Bimbingan Perkawinan Menjadi Program Nasional

Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA (tengah) foto bersama dengan peserta kegiatan Bimbingan Teknis Operator Aplikasi Pelaporan dan Database Bimbingan Perkawinan se-Kepri Tahun 2019. (istimewa)

Kakanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA (tengah) foto bersama dengan peserta kegiatan Bimbingan Teknis Operator Aplikasi Pelaporan dan Database Bimbingan Perkawinan se-Kepri Tahun 2019. (istimewa)

Tanjungpinang (HK) – Kanwil Kemenag Kepri melalui Bidang Bimas Islam menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Operator Aplikasi Pelaporan dan Database Bimbingan Perkawinan se-Kepri Tahun 2019. Kegiatan dibuka oleh Kepala Kanwil Kemenag Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA di Sampurna Hotel Tanjungpinang, Kamis (17/10/2019).

Kepala Kanwil Kemenag Kepri Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA dalam arahannya mengatakan, Kemenag memiliki sejumlah program unggulan tahun 2019, antara lain Finalisasi konten KIE Cegah Kawin Anak, Finalisasi PMA Bimbingan Perkawinan, Optimalisasi pelaksanaan Bimbingan melalui Juklak, Penguatan konten dalam Modul Bimbingan Perkawinan, Revisi buku bacaan mandiri bagi calon pengantin, Bimtek fasilitator bimbingan perkawinan, dan piloting Pusaka Sakinah di Kepri Baru tahun 2020, Bimtek operator aplikasi bimwin, Bimtek pengelolaan keuangan Keluarga, Bimtek membangun relasi Harmonis, Bimtek konsultasi dan Pendampingan, dan Bimtek pengelolaan Jaringan Lokal KUA.

“Bimbingan perkawinan menjadi program prioritas nasional. Pada 2017 lalu sudah dilakukan piloting di 16 Provinsi dengan target 149.646 pasang calon pengantin. Tahun 2018 pelaksanaan bimbingan 149.646 pasang Catin di 34 Provinsi dan tahun 2019 Pelaksanaan bimbingan 209.257 pasang catin di 34 Provinsi,” ujar Kakanwil.

Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan, H. Mustafa, mengatakan Kementerian Agama melalui KUA memang telah melaksanakan tugas melekat dalam bentuk Suscatin (Kursus Calon Pengantin), yaitu program pembekalan singkat kepada calon pengantin yang ingin melangsungkan pernikahan. Namun demikian, seiring dengan makin meningkatnya angka perceraian dari waktu ke waktu, Kementerian Agama lalu melakukan evaluasi efektifitas program tersebut. Satu kesimpulan besarnya, bahwa pelaksanaan Suscatin dinilai berjalan kurang efektif karena terlalu singkat dan kurang menyentuh aspek paling mendasar, yaitu terbangunnya kesadaran calon pengantin akan esensi rumah tangga. Bahkan dalam pelaksanaannya pun sangat fleksibel dan karenanya perlu dilakukan penguatan.

Satu gagasan besar yang akan menggantikan Suscatin adalah program Bimbingan Perkawinan (Binwin) sekaligus dijadikan program nasional penanggulangan angka perceraian dan pembentukan keluarga sakinah dalam rangka membangun SDM unggul dan berkualitas sesuai dengan nilai-nilai Nawa Cita. Ini juga berkesesuaian dengan pembangunan berkelanjutan PBB SDGs (Sustainable Development Goals). Program bimbingan pra nikah yang dilaksanakan secara nasional, sebagai bagian dari upaya Pemerintah bersama dengan stake-holders untuk mempersiapkan calon pengantin melalui program bimbingan perkawinan terstruktur melalui KUA.

Program Binwin ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang dikoordinasikan oleh KSP (Kantor Staf Presiden) dan BAPPENAS. Program Binwin dilaksanakan oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota melalui KUA Kecamatan dalam bentuk kelas pelatihan pembekalan selama 16 jam (dua hari) yang diisi oleh para instruktur terlatih, baik dari internal Kementerian Agama atau unsur masyarakat.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pelatihan yang komprehensif kepada para peserta untuk menunjang kelancaran rencana kerja pemerintah dalam mewujudkan keluarga sakinah melalui sistem aplikasi dan sebagai upaya untuk mewujudkan akuntabilitas dan tertib administrasi penyelenggaraan perkawinan. Jumlah peserta 20 orang dan dilaksanakan 17 s/d 18 Oktober 2019,” kata Mustafa. (r)