by

Gerakan Moral Menuju Kesalehan Individu, Sosial, dan Bernegara

  • Oleh: H. Muhammad Nasir. S.Ag.MH, Kakan Kemenag Lingga

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia adalah negara yang tumbuh dan berkembang sebagaimana bangsa lain untuk terus mempertahankan eksistensi kehidupan bernegara sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai luhur yang di anutnya.

Secara normatif ideologis, nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tercantum dalam Pancasila yang memiliki akar kultur filosifis dalam masyarakat. Pancasila sebagai dasar Negara juga sebagai rujukan dan sumber transsendental sebagaimana dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sila pertama Pancasila menjadi dasar tumbuhnya sikap berketuhanan yang menjadi pondasi kesadaran moral bangsa Indonesia. Hal ini mesti di tanamkan pada warga Negara melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan sejak dini, baik di rumahtangga maupun di sekolah, yaitu kebertuhanan yang menumbuhkan rasa cinta pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban.

Kebertuhanan yang menjadi dasar perilaku bangsa Indonesia merupakan petunjuk suci yang mengalir dalam ajaran masing-masing agama. Secara personal agama mengandung makna komitmen peribadi yang sangat kuat berupa ketundukan secara total kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara sosial agama mengandung makna kebersamaan, semangat kolektivitas, yang mendorong sikap saling tolong menolong, saling manghargai, saling berinteraksi, dan saling melindungi serta saling mendukung satu dengan yang lain. Agama mengajarkan nilai-nilai luhur sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan serta mengajarkan manusia pada kedamaian, cinta kasih dan sayang sesuuai dengan misi kehadiran agama di bumi ini.

Contohnya saja misi agama Islam yang membawa rahmat sekalian alam (Rahmatallil alamin). Ini adalah nilai moral yang harus tertanam dalam kehidupan beragama dan berbangsa sehingga secara religius masyarakat semakin mampu menunjukkan kualitas kesalehannya, baik kesalehan individu, sosial hingga kesalehan bernegara.

Lalu bagaimana nilai-nilai ini dapat tumbuh sehingga Bangsa Indonesia kedepan menjadi bangsa yang tetap mempertahankan peradaban muliya yang selama ini dipertahankan? Sebagai upaya menyelamatkan dan membangun generasi bangsa yang bermoral dan berperadaban muliya, paling tidak beberapa gerakan moral sangat penting dan segera dilakukan diantaranya adalah: pertama, Meneguhkan Nilai Moral Ketuhanan dan Kemanusiaan.
Semangat Ketuhanan merupakan semangat dalam hubungannya dengan Sang Pencipta, yaitu keyakinan yang teguh yang ditandai dengan kesalehan individual. Sedangkan membangun hubungan dengan sesama manusia memperlihatkan semangat kemanusiaan. Semangat ketuhanan melahirkan kesalehan peribadi atau individual, yang ditunjukkan melalui kepatuhan (devotional) dalam menjalankan doktrin pokok agama seperti ibadah formal.

Sementara semangat kemanusiaan melahirkan kesalehan sosial, yang antara lain mewujud (externalized) dalam bentuk empati, dan solidaritas sosial.

Untuk mewujudkan agar nilai moral demikian tetap teguh dalam kehidupan beragama dan berbangsa kita harus lari dari kenyataan banyak masyarakat yang memisahkan antara semangat ketuhanan dengan semangat kemanusiaan atau antara kesalehan individu dan kesalehan sosial. Maka sudah saatnya kita beragama dengan totalitas, utuh, dan menyeluruh sehingga ketika kita beragama kita juga berkemanusiaan dan berkemasyarakatan. Sehingga semangat ketuhanan dan kemanusiaan akan membangun kebijaksanaan yang memadukan hal-hal lahir dan bathin, personal dan sosial serta dunia dan akhirat.

Dari sinilah lahirnya nilai kebangsaan yaitu nilai universal ketuhanan dan kemanusiaan yang hendak ditumbuhkan dalam masyarakat Indonesia yang selama ini menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan yang diikat dalam semangat keindonesiaan.

Kedua, Formulasi Kesalehan Bernegara
Kesalehan bernegara lahir dari kesalehan individual dan sosial. Alfarabi , seorang filsuf muslim yang dijuluki Guru Kedua (al-Mua’allim al-Tsany) pernah menggambarkan kesalehan negara itu dalam bukunya yang sangat masyhur “Negara Utama” (al-Madinah al-Fadhilah).

Negara utama dalam pandangan al-Farabi, dipimpin oleh para filsuf dalam arti orang-orang yang memiliki ilmu dan wawasan yang luas, sehingga mereka memiliki kearifan, wisdom (hikmah). Pemimpin tidak hanya menunjuk kepada kepala negara, tetapi juga para menteri, dan semua pemangku jabatan public (umara). Bahkan dalam pandangan al-Farabi, anggota masyarakat dan seluruh warga dari Negara utama haruslah orang-orang terpelajar yang dalam bahasa modern disebut “Knowledge Society” (masyarakat Ilmu ). Lalu apa saja yang dapat mendukung tumbuhnya kesalehan Negara? Pertama, Filar pemahaman dan pengamalan agama yang menekankan tak hanya pada segi-segi formalisme (lahiriyah semata), tetapi juga pada substansi dan misi profetik (kenabian) dalam mengupayakan kesejahteraan bersama bagi umat dan bangsa.

Kedua, pilar tanggung jawab sosial dalam bentuk amar makruf dan nahyi munkar. Amar makruf bermakna membangun sistem ketaatan dan menanamkan nilai-nilai yang dianggap baik dilihat dari segi agama maupun budaya.
Sementara nahyi munkar, bermakna liberasi dalam arti membebaskan masyarakat dari berbagai kezaliman dan pelanggaran moral seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini sangatlah penting terutama bagi bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa “soft state” yaitu bangsa yang dikenal lemah lembut, toleran terhadap pelanggaran moral.

Ketiga, pilar keadilan, sebagai usaha mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dan bangsa. Setiap orang apalagi pejabat publik wajib menegakkan keadilan untuk tujuan kesalehan Negara. Disamping itu perlu adanya kesadaran baru dalam pemahaman dan perilaku keagamaan kita, bahwa agama memang bertolak dari komitmen diri, dan harus berujung pada kebaikan bersama dan kesejahteraan sosial.

Oleh sebab itu, guna mewujudkan masyarakat berkeadilan sebagaimana dalam rumusan Pancasila, terdapat tahapan yang mesti dilalui dan dilaksanakan secara konsekuen dan bertanggung jawab. Tidak mungkin keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud jika pemimpin tidak menghayati dan setia kepada kebertuhanan, kemanusiaan, keadilan dan semangat menjaga persatuan serta menjunjung tinggi hikmah kebijaksanaan dalam membuat kebijakan public dan kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Pendidikan Kesalehan sebagai Inti Moral
Tingginya ilmu seseorang tanpa dibarengi penghayatan dan pengaamalan tidak cukup efektif membuat seseorang menjadi baik. Oleh sebab itu pendidikan harus mampu membuat seseorang termotivasi untuk melakukan pembiasaan yang baik berdasarkan ilmu yang dituntutnya. Dengan itu Immanuel Khant (1724-1804) mendefinisikan pendidikan dalam dua makna yaitu makna khusus dan makna umum. Makna khusus pendidikan berarti pembiasaan dalam menjalankan prinsif-prinsif akhlaq, sedangkan dalam arti umum mencakup dua hal yaitu: pertama, pengajaran dalam arti menyampaikan konsep-konsep pengetahuan, kedua, menanamkan kebudayaan dan akhlaq dalam diri anak. Dengan demikian pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu menanamkan kebiasaan berakhlaq atau perilaku moral yang baik dalam kehidupan sebagai inti moral bagi manusia.

Oleh sebab itulah Alexis Carrel ( 1873-1944 ) peraih novel bidang psikologi dari Prancis mengkritik sekolah-sekolah umum yang tidak memedulikan pendidikan akhlaq atau moral dalam proses pendidikan. Hal inilah yang seharusnya menjadi pokus dunia pendidikan saat ini. Sudah saatnya ukuran-ukuran moral harus menjadi tujuan keberhasilan pendidikan. Jika tidak , kita khawatir akan tumbuhnya generasi yang mendukung prinsif-prinsif moral tetapi perilakunya tidak mencerminkan sikap moral yang baik, hal ini menurut ahli antropologi budaya disebut dengan “New Morality” yaitu lahirnya moralitas baru yang tidak sesuai dengan semangat ketuhanan dan kemanusiaan yang tersimpul dalam kesalehan, baik kesalehan Individual, kesalehan sosial dan kesalehan bernegara. ***

News Feed