kepemimpinan modern sebagaimana hadits yang ditulis di awal tulisan ini, kita mendapati lima gagasan utama sebagai teori dasar kepemimpinan modern sebagai berikut:
Visioner
Syahadat sebagai pintu masuk ke dalam Islam secara sadar membimbing kita untuk berpikir visioner. Makna asyhadu pada hakikatnya tidak sekedar bersaksi, melainkan ikrar dan sumpah. Kita bersaksi, berikrar, dan bersumpah dengan segala konsekuensi bahwa Allah lah satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan cara menerjemahkan kata sesembahan itu adalah dengan cara mengikuti segala yang Dia wahyukan kepada Muhammad, baik dari sisi ritual ibadah maupun aktivitas sosial masyarakatnya. Dalam kepemimpinan ini mirip dengan visi-misi dan narasi. Kerja yang efektif dan efisien adalah yang memenuhi sasaran tujuannya. Tujuan itu dirumuskan dalam visi-misi dan narasi. Mau dibawa kemana kapal kepemimpinan dimulai dari sejauh mana seorang pemimpin mampu merumuskan visi-misi dan narasi. Visi berkaitan tujuan besar tentang kapal kepemimpinan, misi bercerita tentang langkah-langkah kecil yang harus diselesaikan menuju tujuan tersebut, adapun narasi membuat misi yang dijalankan terlihat begitu menawan sehingga orang-orang yang terlibat seakan tidak sedang memikul beban yang berat, melainkan berambisi menyelesaikan tantangan. Seperti halnya syahadat tadi, hidup seorang muslim pada akhirnya bukanlah hidup yang sembarang sesukanya tanpa arah dan tujuan, melainkan diarahkan sedemikian rupa dalam koridor yang jelas. Bahkan ketika manusia diciptakan pun Allah mengabarkan tentang tujuan peciptaan tersebut, “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyyat ayat 56).

Disiplin dan Komitmen
Ini intisari dari meneggakan salat. Dalam pelaksanaannya, salat diatur dengan waktu, syarat, gerakan, dan bacaan tertentu. Tidak tepat salah satu di antaranya, tidak sah salatnya. Bahkan dalam penerapannya, jika salat tidak dilaksanakan di waktu yang telah ditetapkan, jika itu didasari dengan alasan yang diterima maka terdapat keringanan untuk ditunaikan dengan jamak-qoshr, namun jika disengaja maka itu sebuah kelalaian yang akibatnya akan ditanggung di hari kemudian. Maka salat mengajarkan dua nilai penting, yatu disiplin dan komitmen. Disiplin menjembatani sebuah visi dengan misi yang efisien, sedangkan komitmen menjadikan sebuah kerja bernilai efektif. Ini bisa kita turunkan ke dalam rencana strategi yang matang, deskripsi kerja atau tupoksi yang sesuai dengan kapasitas sumber daya manusianya, dan batas waktu penyelesaian. Semua ini dilakukan agar ada hasil yang timbul sesuai dengan visi-misi yang telah disusun, sebagaimana salat pada akhirnya membawa orang yang mengerjakannya agar bisa terhindar dari perbuatan keji dan munkar, itu berarti setelah salat dilakukan sesuai dengan cara yang benar, ia juga akan membawa hasil yang baik. “Sesungguhnya salat mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar.” (QS.Al-Ankabut ayat 45).

Integritas
Bila jujur adalah menyampaikan kebenaran kepada orang lain, integritas adalah menyampaikan kebenaran kepada diri sendiri. Tidak ada yang tahu tentang bagaimana kualitas puasa kita selain diri kita sendiri dan Allah. Bagaimana pun sulitnya kita menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa, pilihan untuk meneruskan puasa atau membatalkannya itu akan kembali pada diri sendiri. Karenanya puasa juga merupakan prisai bagi seorang muslim yang dapat menjaganya dari melakukan hal-hal yang dilarang agama. Nabi bersabda, “Puasa adalah prisai.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim). Ini mirip dengan marwah kepemimpinan. Disegani atau tidak sebuah sistem kepemimpinan, tergantung dari bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya menjaga sistem tersebut agar tetap kukuh. Fungsi pengawasan bukan tidak penting, tetapi ia sebatas menjadi satu instrumen agar sistem tidak berjalan sembarang. Bila kepemimpinan terjaga marwahnya, maka kepercayaan akan hadir. Kepercayaan itulah yang mengukuhkan satu sistem kepemimpinan modern dan penjagaan sistem secara kolektif merupakan kunci dari marwah sebuah kepemimpinan.

Peduli
Ini mirip seperti program CSR (Corporate Social Rensposibility) pada satu perusahaan. Zakat selain sebagai wasilah penyucian harta, juga berfungsi untuk menumbuhkan kepedulian antar sesama. Di sekitar kita tentu masih banyak para mustahiq zakat dan mereka dalam sistem masyarakat yang heterogen ini adalah bagian yang tidak boleh dipisahkan. Maka menyejahterakan mereka adalah tanggungjawab bagi kaum muslimin. Karena itu diwajibkanlah zakat. Setidaknya dalam kepemimpinan modern, ini diterjemahkan sebagai sensitive feeling of leadership, bahwa selain sistem yang melahirkan kerja akan mencapai tujuan, masyarakat sebagai objek harus terus diperhatikan dengan cara memberi satu nilai tambah dari hasil sistem kepemimpinan tersebut sesuai kebutuhan mereka. Kuncinya adalah nilai, bukan sekedar hadir di tengah mereka tanpa ada nilai yang diberikan.

Totalitas
Menunaikan haji menyempurnakan rukun Islam. Di dalamnya terkandung tiga nilai ibadah yang menyatu; ibadah jiwa, ibadah harta, dan ibadah sosial. Ibadah haji tersusun dari serangkaian ibadah yang sarat makna, ditempuh dengan mengeluarkan harta yang tidak banyak, dan semua yang ikut di sana memakai pakaian yang sama, mengucapkan kalimat yang sama ketika Thawwaf. Ini seakan memberi pelajaran kepada kita tentang arti totalitas, bahwa serangkaian aktivitas yang menunjang satu sistem kepemimpinan modern hari ini belumlah sempurna bila tidak dikerjakan secara totalitas. Biasanya dampak dari poin ini adalah menentukan apakah satu sistem bisa relevan atau tidak. Maka totalitas secara maknawi adalah kesungguhan moral dalam kapal kepemimpinan. Ini bisa ditumbuhkan dengan cara terus melatih empat aspek sebelumnya secara maksimal hingga pada satu momentum tertentu zaman menuntut satu perubahan yang drastis, maka kepemimpinan tersebut tidak lah rapuh. Sebab dalam implemenasi penerapan ibadah haji yang sebenarnya, haji yang baik adalah haji yang mabrur,yang artinya haji tersebut membawa dampak dan bekas yang baik untuk diri seorang muslim. Maka kepemimpinan modern yang dijalankan dengan totalitas sesuai dengan visi-misinya akan terus relevan dengan zaman.

Inilah lima aspek rukun Islam yang erat kaitannya dengan kepemimpinan modern hari ini. Semua aspek tersebut bisa kita terjemahkan dalam bagian-bagian kecil dari kontribusi seorang pemimpin. Semoga bisa membuka wawasan kita agar terus mengembalikan satu dasar pengetahuan pada sumber yang seharusnya. Wallahu a’lam. ***