by

3 Kurir Sabu 118 Kilogram Dituntut Hukuman Mati

TANJUNGPINANG (HK)- Tiga terdakwa dugaan sebagai kurir penyeldupan narkotika golongan I jenis sabu sebanyak 118 kilogram dari Malaysia ke Bintan, yakni Ahmad Jupri (37), Syahrul (38) dan Zaihiddir (36), dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (Kejari) Bintan dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kamis (26/3).

JPU Haryo Nugroh SH dari Kejari Bintan dalam dakwaannya menyebutkan, bahwa perbuatan ketiga terdakwa tersebut dinilai telah terbukti bersalah melakukan tondak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 114 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 2 Undang-undang Narkotika.

“Perbuatan terdakwa dengan tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram dan dilakukan secara terorganisasi,”ujar JPU.

Terhadap tuntutan JPU tersebu, majelis hakim dipimpin Jhonson Fredy Erson Sirait SH didampingi dua hakim anggota Awani Setyowati SH dan Guntur Kurniawan SH memberikan kesempatan kepada terdakwa maupun penasehat hukum yang memdampinginya untuk menyampaikan pembelaan pada sidang sepekan mendatang.

Dalam sidang terungkap, perbuatan terdakwa berawal 6 Juli 2019, ketika terdakwa Zaihddir melakukan komunikasi dengan saudara Beni (DPO) yang menyuruhnya untuk menjemput barang narkotika jenis sabu di tengah laut perbatasan Indonesia – Malaysia.

Kemudian terdakwa Zaihiddir menghubungi saudara Syaiful (DPO) untuk menjemput barang narkotika jenis sabu di tengah laut perbatasan Indonesia – Malaysia tersebut sembari memberikan nomor handphone orang suruhan saudara Beni, yakni saudara Edi (DPO) kepada terdakwa Syaiful untuk mempermudah pertemuan di tengah laut.

Selanjutnya, terdakwa Zaihiddir juga meminta saudara Syaiful, agar narkotika jenis sabu tersebut diserahkan kepadanya. Setelah menerima paketan narkotika jenis sabu lebih kurang sebanyak 70 paket besar dari Syaiful tersebut, kemudian terdakwa Syahrul menghubungi terdakwa Zaihiddir untuk menanyakan kemana barang narkotika jenis sabu tersebut mau diantar.

Lalu terdakwa Syahrul menyuruh terdakwa Zaihiddir atas perintah saudara Beni untuk mengambil mobil di Simpang Lagoi dan memuat sebagian paket narkotika jenis sabu sebanyak 20 paket besar itu ke dalam mobil dan mengantarkan mobil itu untuk ditinggalkan di depan Morning Bakery, Jalan DI Panjaitan, Batu 7 Tanjungpinang.

Selanjutnya, 9 Juli 2019 sekira pukul 16.00 WIB, saudara Beni menghubungi terdakwa Zaihiddir untuk menjemput mobil di bandara Tanjungpinang agar membawa narkotika jenis sabu tersebut dengan muatan sisa sebagian paket narkotika itu untuk diletakkan didepan Toko Jam 10 Tanjungpinang.

Sesuai arahan dari saudara Beni, selanjutnya terdakwa Zaihiddir pergi menjemput mobil yang terparkir di Bandara dan memberitahukan terdakwa Syaiful untuk membawa narkotika jenis sabu ke Toko Jam 10 Tanjungpinang tersebut.

Kemudian saudara Syaiful meminta terdakwa Zaihiddir untuknya di Desa Sri Bintan dan mereka langsung bergerak pergi ke hutan, tepatnya di Senggling untuk membongkar 6 dirigen yang didalamnya terdapat paketan narkotika jenis sabu berjumlah 34 paket. lalu 31 paket dimuat ke dalam mobil. Sedangkan 3 paket besar lagi tidak dapat dimuat ke dalam mobil karena tidak cukup ruang tempatnya.

Lalu terdakwa Zaihiddir menemui terdakwa Ahamad Jupri di rumahnya, Jalan Antasari Gang Riang RT.001 RW. 003 Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan dengan membawa sisa 3 paket paket besar narkotika jenis sabu tersebut dan menitipkannya kepada terdakwa Ahmad Jupri untuk disimpankan.

Selanjutnya,Jumat 16 Agustus 2019 sekira pukul 21.00 WIB. terdakwa Zaihiddir kembali dihubungi oleh saudara Beni dengan memerintahkan untuk menjemput Narkotika di Laut Senggiling, Kabupaten Bintan.

Pada esok harinya yakni, Sabtu 17 Agustus 2019 sekira pukul 10.00 WIB, terdakwa Zaihiddir menemui terdakwa di Parkiran Bus Sekolah yang belokasi di Jalan Raya Tanjungpinang – Tanjung Uban Kilometer 54 Sri Bintan Kecamatan Teluk Sebong, Bintan dan ditempat tersebut terdakwa Syahrul memberitahukan kepada terdakwa Zaihiddir, bahwa narkotika jenis sabu yang diambil oleh saudara Syaiful sudah diamankan (disimpan) di belakang sekolah SMA 004 Bintan, dekat tumpukan kayu.

Sesampainya di belakang SMA 004 Sri Bintan terdakwa Syahrul dan saudara Syaiful menurunkan 8 buah derigen berisi paket besar narkotika jenis sabu dan membongkar isi derigen-derigen tersebut.

Namun pada saat membongkar paketan yang ada di dalam derigen ada paket paketan yang pecah terkena parang dan saat itu setelah dibongkar lalu dihitung oleh terdakwa Syahrul paketannya berjumlah 100 paket narkotika jenis sabu ukuran besar. Sedangkan paketan yang pecah dikumpulkan oleh terdakwa Syahrul menjadi 1 paket ukuran sedang.

Kemudian, Minggu 25 Agustus 2019 sekira pukul 17.00 WIB, terdakwa Syahrul memindahkan 99 paket narkotika jenis sabu yang ada di dalam mobil Toyota Kijang LGX ke dalam 3 buah koper. lalu disimpan di dalam rumah terdakwa Ahmad Jupri. Hal itu, dikarenakan koper tersebut tidak muat untuk mengisi narkotika jenis sabu seluruhnya.

Maka terdakwa Syahrul membiarkan 17 paket besar narkotika jenis sabu lainnya tetap tersimpan dalam mobil Toyota Kijang LGX warna biru, lalu menghubungi terdakwa Zaihiddir untuk memberitahukan bahwa koper tersebut tidak dapat menampung semua narkotika jenis sabu sehingga ada narkotika jenis sabu yang masih tersimpan di dalam mobil Toyota kijang LGX warna biru.

Selanjutnya, Selasa 27 Agustus 2019 sekira pukul 11.00 WIB, saudara Beni menghubungi terdakwa Zaihiddir dan memberitahukan ia mengirimkan sebuah mobil Toyota Fortuner dengan nomor polisi BE 1031 FD warna putih dan terparkir di sebuah Mini Market di lampu merah Tanjung Uban untuk memindahkan dan menyimpan narkotika jenis sabu tersebut yang dibawa oleh terdakwa Ahmad Jupri.

Ketika terdakwa Ahmad Jupri tengah membawa, lalu memberhentikan mobil Fortuner tersebut di parkiran Restoran Seafood Teluk Sebong. Bintan, ia dihampiri beberapa anggota Kepolisian Polres Bintan. Hal itu setelah Polisi mendapat informasi bahwa ada mobil bernomor Polisi BE (Provinsi Lampung) akan digunakan untuk melakukan tindak pidana pencurian.

Selanjutnya terdakwa Ahmad Jupri dilakukan interograsi oleh Polisi dan dilakukan penggeledahan di rumahnya, ditemukan 1 set alat hisap (bong) yang diakui miliknya. Kemudian dilakukan penggeledahan di dalam kamar kosong rumah terdakwa Ahmad Jupri dan mendapati 3 buah koper berisikan paketan ukuran besar yang diduga Narkotika jenis Sabu berjumlah 99 paket yang terbungkus dengan plastik aluminium foil.

Kemudian di dalam mesin cuci ditemukan lagi 3 paket besar yang diduga Narkotika jenis Sabu didalam plastik aluminium foil, termasuk 1 paket sedang yang diduga Narkotika jenis Sabu didalam plastik bening juga 17 paket besar. Pada bagian lantai belakang Mobil Toyota Kijang LGX dengan Nomor Polisi BP 1126 TA yang sudah dimodifikasi.

Kepada Polisi, terdawak Ahmad Jupri mengakui bahwa dirinya ada diberikan upah oleh terdakwa Syahrul berupa uang sebesar Rp.5.000.000. Sedangkan terdakwa Syahrul juga mengakui mendapatkan upah uang sejumlah Rp.15.000.000 dari terdakwa Zaihiddir untuk melakukan antar jemput narkotika jenis sabu menggunakan mobil yang sudah disediakan.

Sedangkan terdakwa Zaihiddir sendiri mengaku mendapatkan upah Rp.50.000.000di setiap transaksi narkotika jenis sabu dari saudara Beni (DPO). Yang mana uang tersebut dibagi 3 dengan rincian Rp.15.000.000 untuk dibagi 3 dan sisanya Rp.5.000.000 dijadikan sebagai uang operasional.

Bahwa berdasarkan Berita Acara Penimbangan di Pegadaian Cabang Tanjungpinang nomor: 436/10260.00/2018 tanggal 2 September 2019 terhadap 119 paket besar dan 1 paket sedang diduga narkotika jenis sabu yang dibungkus dengan plastik Aluminium Foil tersebut didapati berat total bersih (netto) 118,521.97 gram atau 118,5 kilogram. (nel)

News Feed