by

Ini Pandangan Jimly dan Osco soal Hari HAM

Tanggal 10 Desember yang diperingati dunia sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM), yakni bertepatan dengan lahirnya Deklarasi Hak Asasi Manusia di Paris, Perancis, pada tanggal 10 Desember 1948 lalu.

Sebetulnya, Hak Asasi Manusia sudah ada sejak tahun 1789, dimana pada saat itu Perancis mendeklarasikan Declaration of the Rights of Man and of Citizen yang kemudian menjadi pembukaan dari Konstitusi Perancis. Sedangkan di Indonesia, deklarasi semacam itu telah dimasukkan kedalam pembukaan Undang-undang Dasar (UUD) Republik Indonesia, bahkan masuk kedalam batang tubuh UUD tersebut.

Pendiri dan Ketua pertama Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie mengatakan bahwa pembahasan tentang HAM seharusnya sudah selesai. Sebab menurutnya manusia di dunia sudah memahami hak-hak setiap orang tanpa membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

“Hak Asasi Manusia sebetulnya sudah selesai. Setiap orang sudah memahami hak-hak orang lain untuk mendapatkan kehidupan yang sama di bumi pertiwi,” jelas Prof. Jimly menyikapi peringatan HAM 10 Desember 2019.

Menurutnya lebih mudah memahami Hak Asasi Manusia, jika melihat dari diri kita sendiri. Contohnya, jika kita ingin menjadi orang pintar, maka kita harus belajar, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, nah orang lain pasti juga berkeingingan hal yang sama, dan itu harus kita hargai sebagai sebuah hak bagi setiap orang untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

“Artinya, setiap manusia berhak atas pendidikan itu, dan tidak ada satu pun manusia yang berhak untuk menghalang-halangi orang lain untuk mendapatkan pendidikan,” tegasnya melalui rilisnya ke media.

Menurut Jimly, negara-negara barat sekarang sudah tidak lagi membahas Hak Asasi Manusia terlalu dalam, malah menurutnya, negara-negara barat itu sekarang sedang membahas mengenai hak asasi hewan, dan hak asasi alam, sebagaimana kedua mahkluk tersebut juga berada di bumi yang sama dengan manusia.

“Negara-negara di Eropa dan di Amerika, sekarang sibuk memperjuangkan hak asasi hewan dan hak asasi alam, sebagai contoh, di Perancis, anggota dewan sibuk berdebat hal-hal yang substansinya mengenai hak asasi hewan. Sedangkan di Equador sekarang, konstitusinya mengatur mengenai hak-hak asasi alam (nature’s rights),” ujar Jimly Asshiddiqie yang juga Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.

Masukkan hak asasi hewan dan hak asasi alam ke dalam konsititusi sebuah negara tidak terlepas dari keseriusan negara-negara tersebut dalam menanggulangi permasalahan climate change yang beberapa tahun terakhir sering didengung-dengungkan akibat dari perbuatan manusia. Memang seperti yang telah kita ketahui bersama, permasalahan perubahan iklim di bumi ini telah menjadi isu dunia, dan oleh karena itu, sudah banyak konferensi international, yang membahas mengenai permasalahan ini. Bukan hanya itu, para pemimpin negara-negara dunia juga telah mengadakan pertemuan untuk membahas hal ini.

Sebagai bentuk nyata dari pembahasan demi pembahasan itu, maka banyak negara-negara di dunia yang sudah secara serius membahas permasalahan tersebut secara internal di negaranya dana melakukan aksi nyata, termasuk memasukkan poin-poin penting ke dalam konstitusi mereka.

“Sudah banyak Pemimpin-pemimpin negara di dunia yang serius membahas mengenai climate change, khususnya mengenai apa yang akan terjadi apabila es di kutub utara dan kutub selatan mencair, atau mengenai perubahan kutub magnet bumi, yang mengakibatkan perubahan perputaran bumi. Ini masalah serius lho, dan mereka juga secara serius berfikir cara untuk mengatasi perubahan ini. Jangan dikira perubahan ini belum terjadi, es di kutub sudah mencair perlahan,” terang Jimly dalam wawancaranya.

Jimly menambahkan bahwa dirinya heran dan bingung mengapa hal-hal mengenai hak asasi alam semesta ini justru lahir dari negara-negara non-muslim, padahal menurutnya, amanat untuk menjaga alam semesta ini justru telah tertuang dalam Al-Quran jauh sebelum adanya deklarasi-deklarasi yang dikemukakan negara-negara barat itu.

“Ini merupakan ironi yang sangat besar, negara-negara yang berpenduduk Muslim di dunia ini justru tidak menjadi pelopor dalam memelihara alam semesta, padahal kitab suci Al-Quran secara tegas mengamanatkan agar umat Muslim menjadi rahmat bagi seisi alam, Rahmatan Lil Alamin,” imbuh Prof Jimly.

Di tempat terpisah, calon Kepala Daerah Kota Batamq, Olfriady Letunggamu atau yang akrab dipanggil Osco, menyampaikan rasa prihatinya terkait dengan permasalahan mengenai hak asasi ini. Dirinya setuju dengan hal-hal yang diungkapkan oleh Professor Jimly Asshiddiqie, bahwa di negara-negara maju, pemerintahnya sudah tidak lagi membahas mengenai Hak Asasi Manusia terlalu dalam. Bahkan banyak dari negara-negara di eropa membahas hak asasi manusia di negara lain yang belum secara tegas dan pasti memberikan hak asasi kepada setiap warga negaranya.

“Saya setuju itu (ucapan Prof. Jimly), malah banyak negara-negara itu justru sibuk mengurus hak asasi manusia di negara lain. Seharusnya kita memang sudah mulai membahas mengenai hak asasi alam semesta, dimana didalamnya juga terdapat hak asasi manusia,” ujar Osco.

Osco mengatakan bahwa di Indonesia banyak pemimpin dan masyarakatnya belum memahami mengenai hak asasi manusia secara utuh, hal ini dapat dibuktikan dari masih terdapat permasalahan mengenai hak asasi manusia, khususnya di Kota Batam.

“Saya selama ini mengamati Kota Batam 10 tahun terakhir memang masih saja ada permasalahan hak asasi manusia terjadi, khususnya dalam hal perdagangan manusia, dan hak atas pemukiman yang layak. Dua permasalahan ini sering terjadi dan sudah seperti rahasia umum diantara masyarakat Kota Batam,” tambah Osco ketika ditanya mengenai permasalahan Hak Asasi Manusia di Kota Batam.

Penyelesaian dari permasalahan hak asasi manusia ini tentunya harus dilakukan secara tegas oleh kemampuan pemimpin daerahnya. Tak ayal jika masalah ini melibatkan banyak pihak yang mencari keuntungan dari eksploitasi manusia, khususnya wanita dibawah umur.

“Ini kan juga termasuk gejala sosial, bahwa perempuan-perempuan yang dijual ini membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi pertanyaan mendasarnya kan sebetulnya, kebutuhan hidupnya itu apa? Kalau hanya sekedar untuk makan, untuk hidup berkecukupan, sebetulnya banyak hal lain yang bisa dilakukan,” terangnya.

Tapi permasalahannya tidak semudah itu, lanjutnya, terkadang wanita-wanita ini tergiur dengan kehidupan orang-orang kaya yang punya ini dan itu. Cara termudah untuk mendapatkan kekayaan instan adalah dengan menjual dirinya sendiri. Inilah yang kemudian dilihat oleh pengusaha-pengusaha nakal, dan memanfaatkan wanita-wanita itu untuk mendapatkan keuntungan dengan menjual wanita-wanita itu ke orang lain.

Yang paling parah lagi, terangnya, adalah ketika penjualan itu diiringi dengan tindakan pidana lainnya, misalnya penipuan, tadinya ditawarkan kehidupan yang layak, uang banyak, tau-tau tidak dikasih uang sama sekali bertahun-tahun, tapi hidupnya dikekang, tubuhnya dipakai untuk melayani napsu manusia lainnya. Permasalahannya menjadi semakin kompleks.

Mengenai hak atas pemukiman, Osco menerangkan bahwa dirinya telah banyak melakukan diskusi-diskusi dengan berbagai pihak yang menaungi bidang real estate. Dikatakan olehnya bahwa sudah saatnya warga negara Indonesia yang sudah menikah, bisa memiliki rumah sendiri untuk membina hubungan rumah tangganya.

“Terkait dengan hak atas pemukiman, saya sudah mempunyai cara untuk mengatasi hal tersebut. Bukan hanya DP 0% seperti di Jakarta, tapi bahkan rumahnya gratis bagi warga yang memiliki KTP Batam, dan sudah menikah. Saya sudah membahas hal ini, dan saya meyakini bahwa ini bisa diterapkan di Kota Batam,” ungkap Osco.

Seperti yang diketahui bersama, Pemerintah DKI Jakarta telah menerapkan terobosan baru dalam kebijakan terkait dengan pemukiman warga.

Anies Baswedan selaku Gubernur Provinsi DKI Jakarta memberikan kemudahan bagi warganya untuk mendapatkan rumah dengan Down Payment 0%. Kemudahan ini kemudian dapat dikatakan berhasil dan benar-benar dirasakan oleh Warga DKI Jakarta.

Menyikapi hal tersebut, Osco mengatakan bahwa sesuatu yang berhasil di daerah lain akan diusahakan untuk bisa diterapkan di Kota Batam.

“Kalau DP 0% ini berhasil, kenapa tidak kita bawa ke Kota Batam. Malah saya sendiri cenderung ingin memberikan lebih kepada masyarakat Kota Batam, rumah gratis. Bukan Cuma Down Payment-nya. Kalau program saya berhasil di Kota Batam, pasti Kepala Daerah lainnya juga akan menerapkan hal yang sama di daerahnya masing-masing.

“Inikan masalah political will saja. Mau tidak berbuat lebih untuk rakyat, kalau saya ditanya, kenapa tidak?” tegas Osco.

Diakhir wawancara Osco mengucapkan selamat hari Hak Asasi Manusia kepada seluruh manusia di segala penjuru dunia, dirinya berjanji untuk secara serius membuat gebrakan kebijakan terkait dengan Hak Asasi Alam Semesta, dimana didalamnya juga terdapat manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.

“Saya apabila diberi amanah sebagai kepala daerah Kota Batam, akan memperjuangkan Hak Asasi Alam Semesta, Hak Asasi Manusia itu sudah pasti, tapi juga tidak akan lupa dengan Hak Asasi Hewan, dan Hak Asasi Tumbuh-tumbuhan. Karena pada dasarnya kita hidup di bumi yang sama. Selamat hari Hak Asasi Manusia Internasional kepada seluruh Manusia di bumi,” terangnya.

“Saya mengimbau untuk terus mengedepankan hak asasi manusia, sebagaimana kita ingin hidup dengan tenang dan damai di bumi pertiwi,” pungkasnya. (r/ays)

News Feed