by

Benih Lobster Tangkapan Lanal Dilepas di Karimun Anak

Karimun (HK) – Balai Karantina Ikan Tanjungpinang melalui Wilayah Kerja Ikan Tanjungbalai Karimun bersama dengan Lanal Tanjungbalai Karimun telah melepas tangkapan benih baby lobster yang ditangkap petugas patroli Lanal Tanjungbalai Karimun. Dari 52.579 benih lobster yang ditangkap, sebanyak 5 kantong benih disisihkan untuk kepentingan penyidikan.

“Kami bersama Lanal Tanjungbalai Karimun telah melepas benih baby lobster di perairan Karimun Anak, usai ekspose di Lanal sekitar
pukul 17.30 WIB. Ada 5 kantong benih yang disisihkan untuk kepentingan penyidikan,” ungkap Penanggungjawab Wilayah Kerja Balai
Karantina Tanjungpinang di Karimun, M Fathir di kantornya, Rabu (11/12/2019).

Kata Fathir, pihaknya sengaja melepas benih lobster tersebut pada hari yang sama diamankan oleh Lanal Tanjungbalai Karimun, agar benih-benih lobster itu pada saat dilepas masih dalam kondisi segar. Memang diakui, ada beberapa benih yang sudah mati sebelum proses pelepasan.

Menurut dia, berdasarkan Permen Kelautan dan Perikanan no: 56 tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan atau Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari Wilayah RI dijelaskan, soal lokasi pelepasliaran lobster. Berdasarkan ketentuan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), untuk wilayah Kepri, lokasi yang ditunjuk adalah Pulau Senoa di Kabupaten Natuna.

“Kalau untuk pelepasan benih lobster, memang titik yang sudah ditentukan oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) itu adalah Pulau Senoa yang berada di Natuna. Hanya saja, kalau benih lobster tangkapan kemarin dibawa ke Senoa, butuh waktu yang lama dan biaya tinggi,” ujar Fathir.

Sementara, lokasi yang mirip dengan Pulau Senoa di Karimun itu adalah perairan Karimun Anak. Sebelum menentukan lokasi yang pas,
Karantina Ikan melakukan observasi terlebih dahulu untuk menentukan debet dan kualitas air serta ekosistem pendukung dan pengancam keberlangsungan benih lobster.

“Untuk menentukan lokasi yang pas, memang harus dilakukan observasi terlebih dahulu, untuk menentukan kualitas air dan ekosistem
pendukung serta hama yang bisa mengancam keberlangsungan hidup bagi benih lobster. Daerahnya harus berpasir dan berbatu. Perairan yang cocok untuk itu di Karimun adalah Karimun Anak. Apalagi, sebelumnya juga pernah dilakukan pelepasan benih lobster disana,” jelasnya.

Fathir juga menjelaskan proses pelepasan benih lobster, yakni kantong yang berisi benih lobster ditaruh diatas permukaan laut (aklimatisasi) sampai kantong itu berembun. Kemudian, kantong diangkat dan siap untuk dilepaskan. Hanya saja, pada pelepasan benih lobster tangkapan Lanal beberapa waktu lalu dilepas begitu saja.

Sebelumnya, Tim Fleet One Quick Respons (F1QR) Lanal Tanjungbalai Karimun menggagalkan upaya penyelundupan 52.579 benih lobster dari Jambi tujuan Singapura di Selat Poyong, perairan Moro, Jumat (6/12/2019) sekitar pukul 12.10 WIB. Benih lobster tersebut diprediksi bernilai Rp8,28 miliar.

Benih lobster tersebut disimpan di dalam 13 kotak sterofome yang diangkut menggunakan satu unit speed boat dengan mesin Yamaha 40 PK, dengan dua orang awak Jamani dan Mustakim. Dari Jambi menuju Singapura, mereka melintasi perairan dalam, agar aksi mereka tak terpantau dari pengawasan pihak keamanan.

Danlanal Tanjungbalai Karimun Letkol Laut (P) Mandri Kartono dalam konferensi pers di Makolanal beberapa jam usai penangkapan
mengatakan, terbongkarnya upaya penyelundupan benih lobster tersebut karena adanya informasi dari intelijen. Begitu mendeteksi keberedaan speed boat tersebut, petugas kemudian melakukan pengejaran.

“Kami menerima informasi dari intelijen adanya upaya penyelundupan baby lobster dari Jambi ke Singapura. Begitu menerima informasi itu, Tim F1QR Lanal Tanjungbalai Karimun melihat adanya speed boat yang dinilai mencurigakan melintas dengan kecepatan penuh dari arah Desa Sanglar menuju Moro. Kemudian, petugas kami melakukan pengejaran,” ungkap Danlanal. (ham)

News Feed