by

Nasi Padang

Cerpen: Fery Heriyanto

Konon, Nasi Padang telah mengubah hidupnya. Dari serba kekurangan menjadi serba jauh dari cukup. Dulu, Wak Fey – begitu orang menyapanya – seorang karyawan swasta yang harus door to door di lapangan untuk menawarkan produk. Namun, pendapatan di lapangan sangat jauh dari beban hidupnya. Tak jarang dia harus “menggali lobang” guna menutupi kebutuhan keluarga. Setelah sekian lama menjadi karyawan, dia mengambil resign dari kerja dan memutuskan berjualan Nasi Padang.

**

“Saya tidak akan melupakan Nasi Padang dalam kehidupan saya. Soalnya, makanan inilah yang telah mengubah kehidupan kami,” ucap Wak Fey saat grand opening komplek “Restoran Nasi Padang” miliknya. Restoran ke-10 yang dia miliki itu paling besar dari sembilan restoran sebelumnya.

“Sekitar 23 tahun lalu, kondisi sosial keluarga kami berada di titik terendah. Untuk mencukupi hidup sehari-hari, saya harus berada di lapangan dari pagi sampai malam. Tak jarang sampai tengah malam. Selain menawarkan produk, aktifitas lain pun saya lakukan agar bisa mendapatkan uang. Setiap hari saya harus bisa ke lapangan. Saya tidak boleh sakit agar bisa memberi makan keluarga,” ucapnya seolah melihat masa lalu dihadapan sekitar 700-an tamu undangan.

Satu hari, lanjut Wak Fey, anaknya yang paling besar ulang tahun, minta Nasi Padang satu bungkus sebagai hadiah.

“Yah, sudah lama kita tak makan Nasi Padang,” ucap Wak Fey menirukan ucapan anaknya.

“Sudah pengen juga merasakan lezatnya bumbu Nasi Padang. Bisa Ayah beli satu bungkus saja? Biar kita makan rame-rame,” ucap anak saya kala itu.

“Hati saya menangis. Bukan saya tidak bisa membelikan Nasi Padang malam itu. Namun, jika dibelikan sebungkus, malam itu juga kami tidak punya uang lagi untuk besoknya. Tidak ada uang jajan anak-anak ke sekolah. Tak bisa beli sedikit beras dan telur. Tidak bisa beli setengah liter bensin motor,” paparnya dengan mata berkaca-kaca.

“Saya sampaikan pada dia, jika Ayah dapat uang lebih, ayah akan belikan Nasi Padang,” tuturnya lagi.

Kala itu, ucap Wak Fey, dia menahan air mata di depan istri dan anak-anaknya.

“Saya tahan air mata ini agar tak jatuh. Saya tahan…Saya seorang ayah. Kepala rumah tangga. Saya harus kuat,” paparnya lagi.

“Besoknya, saat di jalanan, permintaan anak saya itu terus terngiang-ngiang di telinga. Alhamdulilah, hari itu saya dapat sedikit uang. Tanpa menunggu, saya belikan Nasi Padang dua bungkus dan kami makan bersama di rumah. Saat makan, nasi yang saya kunyah seolah tak bisa saya telan. Saya melihat anak-anak sangat bahagia. Karena memang, hampir sembilan bulan mereka tidak pernah makan nasi bungkus Nasi Padang,” terangnya dengan bicara terbata-bata.

**

Komplek Restoran Nasi Padang yang dibangun Wak Fey kali ini memang cukup besar. Selain restoran, ada juga kolam renang, arena bermain anak-anak, mini market, lapangan futsal, serta hotel lima lantai berkonsep syariah. Tak heran jika lahan yang dipakai lebih besar dari lapangan sepakbola. Uniknya, restoran berada di tengah-tengah.

Di hadapan tamu undangan, dia mengaku, bisnis yang dijalaninya itu tidak bisa dilepaskan dari dukungan para sahabatnya dan karyawan yang sebagian besar berasal dari daerah asal masakan itu.

“Warung Nasi Padang yang saya buka awalnya kecil di depan rumah kontrakan. Saya dan istri dibantu anak-anak mengelola usaha ini. Ketika warung itu dibuka, hasil pertama yang kami rasakan, masalah makan keluarga sudah bisa terpenuhi.”

“Saat pertama buka, saya katakan pada istri dan anak-anak, mintalah pada Allah. Doakan usaha kita ini lancar. Tugas Ayah hanya menjemput apa yang kalian minta,” ucapnya lagi.

“Alhamdulillah, tiap hari ada saja warga yang beli. Begitu pula kawan-kawan. Saat istirahat siang, mereka makan di situ. Dan sore hari, ada juga yang datang sekedar ngopi. Lalu, berkat bantuan kawan-kawan juga, Nasi Padang kami direkomendasikan untuk catering karyawan perusahaan, pesta, dan kegiatan-kegiatan lainnya.”

“Alhamdulillah, walau berat pada awalnya, pelan-pelan kami sudah mulai terbiasa. Saya berpikir, mungkin inilah jalan hidup kami. Saya dan istri terus menambah ilmu memasak terutama soal bahan baku dan bumbu pada kawan-kawan atau istrinya yang berasal dari Padang. Saya mendapat banyak ilmu dan pengetahuan dari mereka.”

Setelah sekitar satu tahun berjualan di depan rumah kontrakan, dia mulai memberanikan diri menyewa ruko dan mendapat dukungan tukang masak rekomendasi sahabatnya.

“Alhamdulilah, usaha ini berkembang. Dari satu ruko, kemudian bisa buka cabang di tempat lain. Begitu selanjutnya. Sampai suatu hari tukang masak pertama yang bergabung dengan kami mengusulkan buka di kota lain. Dia juga rekomendasikan karyawan-karyawan yang menurutnya bisa dipercaya,” tuturnya lagi.

**

Grand opening Komplek Restoran Nasi Padang itu terbilang sangat meriah. Tidak hanya dihadiri para petinggi kota, tokoh masyarakat, cerdik pandai, dan masyarakat sekitar, tapi juga hadir rekan-rekan sejawat Wak Fey dan para sahabatnya. Konon, khusus untuk para sahabatnya, tiket pesawat PP disediakan dan menginap gratis di hotelnya. Anak-anak serta masyarakat sekitar lokasi restoran, diberikan kesempatan bermain di taman dan kolam renang secara gratis selama dua pekan. Begitu pula dengan lapangan futsalnya.

Kehadiran Komplek Restoran Nasi Padang Wak Fey langsung mengubah wajah kawasan tempat restoran itu berada. Dulu, lokasi itu hanya sebuah lahan kosong. Kontur tanahnya tidak rata. Berundak-undak. Penuh semak. Lalu, di sejumlah titik ada rawa. Warga sekitar, jarang yang melintas di lahan itu. Namun, posisinya dinilai sangat baik, sebab bisa diakses ke segala penjuru kawasan. Lalu, di sekitar kawasan itu juga tengah dibangun sejumlah komplek perumahan, kantor pemerintahan, sekolah, dan perguruan tinggi swasta. Meski begitu, suasana asri dan sejuk masih sangat dirasakan. Sebab, tidak jauh dari lokasi, ada pebukitan yang masih ditumbuhi pohon-pohon rindang.

**

Malam harinya, di sela-sela waktu santai di lobi hotel, Wak Fey berkumpul bersama para sahabatnya.

“Hari ini saya puas,” ucapnya membuka kata. “Hari ini cita-cita saya lima tahun lalu telah terwujud,” ucapnya lagi.

“Saya sudah bisa membangun rumah makan Nasi Padang di daerah asalnya. Saya sangat senang. Alhamdulillah.”

“Saya sangat berterima kasih pada sahabat semua. Sebab, selama ini sudah banyak membantu saya. Tidak ada pamrih dari bantuan itu. Semua ikhlas. Saya bagai mendapat rezeki sangat besar. Walau saya tidak punya darah Padang, tapi saya sudah menjadi orang Padang. Sahabat semua yang menjadikan saya orang Padang,” ujarnya lagi.

Dipandangnya satu per satu sahabatnya.

“Malam ini, dengan kerendahan hati dan ikhlas, saya serahkan komplek ini pada semua sahabat. Bisnis yang saya bangun selama ini, tidak lepas dari bantuan sahabat. Jadikan ini sebagai penguat silaturrahmi kita, baik di dunia dan di akhirat kelak. Dulu saya telah berjanji, jika berhasil, saya akan bangun rumah makan Nasi Padang ke-10 yang lebih komplit dan lebih besar dari yang sebelumnya di negeri asalnya. Sekarang sudah Allah mudahkan. Mohon diterima…,” ucapnya dengan senyum bahagia sembari menyerahkan seluruh sertifikat bangunan dan tanah komplek Restoran Nasi Padang itu. ***

Batam, 11 Februari 2019

— Fery Heriyanto, alumni Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Mantan anggota Teater ‘O’ USU Medan. Sekarang tercatat sebagai jurnalis di Kepri.***

News Feed