by

Tanah Itu Membatu

  • Cerpen: Fery Heriyanto

Fenomena aneh terjadi pada sebidang tanah. Setiap ada orang yang masuk ke kapling itu, perlahan-lahan tanah tersebut mengeras. Begitu pula saat akan digarap untuk ditanami tanaman. Tanah itu akan lebih mengeras lagi ketika hendak ditawarkan pada orang yang mau membelinya.

Pertama kali fenomena tersebut terjadi, sang pemilik menganggap itu hal biasa.

“Ini karena musim panas. Jadi, tanahnya kering dan keras,” ucapnya saat itu.

Namun, ketika musim hujan tiba, hal itu tetap juga berlaku. Pernah ada orang yang tertarik membeli kapling itu dan bersedia membayar mahal. Kala mendengar fenomena tersebut, dia sempat tak percaya. Namun, saat melihat faktanya, dia begitu heran.

“Kok bisa ya, keras bagai batu?” ucapnya pada sang pemilik.

Fenomena itu telah menimbulkan tanya besar. Bahkan, informasinya sudah beredar sampai ke kota lain. Secara lokasi, tanah itu memang sangat strategis karena berada di tengah kota, di pinggir jalan, dekat dengan stasiun, dan tempat orang lalu lalang. Sangat cocok dijadikan tempat usaha.

Fenomena itu pernah didiskusikan sang pemilik dengan sejumlah pihak “terkait”, namun tidak pernah ada yang tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Bahkan ritual-ritual tertentu juga pernah dilakukan, namun tetap saja tidak memberi dampak. Tanah itu tetap mengeras. Herannya, mengerasnya hanya sekapling itu saja. Sementara tanah di samping kiri, kanan, depan, dan belakang, kondisinya normal.

**

Konon, sekitar 17 tahun lalu, peristiwa tidak mengenakan terjadi di kapling itu. Dulu, di lokasi itu berdiri sebuah rumah yang dihuni oleh keluarga lima anak. Mereka sudah mendiami rumah itu turun temurun. Mereka keluarga sederhana. Hubungan sosial mereka dengan orang-orang sekitar sangat baik. Saking baiknya, orang-orang di sekeliling mereka sudah bagai keluarga. Satu keluarga kemalangan, seluruhnya berduka. Begitu juga jika ada yang mendapat rezeki, semuanya bersuka cita. Pokoknya, mereka hidup aman, damai, dan tentram.

Namun, satu hari, tersiar kabar, jika rumah mereka akan digusur. Pemilik rumah dan keluarga itu jelas kaget.

“Ada apa? Kok mau digusur?”

Dalam surat yang mereka terima, tanah di bawah rumah itu berdasarkan putusan pihak berwenang, sudah menjadi milik tetangga dekatnya. “La, Kok bisa?”

Pemilik rumah dan anggota keluarganya tak bisa terima. Tanpa ada angin dan hujan, kapling mereka akan diambil paksa oleh orang yang sudah dianggapnya saudara. Tanpa ada masalah selama ini, tiba-tiba hak mereka akan diambil.

“Ini tak benar!”
“Kenapa rumah kami mau digusur? Apa salah kami? Ini tanah dan rumah kami!”

Lalu, mereka mengusut hal itu sampai ke pengadilan. Saat sidang, pemilik rumah itu menjadi pengacara bagi dirinya sendiri. Di pengadilan, mereka kalah. Lalu, kasus dibawa ke tingkat yang lebih tinggi. Kembali, dia menjadi pengacara bagi dirinya sendiri. Di situ pun, mereka juga kalah. Sampai akhirnya, keluar surat dari pihak berwenang yang menegaskan jika lahan sudah menjadi milik orang, yang tidak lain adalah tetangganya sendiri. Dalam surat itu ditegaskan jika lahan itu harus dikosongkan.

Keluarga itu tetap tidak terima. Adu argumen dan data kembali terjadi. Lalu, tidak lama, tanpa ada surat pemberitahuan, tiba-tiba tim penggusuran tiba. Hari itu, detik itu, saat itu juga, lahan tersebut harus dikosongkan. Perlawanan kembali dilakukan.

Yang membuat warga kaget campur bingung, orang yang membacakan surat eksekusi adalah anak salah seorang dari warga di lingkungan mereka. Dan, ketika surat dibacakan, ada sejumlah data yang salah. Ukuran tanah yang tertulis dengan fakta, tidak sesuai. Protes kembali dilayangkan. Ketegangan terjadi.

“Ini perampasan hak! Ini penzaliman!” teriak keluarga itu.

Warga yang menyaksikan diselimuti tanda tanya. Ketegangan kian memuncak. Keluarga itu terus bertahan. Namun, jumlah petugas dengan senjata lengkap begitu banyak. Mereka tidak bisa berbuat banyak. Dengan dibantu warga, barang-barang di rumah itu terpaksa dikeluarkan dan ditumpangkan di rumah tetangga terdekat. Eksekusi akhirnya dilakukan disaksikan keluarga itu dan warga sekitar yang tampak bingung dan berkata, “aneh”.

**

Dua hari setelah eksekusi, keluarga tergusur itu mengambil material yang masih bisa digunakan. Mereka memunguti kayu-kayu, batu bata, seng, dan kusen dan pintu yang lecet akibat hantaman alat berat. Lalu, material itu digunakan untuk membangun bangunan kecil di lahan kecil tidak jauh dari rumah mereka yang tergusur.

Tidak sampai sepekan setelah penggusuran, kapling itu langsung dipagar kayu dan diberi plang dengan tulisan “pemilik yang sah”.

Peristiwa itu terus menjadi perbincangan warga. Bahkan menjadi trending topik di kota tersebut. Lingkungan itu yang dulunya damai, tentram, dan nyaman, setelah peristiwa itu berubah. Rasa curiga mulai tumbuh. Pikiran-pikiran negatif warga mulai hadir. Pergunjingan mulai marak. Dan perlahan-lahan, rasa sosial di tengah warga mulai tipis. Semua berubah.

Warga yang merasa lahan mereka tidak memiliki dokumen, mulai mengurus surat-surat. Rumah yang dulu tidak ada pagar, sejak itu mulai dipagar setinggi atap rumahnya. Kedai yang dulu ramai saat pagi dan malam oleh warga, setelah itu mulai sepi. Anak-anak yang sebelumnya riang bermain di halaman rumahnya, sudah jarang terlihat. Saat malam tidak lagi menjadi waktu silaturrahmi. Warga lebih banyak berdiam di rumahnya masih-masing.

**

Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, sejumlah anak di keluarga itu sudah ada yang merantau ke kota lain. Lalu, rumah kecil tempat mereka melanjutkan hidup, hanya dihuni oleh anak tertua. Ayah dan Ibu mereka, lebih banyak dibawa oleh anak-anaknya. Masing-masing anak pengen orang tua mereka tinggal di rumahnya.

Meski keluarga itu tidak lagi memikirkan rumah mereka telah digusur, namun, peristiwa itu telah melekat di benak warga. Tanah kapling tempat mereka lahir dan beranjak besar, kini hanya teronggok kosong. Meski lokasinya strategis, tapi sampai sekarang belum juga difungsikan. Berbagai tawaran yang masuk ke sang pemilik, namun tidak satu pun yang deal. Rata-rata, setiap orang yang mau membeli, mengurungkan niatnya. Itu karena tanah tersebut keras. Bahkan konon, kekerasan tanah itu dari hari ke hari sudah melebihi batu. Setiap orang yang masuk dan melihat, bagai tidak percaya. Saat hujan pun, air yang membasahi setiap jengkal kapling itu, tidak meresap. Hanya mengalir dan tergenang. Dan genangan itu akan hilang saat musim kemarau tiba.

Sampai kini, fenomena itu tidak jua terpecahkan. Pernah ada seorang calon pembeli, setelah melihat tanah itu, datang menjumpai anak tertua keluarga tergusur itu.

“Kenapa tanah itu keras sekali ya?”
“Saya pun tidak tahu kenapa bisa seperti itu,” jawab si anak tertua.
“Sangat tidak masuk akal, ada tanah kapling seperti batu,” ucap calon pembeli itu lagi.
“Entahlah…Untuk lebih jelas, coba tanya secara detail pada pemilik sekarang. Soalnya, dia yang lebih tahu,” ujar si anak tertua. ***

Batam, 28 Februari 2019
(Hasil cakap-cakap kedua dengan Kakande Yusrianto di kantin Bang Et Cendana)

— Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri.***

News Feed