by

Layanan Pendidikan Kurang Maksimal

BATAM (HK) – Menanggapi soal hasil survai PISA, kepala sekolah SMAN 16 Batam, Elmi, malah menilai dikarenakan layanan pendidikan yang belum maksimal diberikan. Ia mencohkan di Batam banyak masalah yang dihadapi sekolah terkait ketidak sesuainya jumlah siswa per rombel yang ideal, kurangnya kepudulian lingkungan dan orang tua terhadap pendidikan anak. Hal ini bukan saja dialami oleh satu jenjang pendidkan namun semua jenjang mulai dari tingkat dasar hingga menegah (SD, SMP SMA). Sehingga kurang terpenuhinya pelayanan pendidikan secara maksimal terhadap kepada siswa.

“Kurang layanan pendidikanitu dari mulai pembelajaran yang tidak efektif karena kelas gemuk karena ruang kelas terbatas. Begitu juga terkait kegiatan praktek siswa berupa lab tak tersedia karena diterpaki untuk ruang kelas . Jadi bagaimana guru dan kepala sekolah bisa berinovasi kalau sarana dan prasaran dimilki masih terbatas,” ujarnya.

Terkait hasil survai PISA menyebutkan kemampuan pelajar Indonesia rendah, kata Elmi perlu mendapat perhatian serius bagi semua pihak untuk segera meningkatkan kualitas pelajar Indonesia dari segala bidang dengan cara bergotong royong membenahi sarana dan prasarana dibutuhkan oleh dunia pendidikan. “Intinya memajukan pendidikan itu bukan hanya tanggungjawab guru, kepala sekolah, pemerintah, namun tugas kita bersama masyarakat dan orang tua ikut membantu memenuhi kebutuhan pendidikan tersebut,” jelasnya.

Ditempat terpisah Plt Kepala Sekolah SMAN 26 Batam, Midiyanto, malah menilai bahwa kemampuan daya nalar tinggi atau higher order thinking skills (HOTS) peserta didik memang perlu dilakukan pembiasaan serta dilatih terus tidak bisa begitu saja dapat diterapkan. Agar para pelajar Indonesia ini mampu bersaing bernalar tinggi dengan pelajar diluar negeri. Namun ia tidak menapik ada benarnya penyebab kemampuan pelajar Indonesia rendah itu dikarenakan kurangnya pemahaman guru dan inovasi kepala sekolah.

“Tapikan faktor faktor lain juga bisa mempengaruhi, seperti motivasi peserta didik yang rendah, dukungan orang tua yang kurang, serta ketersediaan sarana dab prasarana yang kurang memadai menjadi faktor penyebab juga.” jelasnya.

Sementara komentar dilontarkan Kepala Sekolah SMKN 8 Batam, Refio menilai kemampuan pelajar Indonesia dibawah rata-rata ini bukan hanya semata-mata karena kompetensi guru dan inovasi kepsek kurang. Melainkan juga karena pengaruh lingkungan yang kurang mendukung, serta pergaulan siswa itu sediri, dan diperparah lagi keluarga yang cuek terhadap kondisi akan perkembangan anaknya sendiri.

“Kalau orangtua atau keluarga cuek terhadap kondisi anaknya bagaimana anak itu bisa berkembang dengan baik. Kalau hanya mengandalkan sekolah saja, tidak bisa karena waktunya terbatas mendidikan anak hanya sebatas di jam sekolah saja. Selebihnya waktu paling banyak kan bersama kelurga dan lingkungan,” jelasnya.

Berbeda dengan tanggapan dari Kepala Sekolah SMAN 11 Batam, Sumiati, yang harus dievaluasi dan segera diperbaiki untuk dibenahi adalah penerapan kurikulum nasional yang ia nilai begitu ribet dan tidak efesien. “Kalau dinilai kompetensi guru kurang saya tidak setuju, karena guru di Batam itu bagus-bagus, dan kepala sekolah juga cukup inovatif dalam memajukan sekolahnya,” kata Sumiati lagi, (men)

News Feed