Sekjen Kemenag RI Beri Pembinaan Pegawai di Kanwil Kemenag Kepri

Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA, Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, foto bersama dengan jajaran di lingkungan Kanwil Kemenag Kepri. (istimewa)

Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA, Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, foto bersama dengan jajaran di lingkungan Kanwil Kemenag Kepri. (istimewa)

Tanjungpinang (HK) – Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA memberikan pembinaan pegawai di lingkungan Kanwil Kemenag Kepri. Kegiatan dilaksanakan di Aula Kanwil Kemenag Kepri Jalan Daeng Kemboja Km. 15 Tanjungpinang, Kamis (10/10/2019).

Hadir dalam kegiatan tersebut Kakanwil Kemenag Kepri Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, Ketua STAIN SAR Kepri Dr. Muhammad Faisal, Kakankemenag Bintan, Kakankemenag Tanjungpinang, Kakankemenag Lingga, para pejabat eselon III dan IV, para pegawai serta sejumlah undangan.

Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, dalam sambutannya memperkenalkan profil Kemenag Kabupaten/Kota. Menurutnya pegawai di berbagai daerah di Kepri masih kekurangan.

“Di Kepri masih kekurangan pegawai. Ada KUA yang masih tidak memiliki pegawai negeri. Hal ini juga terjadi di madrasah,” kata Kakanwil.

Sementara itu Sekjen Kemenag RI Nur Kholis dalam arahannya memberikan satu ilustrasi bagaimana sahabat Nabi kaum Anshor yang memiliki totalitas dalam menjalankan dakwah. Begitupun menurutnya jika jajaran Kanwil Kemenag Kepri memiliki totalitas, dedikasi, pengabdian dan keikhlasan, maka urusan reformasi birokrasi sangat ringan yang meliputi delapan area perubahan, karena kita sudah mendasari diri dengan ibadah.

Menurutnya jika pekerjaan tidak didasari dengan dimensi ibadah maka akan terasa berat. Dan akan mudah dihinggapi penyakit dengki. “Contoh, jika kita sudah merasa melakukan yang terbaik dalam pekerjaan kita, tapi kemudian yang dipromosikan orang lain. Dalam kehidupan hal-hal semacam itu sudah biasa,” ucap Nur Kholis.

“Tapi jika kita sudah bekerja dengan dedikasi, keikhlasan, totalitas dalam dimensi ibadah, kemudian kita mendapatkan kesempatan promosi maka kita tidak menjadi congkak dan takabur. Dan sebaliknya jika belum mendapatkan kesempatan maka tidak mudah galau apalagi sakit hati,” ucapnya lagi.

Sekjen juga berpesan agar aparatnya itu menyiapkan diri secara spiritual dalam bekerja. “Apalagi jika kita sudah diamanahi sebuah jabatan, jangan sayangi sebuah jabatan. Diamanahi kita bismillah dilaksanakan, jika diambil monggo. Artinya itu menjadi bagian yang lumrah dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai ASN Kemenag,” tegasnya.

“Apapun tugas yang kita emban, adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan. Tugas kita di Kemenag harus dimaknai sebagai ibadah horizontal, karena jika ibadah vertikal kita kurang dan tugas kita sebagai ASN tidak dimaknai sebagai ibadah horizontal, maka kita akan menjadi orang yang merugi,” ujarnya.

“Orang yang sedang ibadah sudah pasti akan berusaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang membatalkan ibadah. Jika semua aparatur Kemenag sudah mampu menjalankan pekerjaannya dengan niat ibadah kepada Allah SWT, maka tidak diperlukan lagi lembaga pengawas seperti Itjen, karena kita sudah mampu menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik,” pesan Sekjen.

“Jika basis filosofisnya ibadah karena Allah, maka kita yang menjadi aparatur Kemenag akan menjadi insan yang terhormat karena bekerja pada lembaga yang melekat nama agama disitu. Karena Kemenag melayani umat beragama, satu-satunya kementerian yang mampu menggaransi orang-orang makin baik”, pungkasnya. (r)