by

Penjahat Cyber Lintas Provinsi Bobol Rekening Warga Karimun Rp50 Juta

KARIMUN (HK)-Ridho Amrullah (25) warga RT 02 RW 02, Perumahan Taman Mutiara Karimun (TMK), Kelurahan Sei Raya, Kecamatan Meral menjadi korban pembobolan rekening oleh jaringan kejahatan cyber lintas provinsi di Indonesia dengan pelaku David, Aris Munandar dan Ade Yuli Herliyana. Korban mengalami kerugian sekitar Rp50.610.000. Sayangnya, otak pelaku berinisial S masih menjadi DPO polisi.

Kasus pembobolan rekening itu terjadi pada Juli 2019 di Ogan Kemiring Ilir, Sumatera Selatan dan seluruh pelaku juga merupakan warga Sumsel. Kasus tersebut saat ini tengah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Karimun. Sebab, korban dan juga saksi saksi lainnya banyak yang berasal dari Karimun.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Karimun, Hamonangan P Sidauruk mengatakan, kasus tersebut berawal ketika DPO inisial S memiliki piutang sebesar Rp2,5 juta kepada David. Pada saat keduanya bertemu di lapangan bola voli, S menagih uangnya kepada David,
namun David tak mampu membayar utang tersebut.

Kemudian, S menawari pekerjaan kepada David untuk mengaktifkan nomor simpati seseorang yang sudah mati di Grapari Telkomsel. Diduga, S telah mengantongi sejumlah nama yang menjadi korbannya. Salah satunya adalah Ridho Amrullah, warga Karimun. Selanjutnya, David meminta bantuan kepada Aris Munandar. Aris kemudian meminta bantuan lagi kepada Ade Yuli meminjamkan NIK dan Kartu Keluarganya.

“DPO inisial S menjanjikan kepada terdakwa David dan Aris agar mengaktifkan nomor simpati korban Ridho Amrullah. Nomor simpati tersebut kemudian diaktifkan dengan mendatangi Grapari Telkomsel. Syaratnya, cukup ada seseorang yang datang ke Grapari dengan membawa NIK dan Kartu Keluarga. Terdakwa Aris kemudian meminta Ade Yulia untuk datang ke Grapari Telkomsel,” ungkap Hamonangan.

Kemudian, Aris menghubungi David melalui telepon yang dipegang oleh S dengan menyatakan kalau nomor simpati milik Ridho telah aktif. Pada saat nomor simpati tersebut aktif, S kemudian melacak data dan identitas korban secara lengkap yang tersimpan dalam nomor Telkomsel yang sudah aktif tersebut. Pelaku juga mengetahui kalau korban pernah menggunakan maybank (aplikasi internet banking).

Begitu data korban sudah disalin secara lengkap, maka S meminta bantuan tersangka lain untuk melakukan transaksi menggunakan data korban. Transaksi sebanyak tiga kali pada 27 Juli 2019. Transaksi pertama pada pukul 13.02 WIB sebesar Rp25 juta. Transaksi kedua pukul 12.04 WIB juga sebesar Rp25 juta dan transaksi ketiga pukul 13.23 WIB sebesar Rp610 ribu.

Pelaku inisial S yang menjadi DPO kemudian membagi hasil kejahatannya. Dia memberi upah kepada David sebesar Rp7,5 juta. Uang sebesar itu kemudian dipotong utangnya kepada S sebesar Rp2,5 juta. Sementara, terdakwa Ade Yuli diberi upah oleh S sebesar Rp5 juta.

“Para terdakwa menggunakan identitas palsu mengatasnamakan korban Ridho Amrullah untuk dapat mentransfer sejumlah uang yang dibobol melalui korban, sehingga uang dapat diaktifkan oleh e-banking. Korban sebelumnya pernah mengaktifkan sms e-banking tersebut,” beber Hamonangan.

Hamonangan menyebut, korban mengaku tidak pernah menerima pesan singkat ataupun email terkait notifikasi kode verifikasi dari maybank. Korban juga mengatakan, kalau dirinya tidak pernah memberikan identitas dirinya kepada orang lain ataupun jasa-jasa penyedia pinjaman ataupun kredit.

Menurut dia, banyak pihak yang diperiksa sebagai saksi dalam kasus ini, termasuk juga pihak Telkomsel karena dinilai begitu mudahnya memberikan nomor simpati yang sudah mati tapi dapat diaktifkan lagi kepada orang lain. Korban mengalami kerugian sebesar Rp50.610.000. Diduga masih ada korban lain lagi di beberapa wilayah Indonesia dengan nilai yang berbeda.

Ketiga terdakwa saat ini sudah diamankan di Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun. Dua terdakwa laki-laki merupakan residivis kasus lainnya, bahkan salah satunya masih menjalani hukuman di sel Rutan Tangerang Selatan, Banten.

“Terdakwa diancam dengan pasal 46 ayat 2 junto pasal 30 ayat 2 UU RI no 11 tahun 2008 tentang ITE junto pasal 55 ayat 1 ke satu KUHP atau pasal 51 ayat 1 junto pasal 35 UU RI no 11 tahun 2008 tentang ITE junto pasal 55 ayat 1 ke satu KUHP dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara,” pungkas Hamonangan. (ham)

News Feed