by

Dinskes Karimun Tingkatkan Kewaspadaan Masuknya Virus Corona

KARIMUN (HK)-Pasien yang terduga suspect virus Corona masih diobservasi di ruang isolasi RSUD M Sani Karimun. Pasien laki-laki yang disebut Mr X usia 28 tahun tersebut warga Kecamatan Rangsang, Kabupaten Meranti. Namun, dia diduga suspect virus Corona sejak kepulangan dari Malaysia.

Sejak mencuatnya pasien suspect virus Corona di Karimun yang dirawat di RSUD M Sani, Dinas Kesehatan makin meningkatkan kewaspadaan terkait masuknya virus yang berasal dari Wuhan, Provisi Hubei, Cina tersebut. Dinkes Karimun terus melakuka koordinasi lintas sektoral dengan institusi terkait.

“Proteksi terhadap masuknya virus Corona ke Karimun makin kita tingkatkan. Intensitas koordinasi dengan lintas sektoral juga lebih sering kita lakukan, khususnya dengan pihak Karantina Kesehatan Pelabuhan yang memiliki kewenangan dalam mendeteksi setiap masuknya penumpang kapal asal Malaysia dan Singapura ke Karimun,” ungkap Kadinkes Karimun, Rachmadi.

Kata Rachmadi, tingginya proteksi penumpang kapal asal Malaysia dan Singapura dilakukan sebab dua negara itu sudah terkonfirmasi ditemukannya kasus virus Corona. Sehingga, setiap penumpang kapal yang berasal dari dua negara itu patut dilakukan pemeriksaan tubuh secara terperinci melalui thermal scanner.

Menurut dia, pemeriksaan tidak hanya dilakukan di pintu masuk pelabuhan saja. Bahkan, petugas kesehatan yang ditempatkan di pelabuhan penumpang kapal Karimun sampai harus turun ke kapal yang berasal dari Malaysia maupun Singapura guna melakukan pengecekan langsung. Bahkan, penumpang juga harus menunjukkan riwayat perjalannya.

“Bukan hanya sekedar mengecek suhu tubuh melalui thermal scanner, tapi kita juga memeriksa riwayat perjalanan penumpang kapal tersebut melalui paspornya. Apabila dalam pemeriksaan itu ditemukan penumpang yang melakukan perjalanan ke Cina maka akan dilakukan pemeriksaan mendalam,” terangnya lagi.

Pihaknya tidak menginginkan kasus seperti yang terjadi pada Mr X terulang lagi. Untuk kasus tersebut, suhu tubuh pasien itu sewaktu masuk ke Karimun dibawah 38 derjat celsius. Sementara, belakangan baru diketahui kalau dia pernah mengalami demam tinggi, nyeri kepala dan batuk.

“Sewaktu berada di Malaysia, pasien memulai keluhan sejak 28 Januari 2020. Keluhannya berupa demam, nyeri kepala, batuk sesekali dan dada terasa tidak nyaman,” terang Rachmadi.

Dijelaskan, pasien tersebut datang dari Malaysia ke Karimun pada 30 Januari lalu. Namun, yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala demam sehingga tidak terdeteksi oleh thermal scanner. Namun, sewaktu di Malaysia dia pernah mengalami demam tinggi dan sempat minum obat penurun panas.

Begitu sampai di Karimun, pasien tersebut pergi berobat ke klinik swasta, namun selama pengobatan yang bersangkutan tidak mengalami perubahan. Hingga akhirnya, pada Jumat akhir pekan lalu dia berobat ke IGD RSUD M Sani. Kemudian, ditanya riwayatnya dicurigai mengarah ke n-Cov.

“Karena dilihat riwayatnya dicurigai mengarah ke n-Cov, maka mau tak mau harus diperlakukan seperti kasus n-Cov,” jelasnya.

Menurut Rachmadi, lebih bagus segera diantisipasi daripada kecolongan. Kalau tidak diantisipasi dan ternyata dia benar n-Cov maka akan menjadi resiko. Penanganan yang dilakukan sesuai dengan SOP. Pasien ditempatkan di ruang isolasi RSUD M Sani. Ruangan tersebut bekas poli darah dan terpisah dari ruangan lainnya.

“Pasien kita tempatkan di ruang isolasi yang representatif. Ruangan itu dulunya bekas poli darah. Di ruangan itu kita sediakan 3 sampai 4 kamar. Pasien tersebut kita pantau terus hingga 14 hari lamanya,” ujar Rachmadi.(ham)

News Feed