by

Dari Pendidikan Karakter Menuju Pendidikan Berkesadaran

  • Oleh: H. Muhammad Nasir, SAg, MH, Kakan Kemenag Lingga

Hiruk pikuk persoalan pendidikan kita saat ini – terkait wacana Mendikbud yang akan mengganti UN dengan asesmen – telah mengundang inspirasi dan asumsi dalam masyarakat. Ada yang menganggap pendidikan di Indonesia gagal.

Banyak pula yang berasumsi bahwa setiap pergantian menteri pendidikan setiap kali pula negeri ini dibingungkan dengan kebijakan politik pendidikan yang sering tidak menemukan titik temu antara kebijakan lama dengan kebijakan baru. Dan yang tak kalah mirisnya dan menjadi pertayaan besar, mengapa kebijakan pendidikan di negeri ini tidak memiliki titik kontinuitas, padahal mendidik manusia melalui pendidikan adalah mendidik tanpa batas dan tanpa henti untuk menuju peradaban yang lebih baik.

Begitu pentingnya pendidikan bagi peradaban masa depan, banyak pakar pendidikan mengatakan bahwa agenda kebangsaan terakbar terletak pada pendidikan, bukanlah sesuatu yang tanpa alasan atau mengada-ada, melainkan didasarkan fakta bahwa seluruh sektor kehidupan bangsa merupakan concern sumber daya manusia yang dihasilkan dari output dunia pendidikan. Oleh karenanya, sejak Indonesia berdiri, founding fathers bangsa ini sudah menanamkan semangat dan tekad untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh warga negara, termasuk keadilan memperoleh hak pendidikan. Cita-cita luhur tersebut kemudian dituangkan ke dalam rumusan mukaddimah UUD 1945 sebagai salah satu tujuan didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Kebijakan nasional untuk mencerdaskan bangsa melalui pendidikan terus menerus telah diperjuangkan, sehingga Indonesia menjadikan Ujian Nasional (UN) menjadi alat evaluasi keberhasilan pendidikan nasional. UN hanyalah salah satu diantara alat ukur untuk menentukan keberhasilan pendidikan dan banyak alat ukur lain yang juga dapat digunakan, umpamanya asesmen, pendidikan penelitian, dan lain sebagainya.

Persoalan UN ataupun asesmen hanyalah persoalan evaluasi dalam proses pendidikan. Apakah pendidikan kita berhasil atau tidak, dapat diketahui melalui evaluasi. Dalam konstalasi dunia pendidikan yang berkembang kini, dirasakan bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan dan persoalan peradaban bangsa yang kita dambakan. Sebenarnya masih banyak hal yang lebih penting , dengan tidak mengatakan evaluasi tidak penting, yang perlu kita sempurnakan dan kembangkan untuk pendidikan kita. Kita belum bisa menemukan pola pendidikan yang lebih bermutu untuk menumbuhkan peradaban yang lebih unggul, sehingga out-put pendidikan masa lalu selalu saja dianggap gagal dan belum mencerminkan peradaban dan jati diri bangsa Indonesia. Itulah barangkali sebabnya mengapa setiap pergantian menteri pendidikan, berganti pula kebijakan.

Pada prinsipnya, pemerintah sudah berupaya mewujudkan mutu pendidikan yang lebih baik, baik dalam skala nasional maupun daerah. Pemerintah sudah banyak mengeluarkan anggaran untuk itu. Tidak kurang dari 20 persen disiapkan anggaran setiap tahun. Dengan kebijakan pendidikan, pemerintah telah merumuskan kebijakan pendidikan di Indonesia dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan yang dianggap paling tepat untuk Indonesia saat ini. Tujuan Pendidikan Karakter menurut Said Hamid H., dkk (2010), adalah sebagai berikut; Pertama; Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, kedua; Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius, ketiga; Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Keempat; Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, dan berwawasan kebangsaan. dan kelima ; Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Menurut Kemendiknas (2010), pendidikan karakter dilakukan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan, tujuan pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia dan mampu menggunakan, mengkaji, dan menginternalisasi pengetahuannya dalam perilaku sehari-hari.

Pertanyaannya, kurang lebih lima tahun sejak dicanangkan pendidikan karakter hingga hari ini, sudahkah pendidikan karakter tersebut tercapai dengan baik. Atau, berapa persen kah peradaban bangsa ini makin membaik dan dapat menjadi teladan bagi bangsa lain? Kita butuhkan jawaban bukan dalam hitungan data dan angka melainkan kita butuh jawaban dalam idealitas sosial budaya bangsa yang kita cintai ini.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Sampai kapan pun dan di manapun ia berada, setiap manusia membutuhkan pendidikan. Tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing serta memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur.

Untuk menuju kearah itu, sudah saatnya visi pendidikan kita terus disempurnakan kearah yang lebih baik. Diantara adalah dari pola pendidikan karakter kepada pendidikan berkesadaran.

Pendidikan berkesadaran adalah pendidikan yang membangun ruhaniyah dan jasmaniyah secara terpadu menuju kesempurnaan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia adalah makhluk yang berproses dan selalu berubah, baik jasmaniyah maupun ruhaniyah. Proses perubahan secara ruhaniyah, merupakan proses perjalanan kedalam diri, menuju kesadaran yang paling dalam dari eksistensi diri manusia yang disebut dengan kesadaran fitrah, atau pendakian menuju kesadaran puncak yakni kesadaran Tauhid. Kesadaran inilah yang kemudin menjadi kesadaran baru yang membangkitkan pola pikir dan nilai kehidupan lurus, serta sikap dan perilaku luhur bagi manusia.

Proses perubahan demikian yang kemudian kita sebut sebagai Evolusi Kesadaran, yaitu evolusi dari ketidaksadaran menuju kesadaran. Pergeseran ini kemudian akan menyebabkan tumbuhnya kesadaran baru yaitu kesadaran Iman dan kesadaran amal yang kelak akan menjadi kepribadian manusia itu. Sebaliknya, ketidaksadaran akan menciptakan kesombongan, arogansi, seolah-olah dialah yang paling benar dan berpengaruh serta yang menentukan dan sebagainya. Sedangkan kesadaran menciptakan keselarasan, keserasian, keharmonisan ,kerendahan hati dan bahkan kepasrahan/keikhlasan. Sesungguhnya tiada perbedaan antara kita, kita semua satu adanya.

Kesadaran tertinggi bagi manusia adalah kesadaran spiritual atau kesadaran Iman yaitu kesadaran kolektif yang bersifat hakiki. Kesadaran ini berproses melalui refleksi visualisasi dan dialog bathin, yang kemudian menghasilkan sebuah pengalaman transpersonal yang menurut Moslow di luar individualitas, lebih inklusif atau lebih besar dari individual (Sanerya Hendrawan: 2009). Ini dicapai dengan cara mengakses petunjuk batin yang disebut dengan kesadaran murni yang merupakan cahaya Ketuhanan). Di bawah petunjuk bahin inilah terjadi pertumbuhan jiwa yang bersifat progresif, yang semakin meluas sehingga memungkinkan kehidupan yang lebih autentik, kreatif dan menghadapi tantangan hidup dengan berhasil; suatu kehidupan yang memungkinkan tercapainya integrasi dan ekspresi yang harmonis dari totalitas alam manusia yang mencakup fisik, emosional, mental dan spiritual.

Pola pendidikan berkesadaran menempatkan manusia sebagai makhluk Tuhan yang sempurna sekaligus sebagai tujuan pendidikan. Maka tujuan pendidikan berkesadaran adalah untuk mewujudkan manusia mulia atau insan kamil. Dari sinilah lahirnya peradaban mulia yaitu peradaban manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.***

News Feed