Sekjen Kemenag RI Berikan Kuliah Umum di STAIN SAR Kepri

Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA. (istimewa)

Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA. (istimewa)

Bintan (HK) – Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. H. Mohamad Nur Kholis Setiawan, MA memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepri. Kegiatan dilaksanakan di balairung STAIN SAR Kepri Jalan Lintas Barat Ceruk Ijuk, Bintan, Kamis (10/10/2019). Hadir dalam kegiatan tersebut Kakanwil Kemenag Kepri Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH,.MA, Ketua STAIN SAR Kepri Muhammad Faisal, Tokoh BP3KR Huzrin Hood, Kakankemenag Bintan, Kakankemenag Tanjungpinang, Kakankemenag Lingga, civitas akademika, dan ratusan mahasiswa yang memadati lokasi acara.

Ketua STAIN SAR Kepri, Muhammad Faisal, dalam sambutannya mengatakan, STAIN SAR baru berusia 2 tahun penegeriannya. Namun pihaknya sudah mencatat beberapa pembenahan.

“Mahasiswa kita trendnya terus meningkat, sudah ada 900 orang dengan jumlah dosen 90 orang. Tahun ini kita mendapatkan 50 dosen PNS baru dan tahun depan semoga Sekjen bisa menambah kekuatan dosen-dosen baru lagi dan dosen yang belum PNS dapat ditingkatkan statusnya menjadi PNS,” kata Muhammad Faisal.

“Kami senantiasa bekerja sama dengan Kanwil Kemenag Kepri terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana kampus. Seiring dengan bertambahnya jumlah mahasiswa tentu sarana pendukung juga diperlukan. Dan kami baru saja mendapatkan bantuan 45 kursi dari Kanwil Kemenag Kepri untuk perkuliahan kita,” tambah Faisal.

Sementara itu Sekjen Kemenag RI Nur Kholis Setiawan dalam kuliah umumnya mengatakan teknologi sudah menggantikan piranti dalam setiap sendi-sendi kehidupan. Semua menjadi serba internet optik. Segalanya serba internet.

“Masyarakat diperkotaan, antara konsumen dan produsen sudah didekatkan pada berbagai aplikasi, ini kemudian dikenal dengan era disrupsi, era dimana kemapanan tergoyahkan oleh berbagai aplikasi yang ada di telepon genggam saudara sekalian,” ucap Nur Kholis.

“Bayangkan, dengan aplikasi kecil, Blue Bird sebagai raksasa taksi harus gulung tikar jika tidak bergabung tergantikan oleh taksi online. Dunia akan berubah. Jika kemarin hanya orang-orang dengan ras tertentu saja yang bisa tampil di kancah internasional, tapi kini kancah internasional juga diisi oleh ilmuan-ilmuan yang tidak hanya menguasai teknologi tetapi juga religiusitas yang tinggi. Karena religiusitas sebagai dimensi etika,” ujar Sekjen.

Dengan demikian menurut Sekjen, saat ini mahasiswa sebagai generasi 4.0 yang dibutuhkan bukan hanya intelektualitas, penguasaan teknologi tetapi juga harus ada dimensi kemanusiaan dan religiusitas.

Sekjen menyebutkan dalam lima belas tahun terakhir, ada dua kata kunci yang sedang diseriusi oleh para periset, yakni peralihan kekuatan dan kemunduran Barat, Amerika dan Eropa. Jika ada peralihan kekuatan, kemunduran Barat, lalu beralih kemana? Ternyata peralihan kekuatan itu sedang terjadi dari Barat menuju ke Timur.

“Dunia menyebut China, Jepang, Korea, India dan Asia Tenggara. Dan Indonesia akan menjadi the next coming country, Indonesia akan menjadi kekuatan dunia baru di dunia Timur,” tambah Sekjen.

“Kenapa banyak pihak menjadikan Indonesia next coming country, saya melihat bukan dari sisi politik dan ekonomi. Rupanya ada nilai lebih Indonesia yang tidak dimiliki negara manapun, yakni kita memiliki keragaman yang sangat luar biasa. Karena kita mampu merawat keragaman, semua aspek keragaman untuk menjadi kekuatan yang sangat besar. Banyak negara yang ternyata tidak mampu merawat keragaman mulai dari Eropa Timur sampai Timur Tengah,” urai Sekjen.

“Dengan keragaman yang besar, dengan penduduk yang besar, dengan keragaman penduduk yang luar biasa, inilah yang akan menjadi modal kita untuk menjadi kekuatan baru dunia,” tambah Sekjen. (r)