Memperkokoh Moderasi Beragama di Kepri

H. Muhammad Nasir

H. Muhammad Nasir

  • Oleh: H. Muhammad Nasir.S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Menyikapi arus budaya dan revolusi moral yang terjadi dalam era milenial saat ini, seluruh elemen sosial masyarakat global tersentak dengan kuatnya isu-isu intoleran dan new morality yang berkembang di tengah umat beragama. Hampir di belahan dunia isu global ini merambah dalam tatanan kehidupan beragama termasuk di Indonesia pada umumnya dan Kepulauan Riau pada khususnya. Sebagai masyarakat yang heterogen dan plural Kepulauan Riau yang berbasis archipelago memiliki berbagai macam budaya dan agama yang berkembang secara inheren yang bersifat melayuisme. Kondisi ini sangat strategis untuk memperkaya dan merawat negeri ini secara utuh menuju masyarakat yang aman damai dan sejahtera lahir dan batin. Tentu ini semua dapat terlaksana apabila masyarakat atau umat beragama berperan secara aktif bersama pemerintah membangun spirit moral agama yang kuat.

Disamping potensi tersebut, Kepri juga kaya dengan nilai-nilai keadaban yang bersifat melayuistik. Nilai-nilai ini disinyalir masih terpendam dalam bingkai sejarah yang kaku tanpa berdaya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak dan kalangan. Ibarat teori energy dalam ilmu fisika nilai keadaban yang ada saat ini hanya berbentuk energy kinetic (energy diam dan statis) yang mesti kita ubah menjadi energy potensial (energy bergerak dan berkembang). Sehingga endapan nilai yang ada dapat menjadi sebuah kekuatan untuk merajut idealisme moral agama secara utuh dan menjadi ciri dan kepribadian masyarakat Kepri. Oleh sebab itu, pendekatan lain yang dapat ditawarkan adalah memperkokoh moderasi beragama walaupun banyak pendekatan lain yang belum terungkap sampai saat ini.

Di Kepri moderasi beragama harus dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif). Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan, fanatik dan sikap revolusioner dalam beragama. Seperti telah banyak di bicarakan oleh para ahli agama. Moderasi beragama merupakan solusi atas hadirnya dua kutub ekstrem dalam beragama, kutub ultra­konservatif atau ekstrem kanan di satu sisi dan liberal atau ekstrim kiri disisi lain.

Pilihan pada moderasi dengan menolak ekstremisme dan liberalisme dalam beragama adalah kunci keseimbangan, demi terpeliharanya peradaban dan terciptanya perdamaian. Dengan cara inilah masing­masing umat beragama dapat memperlakukan orang lain secara terhormat, menerima perbedaan, serta hidup bersama dalam damai dan harmoni.

Dalam masyarakat multikultural seperti Kepri, moderasi beragama bisa jadi bukan pilihan melainkan kemestian yaitu untuk, pertama, membangun imeg Kebangsaan Yang utuh berazaskan melayuisme yang agamis.

Sistem kepercayaan yang tumbuh dan berkembang di tanah Melayu Kepri telah terbukti secara kuat tidak dapat dipisahkan antara nilai agama dan nilai kemelayuan. Kedua nilai ini secara inheren ada dan tumbuh walaupun belum menunjukan kondisi ideal yang sesungguhnya. Untuk membangun rasa cinta tanah air semestinya dimulai dari membangun imeg kebangsaan yang utuh berazaskan melayuisme yang agamis. Menata sikap kebangsaan dengan memadukan nilai-nilai melayu dan agama adalah satu kewajaran. Namun yang tak kalah pentingnya adalah dengan mengambil posisi seimbang yang adil dan pertengahan dalam setiap perilaku agama yang diyakininya.

Inilah moderasi (jalan seimbang) bukan hanya diajarkan oleh Islam, tapi juga agama lain. Lebih jauh, moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan secara personal, keluarga dan masyarakat hingga hubungan antar manusia yang lebih luas. Kedua nilai ini, adil dan berimbang, akan lebih mudah terbentuk jika seseorang memiliki tiga karakter utama dalam dirinya: kebijaksanaan (wisdom), ketulusan (purity), dan keberanian (courage). Dengan kata lain, sikap moderat dalam beragama, selalu memilih jalan tengah, akan lebih mudah diwujudkan apabila seseorang memiliki keluasan pengetahuan agama yang memadai sehingga dapat bersikap bijak, tahan godaan sehingga bisa bersikap tulus tanpa beban, serta tidak egois dengan tafsir kebenarannya sendiri sehingga berani mengakui tafsir kebenaran orang lain, dan berani menyampaikan pandangannya berdasarkan ilmu dan faham yang dimilikinya.

Kedua, membangun solusi dan aksi dalam setiap kebijakan dan tindakan masyarakat tanpa keberpihakan.

Dengan moderasi beragama sebagai muatan nilai dan praktik yang paling sesuai untuk mewujudkan kemaslahatan bumi Melayu Kepulauan Riau, berarti kita telah membangun solusi dan aksi yang tepat dalam setiap kebijakan dan tindakan masyarakat dengan cara adil dan tanpa berpihak. Maka dari itu sikap mental moderat, adil, dan berimbang menjadi kunci untuk mengelola keragaman kita. Dalam berkhidmat membangun solusi dan aksi daerah yang berbasis kepulauan, juga berarti setiap warga masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang seimbang untuk mengembangkan kehidupan bersama yang tenteram dan menentramkan. Bila ini dapat kita wujudkan, maka setiap warga masyarakat dapat menjadi manusia seutuhnya, sekaligus menjadi manusia yang menjalankan agama seutuhnya.

Ketiga, Gurindan Dua Belas dalam Persfektif Moderasi Beragama di Kepri.

Bangsa Melayu sudah terkenal dengan bangsa yang cinta hikmah terutama dengan petuah-petuah dan bahasa sya’ir yang sarat makna. Diantara petuah yang sarat akan makna itu yang banyak dikenal adalah Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji. Gurindan Dua Belas merupakan salah satu untaian hikmah seorang raja untuk membangun peradaban Melayu melalui bahasa dan kata. Hikmah yang tertuang dalam Gurindam Dua Belas adalah nilai-nilai moral yang sejalan dengan nilai agama yang ada. Salah satu bahasa hikmah yang memberikan makna dalam moderasi beragama adalah sebagaimana yang terdapat pada pasal ke lima yaitu: “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat pada budi dan bahasa. Jika hendak mengenal orang yang berbahagia, sangat memeliharakan yang sia-sia. Jika hendak mengenal orang mulia, lihatlah kepada kelakuan dia….”

Dalam hikmah tersebut terdapat makna tentang orang yang dapat dianggap memiliki sikap kebangsaan. Sikap itu tercermin dalam budi dan bahasa seseorang. Orang berbudi bahasa yang baik tidak akan membedakan seseorang berdasarkan suku dan agama. Orang berbudi bahasa dapat diterima oleh siapa saja dan bangsa mana saja karena sikap dan perilakunya yang santun dan bersahaja. Sikap ramah tamah yang terpatri dalam ucapan dan perbuatan yang tidak mengenal perbedaan. Mereka adalah orang-orang yang berbangsa, bukan orang-orang yang berdiri dalam kelompok kecil yang tersekat oleh perbedaan. Itulah komitmen mereka yaitu komitmen untuk hidup dalam kebersamaan sebagai komitmen dalam mengembangkan dan mempraktekan wawasan kebangsaan dalam cinta tanah air dan dalam cinta NKRI.

Gurindam dua belas dapat menjadi perekat komitmen kebangsaan masyarakat melayu Kepulauan Riau dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka memilih sikap hidup dalam keadilan dan keseimbangan baik dalam sikap hidup beragama maupun sikap hidup berbudaya.” Apabila banyak berlebih-lebihan suka, itulah tanda hampirkan duka” (pasal ke-7).

Sikap berlebihan adalah lawan dari moderasi. Oleh sebab itu tidak dapat diterima dalam perilaku orang malayu. Sikap berlebihan dalam kehidupan beragama akan mendatang maslahat dan mafsadat. Akan membawa kerusakan bagi pelakunya, karena itulah moderasi beragama merupakan pilihan masyarakat Melayu dalam tata santun di dalam pergaulan masyarakat Kepri.***