by

Pasien Terduga Suspect Virus Corona di Karimun Bekerja Cleaning Service di Mall Malaysia

KARIMUN (HK)-Kepala Dinas Kesehatan Karimun, Rachmadi mengatakan, pasien yang diduga suspect Virus Corona yang dirawat di ruang isolasi RSUD M Sani yang sebelumnya disebut berjenis kelamin perempuan ternyata laki-laki. Pasien tersebut dikenal dengan istilah Mr X usia 28 tahun.

“Kami mohon maaf, pasien yang dirawat di RSUD M Sani, yang diduga suspect virus Corona tersebut bukan perempuan melainkan laki-laki,” ungkap Rachmadi ketika menghubungi haluankepri.com, Senin (10/2/2020) siang.

Kata Rachmadi, pasien bekerja sebagai cleaning service di mall Malaysia dan sebelumnya memiliki riwayat penyakit TB. Pasien sudah bekerja di Malaysia selama 3 bulan.

Dikatakan, pasien masuk ke IGD RSUD M Sani pada Jumat, 7 Februari 2020 lalu. Saat masuk IGD, yang bersangkutan memiliki suhu 39 derjat celsius.

“Sewaktu berada di Malaysia, pasien memulai keluhan sejak 28 Januari 2020. Keluhannya berupa demam, nyeri kepala, batuk sesekali dan dada terasa tidak nyaman,” terang Rachmadi.

Kata Rachmadi, pasien tersebut datang dari Malaysia ke Karimun pada 30 Januari lalu. Namun, yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala demam sehingga tidak terdeteksi oleh thermal scanner. Namun, sewaktu di Malaysia dia pernah mengalami demam tinggi dan sempat minum obat penurun panas.

Begitu sampai di Karimun, pasien tersebut pergi berobat ke klinik swasta, namun selama pengobatan yang bersangkutan tidak mengalami perubahan. Hingga akhirnya, pada Jumat akhir pekan lalu dia berobat ke IGD RSUD M Sani. Kemudian, ditanya riwayatnya dicurigai mengarah ke n-Cov.

“Karena dilihat riwayatnya dicurigai mengarah ke n-Cov, maka mau tak mau harus diperlakukan seperti kasus n-Cov,” jelasnya.

Menurut Rachmadi, lebih bagus segera diantisipasi daripada kecolongan. Kalau tidak diantisipasi dan ternyata dia benar n-Cov maka akan menjadi resiko. Penanganan yang dilakukan sesuai dengan SOP. Pasien ditempatkan di ruang isolasi RSUD M Sani. Ruangan tersebut bekas poli darah dan terpisah dari ruangan lainnya.

“Pasien kita tempatkan di ruang isolasi yang representatif. Ruangan itu dulunya bekas poli darah. Di ruangan itu kita sediakan 3 sampai 4 kamar. Pasien tersebut kita pantau terus hingga 14 hari lamanya,” ujar Rachmadi. (ham)

News Feed