Moderasi Beragama sudah Ditanam Sejak di Rumah

Unyil

  • Oleh: Unyil, Ka. Perpustakaan STAIN Sultan Abdurrahman Kepri

Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat yang biasanya terdiri dari Bapak, Ibu dan Anak-anak yang berkumpul dan tinggal dalam satu rumah semuanya saling ketergantungan.

Bila merujuk pada Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Perkembangan Keluarga, Bab 1 Pasal 1 Ayat 6 menerangkan, Kelarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri; atau suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya (duda), atau ibu dan anaknya (janda).

Tujuan sebuah keluarga adalah untuk membangun sebuah rumah tangga yang bahagia, harmonis, tenteram, sakinah yang menjadi tujuan utama memperoleh keturunan yaitu anak. Anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan, orang tua memiliki peran penting dalam sebuah keluarga terhadap perkembangan anak-anaknya.

Bahkan pendidikan terhadap anak sudah dilakukan ketika ia masih di dalam kandungan. Anak adalah amanah yang terindah diberikan oleh Allah maka dari itu orang tua mempunyai tanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya dari dunia hingga akherat kelak.
Banyak metode atau kiat dalam mendidik anak dari sisi pandangan agama yang dikemukakan oleh para ahli, Menurut Muallifah (2009) terdapat beberapa metode atau seni mendidik dalam islam yaitu: Pendidikan dengan keteladanan, pendidikan dengan adat kebiasaan, pendidikan dengan nasehat, perhatian atau pengawasan, perhatian terhadap keimanan anak, perhatian terhadap moral anak, perhatian terhadap mental dan intelektual anak, perhatian terhadap kejiwaan anak, perhatian dari segi sosial anak.

Mendidik dan membimbing anak merupakan satu kewajiban bagi seorang muslim karena anak merupakan amanah yang harus dipertanggung jawabkan oleh orang tuanya. Pernyataan tersebut berangkat dari hadist Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah suci, orang tua nyalah yang akan menjadikan anak tersebut yahudi, nasrani ataupun majusi”.

Hadist di atas memiliki makna bahwa kesuksesan atau bahkan masa depan anak adalah tergantung bagaimana orang tua mendidik dan mengasuhnya. (dikutip dari jurnal yang ditulis oleh Fiti Rayani Siregar yang berjudul: Metode mendidik anak dalam pandangan Islam).

Bila kita melihat semua agama mengajarkan tentang kebaikan-kebaikan kepada anak-anak mereka, artinya pemberian pemahaman moderasi beragama sudah dimulai dari rumah atau keluarga terkecil. Bahkan sejak dari masa atok nyang kita (dari orang tua zaman dahulu) dulu nilai-nilai tersebut sudah diajarkan nilai-nilai kehidupan tersebut, cuma namanya saja tidak disebut moderasi beragama, tapi bila kita lihat muara dari moderasi beragama yang lagi hangat dibicarakan saat ini sudah dilakukan sejak dulu bahkan dari desa terpencil sekalipun.

Apa yang Dimaksud dengan Moderasi Beragama

Bagi yang sudah membaca Prolog Lukman Hakim Saifuddin, buku yang berjudul “Moderasi Beragama” yang terbit 2019 terdiri dari 162 halaman, pasti sudah tahu apa yang dimaksud dengan moderasi beragama. Karena buku tersebut dibuat bertujuan untuk menjelaskan apa, mengapa, dan bagaimana terkait moderasi beragama.

Ada tiga bagian utama dalam menjawab pertanyaan, Pertanyaan yang mendasar. Apa itu moderasi beragama? Mengapa ia penting? Dan bagaimana strategi mengimplementasikannya?

Dalam buku tersebut menjelaskan terkait pertanyan di atas yaitu: Kajian konseptual moderasi beragama; Pengalaman Empirik Moderasi beragama; serta strategi penguatan dan implementasi moderasi beragama.

Pada kesempatan ini penulis tidak menguraikan jawaban satu per satu seperti yang ada di dalam buku tersebut. Penulis berpandangan bahwa salah satu strategi penguatan dalam memberi pemahaman terkait moderasi beragama yaitu mulai dari rumah oleh masing-masing keluarga atau orang tua, apapun agamanya karena kita tahu sejauh ini tidak ada agama yang menginginkan orang tua mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran kepada anaknya. Semua orang yang memeluk agama, apapun agamanya pasti berbicara muara akhirnya surga, semuanya ingin masuk surga. Artinya tidak ada yang bertentangan dengan kebenaran yang diajarkan oleh agama masing-masing.

Sekali lagi moderasi beragama sebenarnya sudah ditanam dari rumah, bahkan dari zaman nenek moyang kita setelah itu baru lingkungan dikarenakan manusia makhluk sosial dan kita hidup berdampingan baik antar agama, suku, ras dan lainnya yang hidup dalam satu keluarga besar yaitu bangsa, yang kita kenal bangsa Indonesia.

Pada prinsipnya memberi pemahaman moderasi beragama tidak cukup diberikan oleh keluarga saja, ada lembaga pendidikan mulai dari usia dini hingga sarjana.

Peran lembaga pendidikan sebagai penyempurnaan memberian pemahaman moderasi beragama itu sendiri, sehingga diharapkan setelah masuk kedunia kerja nilai-nilai yang dipelajari mulai dari rumah hingga dunia pendidikan, bahkan lembaga-lembaga lain seperti FKUB yang menangani kerukunan umat beragama, dan tempat kita bekerja, jadi pemahaman yang diperoleh tersebut bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan kedamaian dalam berbangsa dan bernegara.

Mari kita pertajam pemahaman kita terhadap moderasi beragama dengan gemar membaca.***